“Sebenarnya Andre ini ke mana?” tanya Tristan dengan diri sendiri. Jemarinya sibuk menuliskan pesan untuk Andre, tetapi tidak juga mendapat jawaban. Dia juga sudah berusaha menghubungi pria itu, tetapi hasilnya tetap saja sama. Andre seperti hilang ditelan bumi. Tristan kembali menekan nomor ponsel Andre dan mendekatkan ponsel di telinga. Ini adalah percobaan yang kesekian kali. Padahal tadinya Andre bilang ingin keluar sebentar, tapi kenapa malah menjadi lama? Kalau saja bukan orang kepercayaannya, Tristan pasti sudah memaki Andre sampai habis. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Tristan yang mendapatkan jawaban yang sama pun membuang napas kasar. Kakinya berhenti bergerak dan memilih duduk, berharap kekesalannya akan memudar. Dia mencoba menenangkan emosi dalam hatinya. “Kenapa, Tri

