Berada di pesawat selama dua jam lebih dengan pelayanan first class membuat aku sama sekali tidak merasa kalau sedang terbang di ketinggian yang menyawai awan-awan di langit yang sering aku tatap sembari merajut sejuta harapan dan intropeksi diri panjang ketika berbaring di balkon rumah batik bersama Elsih ataupun Naura dulu. Aku berasa ini seperti pesawat pribadi karena kata Dean memang untuk first class selalu kosong, berbeda dengan business class apalagi kelas ekonomi. Pelayanannya jelas jauh berbeda karena harga yang harus dibayar untuk menikmati semua pelayanan luar biasa di dalam pesawat yang berasa hotel ini bisa lima hingga sepuluh kali lipat. Kalau bukan berstatuskan istri Dean, sudah jelas aku tidak akan mampu untuk membeli tiket fisrt class di penerbangan pertamaku ini. Kami h

