“Dean.” Hati ini bergetar saat menyebut nama pria yang kini menyunggingkan senyum padaku sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan Elsih dan keluarganya. Hanya sejenak saja netra kami bersitatap, dia kembali terlihat santai berbincang dengan keluarga Elsih, sedangkan aku masih berdiri mematung tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat melihat sang tuan muda kini terlihat seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelum dia meninggalkan keluarga Demetria. Tidak ada Dean yang berpakaian kemeja rapi dengan kulit wajahnya yang putih bersih. Kulitnya kini kecokelatan dengan wajah yang ditumbuhi jambang tipis. Dia mengenakan celana jeans belel dengan kaos oversize warna hitam. Dan yang membuat aku terkesima dia menggotong kasur dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya d

