Ishana …. Ya, hanya nama gadis itu yang kini terus melekat di dalam pikiran Tristan. Bagaimanapun caranya, Tristan harus bisa menemukan Ishana. Perasaannya begitu tidak tenang. Terlebih Ishana menghilang setelah mereka bertengkar. Apa ini salahnya? Apa Tristan bisa menyalahkan dirinya atas hilangnya Ishana? “Ishana!!” Tristan berteriak sementara kakinya terus melangkah masuk ke dalam hutan. Semakin dalam hutan ini semakin gelap, minimnya penerangan membuat Tristan mengeluarkan ponsel dan menyalakan lampu flash kameranya. “Ishana!!” Setiap beberapa meter Tristan melangkah, Tristan kembali meneriakkan nama gadis yang mencintainya itu. Mengingat bagaimana perjuangan gadis itu mendekatinya, semakin besar juga rasa bersalah itu Tristan rasakan saat ini. 1 meter … 2 meter … 3 meter … Ah,

