“Martina, aku dobrak pintu sialan ini kalau kamu masih bersembunyi di dalam!” “Maaf tuan … maaf ....” Suara ibu terdengar mengiba, aku sudah berpakaian dengan cukup layak sweater yang melapisi kemben aku resleting hingga ke atas, sementara jeans yang sedari malam aku pakai rasanya tidak perlu diganti. Aku membuka pintu kamar untuk tahu siapa sebenarnya pria yang sudah berteriak lantang dan menggedor pintu rumah kami dengan begitu kerasnya. “Oh … Martina, aku terima maaf kamu. Ternyata anak gadismu di sini …. Aku tidak peduli orang-orang bilang dia calon menantu dari Shaqa. Utang-utangmu tetap harus dibayar hari ini juga atau aku akan bawa putri cantikmu untuk menikah dan menjadi istri ketigaku.” What! Menikah dengan si tua bangka yang usianya saja sudah seperti almarhum papa. No, aku

