Chapter 9

1603 Kata
“Kita bertemu lagi,” Sapa sebuah suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Alvyna. Sejak pertama kali Alvyna tertidur setelah mendapatkan penglihatannya, dia mulai bermimpi. Jika di pikir-pikir, dia banyak sekali bermimpi, hampir-hampir mulai sulit bagi Alvyna membedakan mimpi dan kenyataan. Pada mulanya, di dalam mimpi itu Alvyna sedang berjalan di atas air. Sejauh mata Alvyna memandang, Di sekelilingnya hanya ada kegelapan. Di sana hanya ada satu pencahayaan, yang bersumber dari sebuah pohon. Pohon yang paling besar dan tinggi yang pernah dilihatnya di Fallenheim. Besar pohonnya dapat beberapa langkah orang dewasa sementara tingginya, tidak terlihat ujungnya. Warna cahaya pohon itu berubah-ubah. Di satu mimpi cahayanya berwarna perak. Di kali berikutnya telah berubah menjadi emas. Bahkan pernah berwarna seperti langit di sore hari, atau terkadang berwarna hijau terang. Hanya satu yang tidak berubah. Cahaya gelap yang mengelilingi di seluruh tempat itu. Seakan-akan, kegelapan itu dimaksudkan untuk menutupi pandangan Alvyna. Dia selalu merasa, ada sesuatu di balik kegelapan itu. Namun, dia terlalu takut Untuk memasukinya. “Kenapa tempatnya berubah?” Tanya Alvyna membalas sapaan. “Bukankah, kau yang mengatur tempat ini? kau yang selalu datang ke dalam mimpiku” kata suara itu. “Aku tidak pernah datang ke dalam mimpimu! Berapa kali aku harus menjelaskannya? Kau yang datang ke dalam mimpiku” Dengus Alvyna kemudian berpaling kepada sumber suara. Alvyna bertemu pandang dengan seorang pria berusia pertengahan dua puluhan sedang terduduk di batu besar. Sebuah pedang tertancap di hadapannya. Kali ini, satu-satunya sumber cahaya berasal dari pedang perak miliknya. Tidak ada pohon percahaya seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada air hitam yang mengalir di bawah kaki Alvyna. Yang tampak di mata Alvyna, hanyalah kegelapan. Lalu pedang perak milik pria di hadapannya. Cahaya dari pedang itu, cukup terang untuk menerangi mata nya yang sekarang tampak seperti bola kristal. Lagi-lagi Alvyna terkesiap. Setiap kali dia melihat wajah pria di hadapannya ini, jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak? Wajah pria di hadapannya memiliki wajah yang paling tampan yang pernah Alvyna lihat. Kulitnya terkadang seperti cahaya perak. Putih tidak bercela. Seperti salju baru turun dari langit. Matanya berwarna biru terang seperti langit di musim panas. Tatapannya selalu dalam dan serius. Alvyna yakin, tidak akan ada seorang pun yang berani berpaling ketika telah terperangkap dalam tatapannya. Termasuk dirinya. Bagi orang lain, tatapan dia mungkin sangat mengintimidasi, namun ketika dia melihat Alvyna, seluruh nafasnya seperti tersedot oleh perasaan rindu yang bahkan tidak dia pahami datang dari mana dan untuk siapa. Oleh karena itu, sebisa mungkin, Alvyna mencoba menghindari tatapan pria di hadapannya ini. Sayangnya, kemana pun Alvyna menghindari pandangan nya, terlalu banyak bagian yang terlalu sempurna pada diri pria ini. Contohnya saja, seperti bibirnya yang penuh. Atau rambut peraknya yang sepanjang bahu bagaikan untaian benang laba-laba. Belum lagi tubuhnya yang kekar seperti prajurit perang. Tidak ada cela pada fisiknya yang sempurna itu. Kecuali sifatnya. Dia dingin dan keras. Seolah seluruh beban dunia ada pada pundaknya. Awalnya, alvyna mengira jika dia adalah seorang Dewa. Yang mungkin sengaja datang berkunjung untuk melihat Alvyna. Namun warna rambutnya, adalah khas seorang valkyrie. Sementara itu, Valkyrie hanya Para Dewa Ciptakan dari jiwa para perempuan, sehingga mustahil laki-laki menjadi seorang Valkyrie. Namun di saat yang sama, Alvyna curiga. Mungkin saja dia sama dengan Alvyna. Bukan seseorang yang dicptakan oleh Para Dewa. Melainkan terlahir. "Kau terluka." Kata Alvyna setelah cukup lama memandangi pria di hadapannya. Alvyna hampir lupa bagaimana cara berbicara. "Ini kelima kalinya, kau berbicara," Jawab  Pria itu tanpa mempedulikan kata-kata Alvyna. "Biasanya, kau hanya tersenyum." Sambungnya menatap Alvyna. "Ini kelima kalinya, kau datang ke dalam mimpiku. Sebelumnya aku tidak pernah bermimpi tentangmu" Balas Alvyna bingung, "Apa kau sedang merayuku?" Sambung Alvyna tersenyum menawan. Pria di hadapannya tidak berkomentar apa pun. Lagi-lagi hanya menatap Alvyna dalam diam. Alvyna merasa kikuk dengan perkataan nya sendiri. "Hmm...", Katanya. "Apa kau punya nama?" "Siapa namamu?" Kata pria itu balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Alvyna. Alvyna mendengus frustasi. "Kenapa kau selalu menjawab dengan pertanyaan?" Sekilas, Alvyna melihat sudut bibir dia tersungging naik. Diam-diam, Alvyna berharap dapat melihat bibir itu tersenyum dengan lebih lepas lagi. “Kurasa, kau pasti sudah tahu siapa aku” Jawab dia. Alvyna terdiam. Mukanya datar. Tidak bisa di pungkiri, ada kecurigaan yang telah lama bersarang dibenaknya sejak pertama kali melihat rambut perak itu. “Mungkin saja, tapi aku lebih suka orang yang selalu mengganggu tidurku menyebutkan namanya terlebih dahulu.” “Kau dulu, siapa namamu Wahai Jiwa Tanpa Nama?” Tanya dia. Kali ini benar-benar tersenyum. Untuk pertama kali Alvyna melihat senyum yang tidak tampak seperti sindiran atau cemoohan. Bukan senyum miring yang biasa dia perlihatkan. Bukan pula senyum yang penuh misteri, seolah-olah dia mengetahui rahasia dunia. Melainkan senyum yang ramah. Senyum yang tulus. Seperkian detik, yang seolah terasa sangat lama, Alvyna tertegun tanpa suara. Dengan cepat dia memulihkan dirinya. Alvyna menundukkan wajahnya sesaat untuk menarik napas yang tanpa sadar telah dia tahan. Alvyna menatap mata biru pria di hadapnnya ini, lalu menjawab “Alvyna Zoe Weininger, suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda, Yang Mulia Putra Mahkota, Pangeran Regan Putra Raja Heimidalr” Satu helaan nafas, setelah Alvyna menyelesaikan jawabannya, tiba-tiba saja seluruh kegelapan yang melingkupi mereka tersibak bagai tirai. Alvyna hampir berteriak ketika melihat pemandangan di hadapannya. Sekarang tidak banyak lagi hal yang membuat dia terhenyak. Mungkin karena dia sudah cukup terbiasa melihat negeri Fallenheim melalui mimpi bersama ibunya. Bahkan dalam beberapa tahun belakangan ini dia sudah bisa beradaptasi dengan Fallehnheim. Akan tetapi, hal yang sekarang sedang disaksikannya terlalu mengerikan untuk tidak membuat Alvyna terperangkap dalam ketakutan. Tadinya Alvyna kira, Pangeran Regan terduduk bersandarkan batu besar. Ternyata itu adalah seonggok tanah berwarna hitam. Seperti lahar yang tersiram air. Lalu berbentuk sebuah kepala. Sekilas, dia melihat mata meleleh, berbetuk lumpur hitam. Mengalir menggenangi sekeliling tubuh Pangeran Regan. Alvyna dapat melihat, bukan hanya ada stau kepala di sana. Dengan wuud yang sama. Melainkan sejauh mata Alvyna memandang, mungkin ada ribuan kepala raksasa yang tergeletak di sana. Tidak ada tubuh. Hanya kepala raksasa yang mengeluarkan bau belerang. Bau? Pikir Alvyna keras. Bagaimana mimpi dapat membuat Alvyna mencium sesuatu? Alvyna berjuang untuk supaya tidak panik lalu muntah. Atau berteriak seperti gadis-gadis remaja yang tidak di undang ke Pesta Kerajaan. Seperti yang biasa di lihatnya di kota-kota ketika dia sedang melakukan perjalanan untuk menjalani tugas-tugas dari Para Dewa. “Sial” Pangeran Regan mengeryit. “Aku tidak bermaksud kau melihat hal ini,,,” “Sudah terlambat,” kata Alvyna muram. Matanya kembali berkeliling. Lalu