Swalayan

1106 Kata
Selesai mandi dan menggunakan segala pakaian, Ziva mengucir dua rambut Fellysia dengan poni selamat datang yang dibiarkan rapi di dahinya. Fellysia makin terlihat menggemaskan.. "Udah siap.. Kita berangkat yuk.." ucap Ziva mengajak pergi berbelanja kepentingan dapur. "Ih.. kok Fellysia makin cantik ya.." ucap Abian sambil menggendong adiknya dan mencium pipinya. "Kita mau pergi kemana ya...?" ucap Abian untuk menyenangkan hati Fellysia. Benar saja, Fellysia langsung kegirangan sambil tepuk-tepuk tangan. "Makasih udah mau mandikan Fellysia." ucap Abian menirukan suara Fellysia sambil mengarahkan tangan Fellysia ke pipi Ziva. "Makasih juga udah nggak rewel waktu di mandikan.." balas Ziva sambil mengusap-usapkan telapak tangan Fellysia tadi ke pipinya sendiri. Fellysia pun tertawa senang. Mereka bertiga sampai diparkiran yang terletak di baseman apartemen. Kali ini Fellysia dipangku oleh Ziva yang duduk di kursi penumpang di samping Abian. "Kita sarapan bubur ayam aja ya? Yang di depan s*bu. Jadi nanti punya Fellysia bisa buburnya aja." ujar Ziva menyarankan menu sarapan pagi kali ini. "Oke va." balas singkat Abian. "Sebenarnya..." "Kalo mau nyeritain masalah kalian, jangan ada Fellysia. Nanti aja, waktu Fellysia tidur siang." ucap Ziva memotong pembicaraan Abian. Abian pun mengangguk menandakan bahwa ia mengerti maksud Ziva. Sesampainya mereka di tempat tukang bubur ayam, Ziva langsung memesan dua mangkok bubur ayam spesial. Satu mangkok buburnya saja tetapi dengan porsi sedikit. Dengan dua gelas teh manis hangat dan air putih hangat satu gelas. "Meli mana va?" ucap ibu penjual ayam bubur yang saat mengantar pesanan mereka. "Meli dirumahnya bu. Ngerjain tugas, banyak banget katanya. Sampai nggak tidur dua hari ini buk." ucap Ziva menjelaskan alasan Meliana tak datang untuk makan bubur ayam. Bubur ayam disini sudah menjadi langganan Ziva dan Meliana dari awal masuk kuliah. Makanya mereka berbicara dengan sangat santai. "Aduuuhh. Setres kali dia pasti itu. Ibu rasa pun dia nggak lagi sempat sisir rambutnya ya kan." ucap ibu penjual bubur ayam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mungkin buk.." balas Ziva sambil tertawa kecil. Sementara itu Meliana yang tidak sakit, udara yang normal bahkan tidak ada debu yang melintas di dekat hidungnya, tiba-tiba saja ia bersin. "Siapa sih yang lagi nyeritain aku?" ucap Meliana sendiri sambil mengusap-usap hidungnya yang gatal. Lalu, Abian menyantap sarapan semangkok bubur ayam spesial yang penuh dengan suwiran ayam goreng tanpa diaduk. Sedangkan Ziva juga sangat menikmati makanan favoritnya itu dengan mengaduk bubuk ayam menjadi satu. Enak banget.. Duduk di atas meja yang dihadapkan di depan Ziva, Fellysia melahap dan sangat menikmati setiap sulangan yang diberi oleh Ziva. Bayi yang baik, setiap Ziva telat memberinya sulangan, ia mencoba menyulangi dirinya sendiri. Yang membuat celemek dan bajunya kotor. Fellysia merengek karna bubur yang di mangkoknya habis. Ia mau lagi. Fellysia sangat lapar. Akibat kemarin malam tak diberi makan oleh Abian. Dasar Abian.. "Fellysia masih lapar? Mau bubur lagi?" tanya Ziva sambil menunjuk bubur miliknya. Sambil merengek, Fellysia mengangguk-anggukan kepalanya. Ziva pun langsung memesankan lagi bubur untuk Fellysia. Fellysia yang tak sabar, meraih sendok bubur yang ada di tangan Ziva. "Ini pedas ya sayang. Nanti Fellysia ke pedasan. Itu bubur Fellysia udah datang." ucap Ziva sambil menerima pesanannya tadi. Ziva pun langsung menyulangi Fellysia yang masih lapar. Tanpa kita suruh 'Aaaa', Fellysia sudah membuka lebar mulutnya. Ia kembali gembira karena keinginannya menambah bubur sudah terturuti. "Kan.. Abian.. Fellysia benar-benar lapar." ucap Ziva kepada Abian yang lalai memberi makan