Terima Kasih Jogja

2050 Kata

Cium …. Harusnya aku sudah memprediksi kalau hal ini akan terjadi. Dulu, bukan hanya permainan pangeran dan putri tidur yang sering aku dan Dean lakukan di depan anak-anak. Kami pun begitu seringnya saling mencium satu sama lain saat sedang menghabiskan waktu berempat. Aku menutup mata dengan detak jantung yang iramanya sudah tidak terkontrol lagi. Hembusan hangat napas Dean terasa menerpa kulit wajahku, sudah lama aku kami tidak seintim ini. “Maaf ya Sayang,” bisik Dean sebelum mendaratkan kecupan singkat di sudut bibirku. Aku membuka mata tempat saat Dean sedang menarik mundur wajahnya. Teriakan hore Irel dan Cala langsung terdengar saat mataku terbuka. “Ye, Mama bangun dicium Papa.” Irel meloncat-loncat di atas kasur diikuti oleh Cala. Kebahagiaan sederhana yang sudah lama tidak ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN