Kembali menutup pintu, Ziva menghampiri Abian. Ia duduk di sebelah Abian yang masih dalam posisi sebelumnya saat mereka berbicara.
"Aku wajib loh marah sama kamu." ucap Ziva yang melipatkan kedua tangannya dibawah da*anya.
"Aku tau.."
"Kenapa coba?" tanya Ziva dengan wajah mengejek Abian.
"Karena aku nyusahi kamu kan.." ucap Abian dengan nada bicara yang sangat pelan.
"Sadar ya." ucap Ziva.
"Maaf udah nyusahi kamu va.. Makasih juga udah nyadari aku. Aku jadi kepikiran sama ucapan kamu tadi."
"Barusan aku telefon mbak.. Minta tolong buat jagain Fellysia lagi. Tapi kali ini jagain Fellysia 24 jam. Kecuali hari minggu."
"Terus apa kata mbak?" tanya Ziva.
"Mbak mau.. Malah mbak senang banget mau ngejagain Fellysia lagi. Senang banget aku minta tolong ke dia lagi.." jelas Abian.
"Tapi.. tabungan kamu ini apa cukup untuk gaji mbak sampai kamu dapat kerja?" tanya Ziva yang sudah mencampuri isi dompet Abian.
Abian diam.
Memikir-mikirkan lagi rencananya yang ingin menyerahkan Fellysia ke mbak.
"Cari kerja sampingan.. Katanya mau mandiri.!" ucap Ziva sambil melepaskan lipatan tangannya.
"Tapi akukan belum lulus va. Pengalaman kerja aja aku nggak punya." ujar Abian.
"Nggak harus pakai lulusan.. Mau kerja apapun bisa kalo kamu memang niatnya kerja. Nyuci mobil atau pengisi bensin, kan lumayan juga gajinya." ujar Ziva menasihati Abian.
"Ih!! Nggak mau lah! Panas. Aku maunya kerja dikantor." ujar Abian.
"Kalo udah mau miskin itu nggak usah milih-milih kerjaan. Kerjain apa yang bisa di kerjakan. Yang penting halal!" ucap Ziva sambil menimpuk Abian dengan bantal sofa.
"Ih..." keluh Abian dengan wajah seakan merajuk.
"Iuhh.." spontan Ziva yang naji* melihat ekspresi Abian.
Abian pun langsung mengambil posisi normalnya seakan-akan ia tak melakukan hal yang menggelikan.
Tapi urat malu yang putus tadi tersambung lagi.
Dengan santai Abian jalan menuju kamar dengan alasan untuk melihat Fellysia.
Padahal ia sedang melarikan diri dari rasa malunya di hadapan Ziva.
"Hah... Malu kali aku!!" ucapnya sambil menempelkan jidatnya di balik pintu setelah menutup pintu itu kembali.
Membayangkan sifatnya tadi membuat ia menjerit tanpa suara sambil mengigit gumpalan tangan kanannya.
Juga memukul-mukul udara akibat malu yang menggebu-gebu.
"Bian.." panggil Ziva sambil membuka pintu kamar.
Abian pun langsung kembali normal dan berjalan menghampiri Fellysia yang terbangun sambil merenggangkan badannya.
Ziva yang melihat Fellysia terbangun juga menghampirinya.
Fellysia tersenyum riang sambil menampakkan keempat gigi atasnya yang masih kecil-kecil.
Fellysia duduk dan langsung merangkak menghampiri Ziva yang duduk di sebelah kanannya.
"Nen.." ucap Fellysia yang belum jelas berbicara sambil memegang payu*ara Ziva.
"Hhahha.. A-a-aku kedapur dulu ya.. Mau masak air." ucap Abian meninggalkan Ziva dan Fellysia dikamar.
Abian langsung keringat dingin. Seakan mau terjun dari atas tebing yang paling tinggi.
"Tahan.. tahan.. tahan.."
"Abian.. jangan norak. Beranda instag*am kamu penuh akun se*si. Jadi kalo liat yang as-" ucap Abian terputus akibat mengingat kejadian itu.
"Ih kan.. noraknya.." ucapnya tertawa kecil karena merasa sangat bodoh.
Hanya dengan membayangkan kejadian itu, birdnya menjadi keras.
Benar-benar norak.
Abian keluar balkon mencari udara segar dan menenangkan birdnya.
Sementara Ziva dikamar sedang memberikan asi bohong kepada Fellysia.
"Udah ya nyedot asi bohongnya.." ucap Ziva sambil melepaskan puti*gnya dari mulut Fellysia dan merapikan pakaiannya.
Ziva pun menuju ruang dapur untuk mengambil s**u Fellysia diatas meja makan yang dibuat Abian.
Ziva mendudukkan Fellysia dengan posisi sedikit tidur agar lebih santai saat Fellysia meminum s**u.
"Kamu bisa temenin aku ngantar Fellysia kerumah mbak?" ucap Abian yang baru saja menutup pintu balkon.
"Kapan?" ucap Ziva yang membelakangi Abian karena sedang mengaduk bubur untuk makan Fellysia.
"Siap ini." ucap Abian mengatakan kalau mengantar Fellysia kerumah mbak setelah selesai Fellysia makan.
"Yaudah.. Kalo gitu kamu kamar gih. Susuni pakaian sama barang-barang Fellysia ke koper. Tapi sisihkan dulu pakaian untuk Fellysia mandi nanti." perintah Ziva kepada Abian.
"Oke bos." ucap Abian membalas perintah Ziva sambil mencium pipi gembul milik Fellysia.
Fellysia memakan lahap bubur anak-anak yang diseduh Ziva dengan air panas.
Ziva juga mendinginkan bubur itu dengan cara meniup-niupnya agar tidak terlalu panas.
Benar-benar si gembul banyak makannya.
Setelah kenyang perutnya, Fellysia mengeluarkan gas dari bawah dengan suara yang cukup deras.
"Fellysia." ucap Abian tertawa mendengar suara angin adiknya yang sangat deras diusia segini.
Tak lama menyusul bau gas yang tidak sedap dengan ekspresi jelek Fellysia seakan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.
"Udah nggak iya ini." ucap Ziva tertawa yang paham sama ekspresi Fellysia yang ingin buang air besar.
Ziva pun buru-buru menggendong Fellysia ke kamar mandi.
Segera membuka celana Fellysia yang belum terkena noda kotoran dan mendudukkan Fellysia di wc closet sambil memegangi Fellysia.
"Ih." sambil tertawa lucu melihat Fellysia yang masih bayi diduduki di wc closet.
Fellysia pun ikut tertawa sambil mengeluarkan kotoran di bawah.
Setelah Fellysia BAB, Ziva pun memandikan Fellysia dengan sabun khusus anak-anak yang mereka beli beberapa hari lalu.
Ziva juga memakaikan pakaian panjang untuk Fellysia agar tidak kedinginan.
Mengenakan topi bergaya berwarna merah muda dengan kaus kaki bergambar yang juga berwarna merah muda.
"Wanginya nak gadis.." puji Ziva yang mencium wangi minyak telon di tubuh Fellysia.
"Bian.. Barangnya Fellysia udah beres semua?" tanya Ziva kepada Abian yang duduk di seberangnya sambil memerhatikan Fellysia.
"Kamu masih belum rela jauh dari Fellysia?" tanya Ziva sekilas melihat ekspresi sedih Abian.
Abian menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya melalui hidung.
Seakan sedang meringankan beban yang ia tanggung.
Fellysia bukan beban untuknya. Tapi, jauh dari Fellysia membuat ia terbebani.
Mau gimana lagi.. Ini jalan terbaik untuk Fellysia dan Abian.
Tanpa patah kata, Abian berdiri dari posisi duduknya. Mengangkat tas dan menarik koper milik Fellysia. Diikuti Ziva yang menggendong Fellysia.
Ziva jadi tak tega melihat Abian. Abian mencoba menutupi kesedihannya, tapi Ziva tak bisa dibohongi.
Sesampainya di parkiran apartemen, Abian menaruh tas dan koper milik Fellysia di bagasi belakang mobil.
Sedangkan Ziva sudah duduk di kursi penumpang yang ada didepan sambil mengajak Fellysia bercanda.
Abian masuk duduk di sebelah Ziva untuk menyetir mobil.
Selama diperjalanan Abian tak ada bicara apapun. Di dalam mobil, hanya terdengar nyaringnya tawa Fellysia.
Abian memberhentikan mobil di bahu jalan.
"Kenapa bian..?" tanya Ziva kepada Abian saat mobil yang mereka kendarain terparkir di bahu jalan.
Ziva mendengar suara pengaturan nafas yang sangat berat dari hidung Abian.
Sekarang.. sosok Abian yang lemah sedang ada di hadapan Ziva, wanita yang ia sukai dari semester awal.
Abian yang sedang meletakkan dahinya di atas setir sambil mengatur nafasnya, tiba-tiba merasakan sentuhan tangan mungil milik Fellysia.
Ziva sengaja meletakkan Fellysia tepat di sebelah Abian.
Ia melebarkan kedua tangan Fellysia agar bisa memeluk seperempat tubuh Abian yang cukup besar untuk porsi tubuh Fellysia.
"Jangan sedih ya.. kita bakal sering ketemu." ucap Ziva seolah Fellysia yang sedang membujuk Abian.
Abian memeluk Fellysia sangat erat. Benar-benar tidak rela melepaskan adik semata wayangnya itu.
Ia menciumI kedua pipi gembul milik adiknya.
"Kiss abang dulu.." ucap Abian sambil mengarahkan pipi sebelah kanannya ke Fellysia.
Fellysia mencium pipi kanan abangnya itu tanpa ada suaranya.
"Sebelahnya??" lagi Abian mengarahkan pipi kirinya ke Fellysia, dan lagi Fellysia mencium abangnya yang sedang dalam mode manja.
"Jangan lupain abang ya.." ucap Abian sambil memeluk erat adiknya itu.