Fellysia. "Maafin abang ya karna nggak kasih kamu makan malam kemarin." ucap Abian sambil mengelus punggung kaki Fellysia Setelah selesai makan, Ziva membersihkan tangan serta mulut Fellysia yang terkena bubur tadi dengan tisu basah. Lalu Fellysia di gendong Abian dan Ziva membayar uang bubur ayam. "Berapa semua bu?" tanya Ziva ke ibu penjual bubur ayam sambil membuka dompet Abian. Karena sewaktu di meja makan tadi, Abian mengeluarkan dompetnya dari saku celana ke atas meja yang mereka tempati. "55.000 sama teh manisnya va." "Nih bu..." Ucap Ziva sambil menyodorkan uang selembar berwarna merah yang bergambarkan wajah Bapak Soekarno dan Bapak Mohammad Hatta. "Ibu kira itu sugar daddy kamu va. Rupanya ibu dengar manggilnya kakak sama abang." ucap ibu penjual bubur ayam. "Tadi waktu ibu nampak kalian turun, ibuk mikir... Ih, Ziva sama duda mana tuh? Pintar juga dia milih duda. Wes ganteng, mobilnya keren, anaknya lucu lagi.. komplit ah!" lanjut ibu penjual bubur ayam yang tadi mengira kalau Abian duren (duda keren) anak satu. Siapa pun yang melihat mereka pasti akan berfikir kalau mereka pasangan suami-istri. Dengan sang ayah yang sedang menggendong anaknya yang menggemaskan. Ziva yang mendengar celotehan ibu itu dibuat terkejut sampai mengerutkan alis dengan dahinya. Bahkan ia sangat kesal karna ucapan ibu itu. "Ibu ini ada-ada ajalah.." ucap Ziva sambil menerima uang kembaliannya. "Tapikan nggak apa-apa kalo kalian beneran nikah,," cetus ibu itu. "Jangan bu... Saya luan ya ibu. Makasih ya bu.." ucap Ziva. "Terima kasih ya bu,," ucap Abian sambil sedikit sekali mengganggukkan kepala. Ziva, Abian dan Fellysia pun memasuki mobil, dengan Fellysia yang tetap di gendong oleh Abian. Di dalam mobil, Ziva mengembalikkan dompet milik Abian yang tadi ia pegang Ziva untuk ngebayar sarapan bubur mereka. "Pegang aja. Belanjaanku sama belanjaanmu nanti bayar pakai uang atau katu kredit yang di dompetku aja." ucap Abian. Tentu saja,,, Ziva tidak menolaknya. Ia pun memasukkan dompet Abian ke dalam tasnya. Memang Ziva tidak suka cinta, tapi ia tetap suka uang. Walaupun ia punya uang sendiri, tapi rezeki tidak boleh di tolak. "Jangan nyesal ya. Kamu tau sendiri, belanjaanku banyak. Kamu tau juga kalo aku nggak segan-segan ngambilnya." ucap Ziva memperingati. "Tau tauuuuu." ucap Abian paham sambil tersenyum-senyum. Mereka bertiga sampai di sebuah swalayan terbesar dikota mereka. Di swalayan itu semuanya lengkap. Dari makanan pokok, pakaian, makanan ringan, buah-buahan, aneka minuman dan lain-lain. Fellysia dengan santainya duduk di bagian keranjang yang memang khusus untuk dudukan bayi. Tiga keranjang sorong penuh diisi dengan keperluan mereka. Beras, sayur-sayuran, bumbu dapur, buah-buahan, cemilan, keperluan masak juga beberapa keperluan Fellysia yang tidak ada dan masih banyak lagi macamnya. Oh ya,, Ziva juga membeli hampir semua skincarenya yang habis. Memang tak tahu diri. Cinta Abian di tolak, tapi uangnya ia terima. Abian mendorong dua keranjang di tangannya yang salah satu dari keranjang itu diduduki Fellysia. Sedangkan Ziva mendorong satu keranjang yang sudah penuh dengan keperluan dapur tapi masih ada yang harus ia ambil. "Kalo keranjangnya nggak muat, biar aku ambil lagi ke depan?" ucap Abian yang melihat Ziva sedang memungut botol lada bubuk yang jatuh dari keranjangnya. "Nggak usah.. ini juga udah selesai." ucap Ziva. "Emang udah semua? Nggak ada yangmau di tambahi lagi? Nggak ada yang mau diambil lagi?" tanya Abian. Kalau setiap bulan Abian menawarkan Ziva belanja seperti ini, bisa-bisa baru lima bulan, Abian sudah jatuh miskin. Tabungannya habis semua. "Ini aja." ucap singkat Ziva yang sebelumnya mikir barang apa yang belum ia beli.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN