Pagi datang dengan cepat. Jenna terbangun dalam kehampaan yang membuatnya kebingungan. Ia mengerang pelan, mencoba memproses cahaya samar yang masuk melalui tirai tebal. Awalnya, ia hanya merasakan berat. Berat di kelopak mata, berat di kepala, dan berat di sekujur tubuh, seolah-olah seluruh tulangnya baru saja diganti dengan timah. Jenna memaksa matanya terbuka. Ia menemukan dirinya di kamar yang sangat besar dan mewah. Sesaat, ia bingung. Ini bukan kaarnya. Jenna tahu itu. "Di mana aku sekarang?" "Aku tidak mungkin ditolong seseorang yang tidak kukenal kan?" Ia sendirian. Ranjang di sebelahnya kosong. Dingin, tanpa tanda-tanda seseorang di sisinya. Namun, saat menyadari sedikit bagian berantakan di seberang sana, Jenna tahu semalam ia sempat berbagi ranjang besar itu bersam

