Tadinya, Alvyna kira dia adalah sosok yang sangat penting untuk Daisy, tetapi setelah menghabiskan kira-kira kurang lebih 1 menit, tidak ada keajaiban yang mampu menyelamatkan Alvyna dari makhluk-makhluk buas di hadapannya ini kecuali atas usahanya sendiri. Maka, dengan tekad yang kuat dan mungkin saja begitu konyol, Alvyna menyerbu salah satu monster yang berada di sebelah kirinya, dengan tinggi sebesar anak sapi seraya berteriak sekencang mungkin.
“Mati, Kau Makhluk Bau!” Teriak Alvyna lalu memukul kepalanya dengan tinju, menendang, dan mencabik mulutnya yang penuh gerigi. Dia melakukannya membabi buta dan setengah sadar. Ketika dia telah selesai dengan satu makhluk, tubuh Alvyna telah berlumuran darah hitam pekat yang sangat kental.
“Siapa selanjutnya, Huh?!” Gertak Alvyna kepada segerombolan penyerang nya, yang sekarang tampak mundur satu langkah. Alvyna tersenyum getir, bukan hanya mereka yang takut dengan Alvyna, dia bahkan sedikit takut pada dirinya sendiri. Dia benar-benar setengah sadar ketika mencabik-cabik monster itu, seolah-olah Alvyna adalah seorang penonton. Dia bahkan tidak tahu siapa yang berada di sana. Dirinya kah? Atau sosok yang lain?
Setelah itu, mereka bersama-sama menerjang Alvyna. Dalam keadaan yang di luar logika, Alvyna kembali bertarung. Dia memukul, menendang, mencabik dengan tangan kosong. Alvyna bahkan tidak tahu lagi berapa lama waktu telah berjalan, atau tubuhnya sudah tidak dapat di kenali lagi karena penuh lumuran darah hitam. Sekarang, menjadi terbalik. Alvyna adalah pemangsa!
Alvyna tertawa. Tawa yang asing. Terdengar sangat gila baginya. Bisa di bilang dia tertawa seperti seseorang yang sedang kerasukan roh jahat, lalu tiba-tiba dia bergidik. “Aku benar-benar seperti sedang kerasukan” Gumam Alvyna ketika sedang mematahkan kaki monster yang dahulunya mungkin saja serigala cantik berbulu indah, yang sekarang ada di tangannya hanyalah seonggok daging hitam yang membusuk.
Alvyna memperhatikan, sejak tadi banyak sekali keanehan yang terjadi. Tadinya, napasnya pendek-pendek seperti sedang terjebak di dalam ruang yang sempit, tetapi entah sejak kapan, dia tidak lagi bermasalah dengan pernapasan. Seolah dia tidak perlu bernapas. Lalu kemana rasa panik dan keputusasaan yang sejak tadi melingkupi pikirannya? Di tambah, kekuatan maha dasyat yang tentu saja bukan dirinya muncul begitu saja.
Alvyna merasakan keanehan itu telah ada sejak pertama kali Dewi Norn memberkahinya, lalu ketika dia tersadar segala sesuatu tampak begitu berbeda. Dia tidak begitu tahu bagaimana menggambarkan perbedaan itu, karena sebelumnya dia belum pernah melihat warna langit apalagi warna cahaya matahari. Namun di mata Alvyna segala warna tampak begitu menyilaukan. Terlalu menyilaukan untuk terlihat oleh manusia. Setidaknya dia tahu itu.
Alvyna melihat tangannya. Sepasang tangan dengan jari-jari panjang dan ramping, sekarang berlumuran darah hitam, dan sedikit darah merah dari luka miliknya yang membaur jadi satu. Dia memperhatikan dengan seksama, seluruh tubuhnya penuh dengan luka. Anehnya, dia tidak merasakan rasa sakit sedikit pun. Alvyna menyeringai, jenis seringaian yang tidak mungkin bisa muncul dari seorang gadis seperti dia. Tanpa di komando, Alvyna bergerak sangat cepat. Secepat kilat yang menyambar di langit, lalu berputar-putar di antara kawanan monster-monster di depannya dan menyerang mereka satu per satu. Lagi-lagi, Alvyna kembali kehilangan kesadarannya sebagai dirinya.
Ketika sekali lagi mendapatkan kesadaran sebagai dirinya secara penuh, Alvyna sudah tidak mampu bergerak. Dia terbaring di atas tanah kering, tandus dan menghitam bersama serpihan-serpihan daging kawanan predator yang bertarung melawannya. Mereka tergeletak tidak beraturan, membusuk dan tidak membentuk. Saat itulah, Alvyna baru merasakan rasa sakit yang amat menyakitkan di sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak mampu menggerakkan se ujung jari pun.
Pandangan Alvyna tampak kabur karena percikan-percikan darah, masuk ke dalam matanya. Samar-samar dalam keadaan hampir kehilangan kesadaran, dia melihat sesuatu. Hal yang paling ingin dilihatnya ketika penglihatannya kembali. Seolah bagaikan keajaiban yang datang secara tiba-tiba, langit yang tadinya berwarna kelabu gelap tidak bergerak, kini perlahan-lahan terbuka. Awan-awan hitam yang tadinya bergumul di satu tempat kini bergerak, membuka diri seperti gerbang cahaya. Lalu munculnya cahaya keemasan. Warnanya sangat emas, sangat terang. Sampai-sampai menembus ke dalam hutan tempat dia terbaring. Menyinari Alvyna seperti lampu sorot.
Alvyna tertawa kecil. Dia letih. Tidak punya tenaga sama sekali. Satu-satunya yang tubuhnya rasakan hanyalah rasa sakit. Namun semua itu terlupakan ketika untuk pertama kali sepanjang sejarah hidupnya, Alvyna melihat warna Langit . Ya, akhirnya dia tahu warna biru langit yang selalu dia lihat di dalam mimpi bersama ibunya. Akhirnya setelah sekian lama, dia dapat melihat dengan matanya sendiri. Perasaan Alvyna tidak tergambarkan. Dia menangis. Air matanya tidak mau berhenti. Sampai akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Seperkian detik sebelum kegelapan melingkupinya lagi, Alvyna melihat satu cocok dengan cahaya yang berpendar keemasan bahkan di tempat yang bercahaya sekali pun. Cahaya perak seperti air yang beriak. Alvyna tersenyum. “Daisy” Bisiknya lirih. Lalu menutup matanya.
***
Ketika Alvyna membuka matanya kembali, dia telah berada di danau. Matanya mencari-cari Daisy. Dia mengernyit bingung saat melihatnya sedang berada di tepi danau, menatap ke dalamnya, berbicara entah kepada apa pun yang ada di dalamnya. Alvyna hanya mendengar sepenggal-sepenggal kata saja. “Dia sudah bangkit..., jemput…, persiapkan.” Alhasil hanya membuat kepalanya berdenyut semakin parah. Dia mengerang kesakitan, membuat perhatian Daisy terusik. Ketika melihat Alvyna yang terlihat semakin payah saja, Daisy segera mengakhiri percakapan.
Dia datang menghampiri Alvyna. “Anda baik-baik saja, Yang Mulia?” Tanyanya.
“Ughh,,,rasanya tubuhku remuk redam.” Balas Alvyna seraya berusaha duduk dengan bantuan Daisy. “Kau, berbicara dengan siapa? Dewi Norn?”
“Tidak, Yang Mulia! Seseorang akan membawa dan melindungi Anda menggantikan saya.” Jawab Daisy tersenyum.
“Apa?!” Teriak Alvyna panik. “Pertama, Kau meninggalkan aku di serang oleh Kawanan Predator Buruk Rupa, dan aku hampir mati menghadapi mereka sendirian! lalu sekarang kau mau melempar aku kepada orang lain?! Huh?!” sembur Alvyna berapi-api. “Kau, Pasti Bercanda kan Daisy?!”
Kepala Alvyna berdentum-dentum semakin keras. Rasanya darahnya naik semua ke atas, emosinya meluap-luap. Alih-alih menjawab Alvyna, Daisy tersenyum berbinar-binar. Saat itulah Alvyna tersadar. Wujud yang telah membuat Alvyna penasaran selama sepuluh tahun lamanya kini berdiri tidak lebih tepatnya melayang di hadapan Alvyna.
