“Mama … mama ….” Irel kembali menjerit. Shaqa tak kuasa menahan rontaan gadis kecil yang sudah tumbuh semakin besar. Dia menyerahkannya pada Sissy dan meminta mereka membawa kedua cucunya keluar rumah untuk berbelanja di toko serba ada yang tak jauh dari rumah mereka. “Mami … kenapa?” Shaqa mendekat, mengusap pundak Valeria yang terduduk lemas setelah menelepon Cathy dengan gagang telepon yang menggantung karena terlepas dari pegangan tangannya saat tahu sang menantu pingsan. “Entah lah Pi … Mami rasa ada sesuatu yang disembunyikan Cathy dari kita. Pantas saja belakangan ini dia selalu terlihat murung. Apa ini ada kaitannya dengan Dean, Pi.” Mata sendu Valeria menatap Shaqa penuh tanya, bercak air yang akan keluar sudah terlihat menggenang di pelupuk matanya. Tangisnya masih bisa di