dia terpaksa menutup mulutnya supaya tidak keluar kata-k********r. Bukan hanya kepala raksa-raksasa yang berbentuk tidak wajar, sekarang Alvyna dengan jelas dapat melihat tempat Alvyna berdiri adalah sebuah padang tandus yang gersang. Dengan tanah yang mulai retak-retak. Langit di atasnya berwarna abu-abu, bergumpal-gumpal awan hitam menutupi hampir seluruh permukaan langit. Lalu 100 meter dari Alvyna, tornado ganas sebesar pohon-pohon Sage dari Perbukitan Atas, bertengker disana. Tidak bergerak tetapi tidak juga berhenti menggumpal-gumpal. Bukan hanya satu, Alvyna dapat melihat ada 9 tornado yangtidak bergeming. Tampak seperti tiang-tiang raksasa ganas. “Bukankah ini mimpi?” Tanya Alvyna sangat bingung. Akan tetapi, dia belum kehilangan akal sepenuhnya, sampai-sampai dia tidak dapat membedakan antara mimpi dan kenyataan. Uap panas yang menerpa Alvyna lalu suara tornado yang ising bergemuruh di sekitar Alvyna, sehingga mustahil jika ini adalah mimpi. Bagaimana dia bisa berada di sana? “Aku pikir, aku sudah mati” Kata Pangeran tidak goyah. “Aku hanya bertemu dengan mu di dalam mimpi,” Sambungya, “Atau kematian.” “Kau memang tampak sekarat” Komentar Alvyna tajam. Dia tidak bermaksud, rasa takutlah yang membuat dia lebih galak dari biasanya. Pangeran Regan tidak membalas komentar Alvyna. Dia terbatuk-batuk lalu menarik napas dengan susah payah. “Jika aku memang masih hidup, kau tidak seharusnya berada di sini” Katanya. Menatap Alvyna dengan muram. Matanya berkilat oleh sesuatu yang tidak di mengerti Alvyna. “Apa aku terlihat punya pilihan?” Kata Alvyna. “Singatku, saat ini harusnya aku sedang tidur! Lalu bagaimana caranya aku ada sini?” Alvyna sekarang gusar. Terlalu banyak hal yang tdak dia ketahui, dia benci hal itu. Bagi Alvyna ketitaktahuan adalah kelemahan terbesar dalam hidupnya. Dia lebih memilih menghadapi rintangan itu. Sepahit apa pun itu. “Aku bahkan belum punya jawaban kenapa kau datang ke dalam mimpiku selama ratusan tahun.” Kata Pangeran Regan terlihat semakin lemah. Alvyna melihat Pangeran Regan semakin pucat. Kulitnya yang sudah putih sekarang malah semakin tampak putih seperti warna langit di atas mereka. “Aku baru empat kali bermimpi bertemu denganmu,” Jawab Alvyna,“Jika hari ini juga dihitung, maka baru lima kali! Bagaimana bisa ratusan tahun?” Pangeran Regan tampak ragu-ragu sebelum menjawab, “Mimpiku, sudah ratusan tahun,,” dia terbatuk lagi. Lalu sekali lagi menarik napas panjang. Dahinya mengeryit menahan sakit. Alvyna tidak tahu dimana dia terluka. Di mata Alvyna, Pangeran Regan tampak tidak terluka sedikit pun. Tidak mungkin dia baik-baik saja setelah membunuh ratusan raksasa-raksasa itu. Pikir Alvyna. Alvyna sendiri tidak tahu dan tidak pernah melihat raksasa seperti yang tergeletak di atas tanah ini. “Berarti ini adalah mimpimu.” Sambung Pangeran Regan dengan susah payah. Alvyna tidak berkomentar lebih jauh ketika melihat Tiang-tiang Tornado yang tadinya tidak bergeming, sekarang dengan ganas mulai berpindah-pindah tempat. Satu tiang ke tiang berikutnya. “Sepertinya kita bisa membahas hal itu, nanti saja” Kata Alvyna cepat-cepat. “Kita benar-benar akan mati jika tidak bergerak dari sini” “Bisa bantu aku berdiri?” Tanya Pangeran Regan. Alvyna mengangguk cepat, lalu melesat ke tempatnya. Tanpa ragu, Alvyna menarik Pangeran Regan berdiri. Membantunya menyeimbangkan diri. Lalu menahan tubuh Pangeran dengan tubuhnya. “Kau benar-benar nyata” Desah Pangeran Regan pelan. Tanpa menggubrisnya, Alvyna menarik, tidak! Lebih tepatnya menyeret tubuh pangeran bersamaan dengan tubuhnya, lalu mulai berlari menjauh dari kejaran Tornado yang tampak seperti sedang mabuk.         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN