Deru mesin mobil memasuki halaman. Aku bangkit menghampiri suamiku. Bukan, bukan untuk menyambutnya seperti biasa. Bukan untuk meraih jemarinya agar kucium. Namun, Aku ingin mengingatkan sesuatu pada suamiku itu. Dari dalam mobil avanzanya yang dia beli setahun yang lalu, Mas Dewa menatap heran padaku yang saat ini sedang menunggunya di teras seraya melipat tangan di d**a. Sesekali dahinya mengernyit, matanya menyipit. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya tentang sikapku yang tidak seperti biasanya. Laki-laki tampan yang pernah mengaduk-aduk hatiku itu perlahan turun dari mobil. Pandangannya tak lepas terus menatapku. Aku tersentak saat Mas Dewa mengulurkan tangan memintaku untuk mencium punggung tangannya. Dia memang masih suamiku. Perlahan aku meraih tangan kokoh itu dan menciumny