Daisy memiliki tubuh seperti manusia pada umumnya, sangat ramping seperti tubuh anak perempuan berusia 9 tahun. Namun bedanya seluruh tubuhnya transparan, seolah itu adalah bagian dari kulitnya. Yang paling menakjubkan transparansi tubuh Daisy di isi oleh cahaya perak yang mengalir seperti air di sungai dangkal. Alvyna bahkan dapat melihat sesekali arah aliran itu berubah arus. Seolah-olah dia seperti melihat sungai melingkar alih-alih tubuh Daisy. Benar-benar menghanyutkan. Sedangkan beberapa bagian tubuh Daisy berwarna sedikit keemasan karena cahaya matahari. Kaki Daisy tidak menginjak tanah. Melayang satu jengkal tangan orang dewasa dari atas tanah. Mata Daisy benar-benar bulat seperti biji kelereng. Hitam pekat seperti bola kristal hitam. Wajahnya mungil. Hidungnya mungil tapi runcing. Bibirnya juga mungil. Namun seluruh bentuk wajahnya itu tidak seperti kulit manusia. kulitnya berisi seperti gumpalan perak berhiaskan oleh sulur-sulur yang membentuk seperti bunga. Warnanya putih keperakan tercampur dengan warna biru dan merah muda.
Selama ini, hal-hal yang di lihat Alvyna bersama dengan memori ibunya selalu terlupa kan setiap kali dia bangun. Meskipun dia sering bertemu dengan sosok Nimfa bangsa yang sejenis dengan Daisy, tetap saja dia tidak dapat mengingat dengan jelas wujud-wujud makhluk supernatural itu ketika Alvyna bangun dari tidurnya. Karena apa yang di lihat Alvyna saat ini, benar-benar membuat dia takjub sampai-sampai dia melupakan amarahnya kepada Daisy dengan usulan tidak masuk akal.
“Mata Yang Mulia adalah hal yang paling indah yang pernah Daisy lihat” Komentar Daisy menyadarkan Alvyna yang sejak tadi memandangi Daisy dengan mulut menganga.
“Wujudmu, bahkan lebih menakjubkan dari apa pun” Balas Alvyna tersenyum. “Tunggu! Bukan saatnya mengangumi wujud kita berdua! Bukankah ada sesuatu yang perlu kita luruskan terlebih dahulu?” Sambung Alvyna seraya berdiri lalu melipat kedua tangannya. Memadangi Daisy dengan mata setajam mungkin.
Daisy tidak terpengaruh oleh amarah Alvyna, dia berputar-putar di hadapan Alvyna sampai-sampai membentuk tornado kecil seraya cekikian.
“Daisy sudah menginformasikan penguasa Fallenheim untuk melindungi, Yang Mulia” Kata Daisy masih berputar-putar kecil.
“Hentikan!” Tegur Alvyna yang mulai merasakan pusing akibat melihat Daisy. Tiba-tiba saja, Daisy berhenti berputar dan menghadap Alvyna. Wajah Daisy yang terpampang secepat kilat di depan wajah Alvyna membuat dia bergeming seraya menahan napasnya.
Alvyna menarik napas dalam-dalam lalu menjawab. “Bukankah seharusnya kau, mengembalikan aku ke rumah?”
“Tidak,,,tidak! Daisy sudah berjanji dengan Yang Teragung Dewi Pengikat Takdir, Norn! Daisy harus membawa Yang Mulia ke dalam perlindungan Raja Fallenheim”
“Tidak!” Bentak Alvyna. “Kau sudah berjanji denganku, untuk membawaku pulang”.
“Daisy Berjanji, untuk memberikan penglihatan kepada Yang Mulia, dengan syarat anda harus bertemu dengan Dewi Norn” Balas Daisy bersikeras.
“Tapi, aku kan sudah bertemu dengan Dewi Norn. Bukankah itu sudah cukup?” Tanya Alvyna harap-harap cemas dengan jawaban Daisy. Dia sudah punya firasat buruk sejak bertemu dengan sang dewi.
“Dewi Norn memerintahkan Daisy, untuk membawa Yang Mulia ke dalam perlindungan Raja”
‘Apa artinya kau tidak mau mengembalikan aku ke rumah?” Tanya Alvyna dengan nada sengit. Amarahnya mulai memuncak perlahan-lahan.
“Bukannya tidak mau, Tapi Daisy tidak bisa. Ini perintah” Jawab Daisy dengan riang. Tanpa berdosa, seolah-olah dia tidak pernah merayu Alvyna untuk ikut bersamanya. Lalu melemparnya ke dalam dunia yang dia percayai sebagai mimpi belaka.
“Kau tidak bisa berjanji dengan seseorang lalu membatalkannya secara sepihak!” Teriak Alvyna penuh rasa kesal. “Bagaimana dengan Arron? Bagaimana dengan Ayahku? Aku bahkan belum berpamitan dengan mereka”.
“Daisy, Lupa memberitahukan sesuatu kepada, Yang Mulia” Ucap Daisy dengan nada lirih. Sedikit terlihat bersalah.
“APA?!” Jawab Alvyna tajam.
“Sejak Yang Mulia datang ke negeri ini, seluruh keberadaan dan ingatan orang-orang di dunia sana tentang Yang Mulia telah terhapuskan” Jelas Daisy perlahan.
Hah! Sudah di duga. Sejak awal Alvyna memang punya firasat tidak baik tentang keberadaannya di Fallenheim. Namun mendengarnya langsung dari Daisy membuatnya sepuluh kali lipat lebih buruk. Alvyna terguncang. Tidak tahu bagaimana bereaksi. Seluruh adrenalinnya membuat dia ingin berteriak. Namun dia terlalu lemah dan tidak berdaya untuk berkomentar sesuatu.
“Termasuk, Arron?” Tanya Alvyna lirih.
“Segalanya” Jawab Daisy.
“Lalu, untuk apa aku berada di sini selain melihat dunia ibuku?” Tanya Alvyna lemah.
“Di sinilah tempat Yang Mulia seharusnya berada”
“Selain itu?” Tanya Alvyna tidak sabaran.
“Negeri ini membutuhkan Yang Mulia”
“Selain ITU!” Tambah Alvyna dengan nada semakin tinggi. Dia tidak tahu berapa kali dia marah-marah dengan Daisy. Biasanya Alvyna tidak pernah bernada tinggi dengan Daisy kecuali Jika Daisy mengganggunya yang kerap kali dia lakukan ketika Alvyna sedang beristirahat di dalam hutan rindang kesukaannya bersama Arron.
“Yang Mulia harus menghilangkan benih kegelapan dari Fallenheim. Lalu menghancurkan sumber penyebarannya. Dan mungkin saja, Yang Mulia harus menghadapi perang” Jelas Daisy dengan enteng. Tampak seperti sedang menjelaskan resep kue pada Alvyna.
“Apa itu benih kegelapan? Lalu bagaimana aku menghilangkan sesuatu yang aku tidak tahu penyebabnya? Memangnya dari mana sumbernya? Apa sumbernya? Coba Jelaksan padaku dengan kalimat yang bisa aku mengerti!” Ucap Alvyna dengan serentetan pertanyaan. “Bagaimana tiba-tiba saja kita membahas PERANG?!”
Jika saja dia punya tekanan darah tinggi, mungkin Alvyna sudah pingsan sejak tadi. Terlalu banyak hal yang terjadi padanya hanya dalam beberapa jam saja atau bahkan mungkin saja menit. Siapa yang tahu bagaimana pergerakan waktu di sini? Tetap saja, Alvyna tidak siap dengan semua itu. Sampai-sampai dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Daisy yang menjelaskan pada Alvyna seperti seseorang yang sedang menjelaskan Bagaimana caranya bernapas!
“Seperti Yang Mulia telah hadapi dan lihat di dalam hutan terdalam, makhluk-makhluk itu dahulunya disebut Para Penjaga. Makhluk-makhluk abadi yang pernah hidup berdampingan dengan para dewa sejak puluhan ribuan tahun yang lalu.” Jelas Daisy duduk bersila di udara. Melayang di hadapan Alvyna yang sedang berkacak pinggang. “Benih kegelapan mengubah mereka seperti itu” Lanjutnya. “Tidak ada yang benar-benar tahu apa itu benih kegelapan. Menurut informasi yang diberikan oleh Dewi Norn. Benih Kegelapan sudah ada sejak 3.000 Tahun yang lalu. Melahap Fallenheim perlahan-lahan.”
“Setiap tempat yang di lalui oleh Benih Kegelapan menjadi mati, Jika terkena tumbuhan akan mengubahnya menjadi hidup dan menyerang manusia. Jika terkena makhluk abadi akan mengubah mereka menjadi predator ganas. Jika terkena Bangsa Fallenheim akan membuat mereka kehilangan kewarasan lalu membuat mereka menjadi Mayat yang tidak mati. Hidup dalam kegilaan sampai seseorang membunuh mereka”
Alvyna mendengarnya dengan tidak sabaran. Tidak terlalu terfokus dengan penjelasan Daisy. Mengingat rasa marahnya masih di ubun-ubun. “Bagaimana dengan Perang?”
“Dewi Non bertemu dengan Oracle Pembaca Takdir. Menurut Sang Oracle, akan ada perang besar”
“Oracle Pembaca Takdir? Apa maksudnya?”
“Mereka __”
“Lupakan! Perang Besar yang kau maksud, Daisy? Apa itu artinya aku harus berperang?!’ potong Alvyna tidak sabaran. Sejak tadi kata-kata yang selalu terngiang di telinganya adalah Perang! Perang!
“Betul, Yang Mulia. Dewi Agung Norn akan menjelaskan kepada Yang Mulia”
“APA KAU SUDAH GILA?!” Teriak Alvyna tidak tahan lagi. Emosinya benar-benar meledak ketika mendengar penjelasan Daisy.
“Kau tidak pernah berbicara tentang Perang! Katamu, Fallenheim Negeri yang damai dan Indah!” Cecar Alvyna seraya mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia tidak sadar sedang menarik-narik rambut emasnya yang bersinar dengan semburat perak. Alvyna yang sejak terbangun dan mendapatkan penglihatannya tidak pernah terlintas di benaknya untuk melihat wajahnya sendiri. Daisy membuat Alvyna melupakan banyak hal.
“Apa Kau sedang menyiksaku, Daisy?” Ucap Alvyna seraya menyipitkan matanya pada Daisy. “Apa kau punya dendam denganku? Huh?”
“Tidak! Tidak!” Jawab Daisy cepet-cepat dan panik. Akhirnya dia bisa panik. Pikir Alvyna kecut. “Daisy, tidak tahu jika hal buruk sedang terjadi dengan Fallenheim”.
“Lalu, apa saranmu sebagai penjagaku yang telah bersama sejak kecil?” Tanya Alvyna menyerah. Berdebat pun tidak akan mengubah keadaan. Pikir Alvyna kesal.
“Selamat Datang di Fallenheim, wahai Putri Terakhir Para Dewa! Angkat Pedangmu! Berperanglah bersama kami!” Seru Daisy berkobar-kobar. Dia jauh lebih semangat daripada Alvyna yang baru mendapatkan keajaiban melihat kembali.
“Hm? Ada kata-kata terakhir?” Tanya Alvyna menyeringai dengan seringai yang terlihat sama gilanya dengan makhluk-makhluk yang sudah di musnahkan nya.
“Kata-kata terakhir?” Tanya Daisy bingung. Lalu menelengkan sebelah kepalanya kepada Alvyna. Melihat Alvyna dengan mata bulat hitam penuh rasa penasaran. Mata Daisy mengikuti Alvyna yang berjalan ke arah sebatang kayu sebesar tangan orang dewasa. Meraihnya lalu menggemgam batang kayu erat-erat.
“Iya, Kata-Kata terakhir yang ingin kau ucapkan?” Lanjut Alvyna masih dengan seringaian konyol yang tampak semakin gila. Alvyna bergerak ke arah Daisy. Seperti makhluk kelaparan yang sedang mengincar mangsanya.
“Mata Yang Mulia adalah hal ter-indah yang pernah Daisy lihat?” Ucap Daisy tidak mengerti apa pun dengan sikap Alvyna. Lalu tersenyum. Betul Daisy tersenyum!
“Beraninya kau tersenyum Dasar Roh Air Penipu!” Teriak Alvyna penuh kekesalan lalu mengangkat gagang kayu di tangannya setinggi mungkin, dan mulai mengejar Daisy seperti sedang kesetanan. Daisy membelalakkan matanya begitu besar lalu secepat kilat meluncur seperti angin tornado kecil dari Alvyna yang mengejarnya.
Maka di mulailah pertualangan Alvyna di negeri antah berantah yang sedang sekarat diikuti sumpah serapah Alvyna kepada sahabat kecilnya yang meluncur seraya tertawa cekikan. Membuat Alvyna semakin jengkel.