Setelah semua yang terjadi dan sunyi kembali menyita, Ishana duduk di tepi kolam ditemani sebotol wine serta gelas dengan gagang tinggi di sebelahnya. Kakinya menyepak air, berusaha menimbulkan riak ketika kepalanya tertunduk. Sejatinya Ishana tengah galau karena sampai detik ini segudang pesan yang dia kirimkan kepada Tristan belum dibalas sama sekali. “Menyebalkan!” dengkusnya sambil meneguk dari gelas bergagang tinggi, Ishana juga tak tahu apakah Tristan sudah membalas pesannya atau belum karena lelaki itu mematikan mode centang biru yang menandakan bahwa pesan sudah terbaca. Freya yang menemukan adik sepupunya tengah terpekur ditepi kolam lantas mendekat kemudian duduk di sebelahnya lalu mencelupkan kedua kaki, meniru apa yang dilakukan oleh Ishana. “Kamu kenapa? Kok murung banget

