Bukan Omong Kosong

1051 Kata
Suasana rumah kedua orang tua Kiran tampak ramai setelah kehadiran keluarga Devan malam hari ini. Ya. Devan benar-benar membuktikan ucapannya kepada Kiran pagi tadi. Devan membawa kedua orang tua dan petugas KUA ke rumah Kiran dengan beberapa barang sebagai seserahan pernikahan dirinya dan Kiran malam hari ini. Devan yang memiliki kekuatan dengan secepat kilat mendaftarkan pernikahan setelah Kiran keluar dari dalam ruangannya siang tadi. Devan dengan mudah meminta berkas Kiran kepada kedua orang tuanya sebagai syarat pernikahannya. Tidak susah bagi Devan untuk mewujudkan apa yang diinginkan oleh dirinya seperti sebelumnya. Apalagi kedua orang tua Devan dan Kiran sudah memberikan restu pernikahan itu. Kiran masih merasa tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi kepada dirinya saat ini. Kiran yang sedang duduk santai di ruang tengah tampak tercengang saat melihat tamu yang tidak diundang yang akan merubah status dirinya dari single menjadi menikah dengan terpaksa. Kiran yang ingin menolak rencana Devan pagi ini tidak dapat melakukan apa pun itu karena kedua orang tuanya memberikan tatapan penuh permohonan sembari menganggukkan kepala ke arah dirinya. Satu hal yang tidak bisa Kiran tolak saat kedua orang tua yang sangat dihormati dan dicintainya memohon sesuatu kepada dirinya. Kiran dengan terpaksa menerima dan mengikuti rencana Devan. “Saya terima nikah dan kawinnya Kiran Permata Sari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Devan mengucapkan kalimat ijab Qabul dengan lantang dan tegas tanpa keraguan sedikit pun di hadapan kedua orang tua dan keluarga. Senyum bahagia tampak terpancar dari wajah tampan dosen killer setelah acara ijab Kabul berjalan dengan lancar sesuai harapannya malam hari ini. Di sisi lain, Karin menghela nafas berat dengan semua yang telah terjadi di hidupnya hari ini. Berkali-kali Karin menghela nafas berat untuk menenangkan dirinya dan mengontrol emosi yang menguasai dirinya saat ini. Perasaan bahagia tidak bisa dibohongi di dalam hati Devan saat beberapa orang yang diundang untuk menyaksikan acara ijab Qabul pernikahannya dengan Karin memberikan ucapan selamat kepada mereka semua. Karin yang tidak ingin merusak perasaan bahagia kedua orang tuanya dengan terpaksa mengulas senyuman bahagia kepada tamu undangan yang tidak terlalu banyak malam hari ini. *** “Kenapa Anda berada di kamar saya?” tanya Karin dengan raut wajah kaget saat melihat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu berada satu kamar dengan dirinya. Senyuman manis terpatri di raut wajah tampan Devan setelah istrinya berada di depannya malam hari ini. “Saya berharap kamu tidak lupa jika kita telah menjadi suami istri yang sah di mata hukum agama dan negara hari ini,” jawab Devan dengan nada tegas dan menusuk sembari mengingatkan tentang status mereka berdua yang telah berubah beberapa waktu yang lalu. Karin terkekeh sembari mengulas senyuman meledek Devan yang sedang menatap lembut ke arah dirinya. “Saya tidak akan mungkin lupa dengan status kita hari ini. Tapi Anda juga tidak boleh melupakan satu hal,” sambung Karin dengan sengaja menjeda ucapannya untuk melihat ekspresi Devan. “Apa?” tanya Devan dengan penuh rasa penasaran. “Kita menikah hanya sebatas status. Tidak ada cinta di antara kita. Jadi Anda tidak usah terlalu banyak berharap dengan pernikahan ini. Anda tidak boleh berada di dalam kamar yang sama dengan saya. Saya tidak mau satu kamar dengan Anda. Tidak ada sentuhan fisik antara saya dengan Anda. Saya berharap Anda tidak akan pernah melupakan hal itu sampai kapan pun,” jawab Kiran dengan penjelasan panjang lebar dan pelan. “Saya tidak setuju dengan ucapan kamu itu. Tidak ada yang namanya suami istri tidur di kamar yang terpisah dan beda. Suami istri tidur di kamar yang sama. Selain kita pasangan sah. Biar orang tua kita tidak ada yang curiga nanti,” sambung Devan penuh dengan penekanan dalam setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Kiran yang tidak ingin memperpanjang semua hal itu lantas menghela nafas panjang untuk menetralkan semua perasaan dirinya saat ini. “Baiklah. Anda boleh tidur di kamar saya. Anda yang tidur di ranjang. Saya tidur di sofa. Saya tidak menerima penolakan dan alasan apa pun dari Anda. Jika Anda tidak setuju dengan ucapan saya. Silahkan Anda keluar dari kamar saya dan tidur di kamar lain atau bila perlu Anda pulang ke rumah sendiri,” tukas Kiran dengan nada tegas tanpa bantahan sedikit pun. Tidak lupa tatapan tajam diberikan oleh Kiran kepada suaminya. Anggukan kepala diberikan oleh Devan sebagai jawaban ucapan istrinya beberapa saat yang lalu. Ya. Devan sengaja setuju dengan ucapan istrinya demi ketenangan jiwa dan raga wanita cantik itu. Devan juga tidak ingin semakin merusak suasana hati Kiran yang masih tidak baik-baik saja hingga saat ini. “Saya setuju dengan ucapan kamu. Kamu bisa membawa selimut itu agar tidak kedinginan nanti. Saya berharap kamu juga tidak akan menolak permintaan saya tadi,” seru Devan. “Baik,” balas Kiran sembari beranjak menuju ke arah tempat tidur dengan ukuran luas untuk mengambil selimut berwarna ungu. *** “Kamu mau ke mana?” tanya mama Nayra saat melihat putri kesayangannya itu turun dari lantai dua dengan penampilan yang rapi. “Kiran mau ke kampus Ma. Kuliah,” jawab Kiran dengan nada santai sembari mengecup punggung tangan papa dan mamanya. Dua orang paruh baya itu menautkan kedua alis setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Kiran. “Kamu mau ke kampus? Ngapain Ki?” tanya mama Nayra lagi dengan penuh rasa bingung. Kiran berdecak kesal mendengar pertanyaan dari mamanya. “Kiran ke kampus kuliah Ma. Memangnya ngapain lagi Kiran ke kampus kalau tidak kuliah. Bukannya papa dan mama ingin Kiran cepat lulus kuliah?” jawab Kiran dengan nada sedikit kesal. "Bukan begitu maksud mama sayang. Kamu kan baru menikah dengan Devan. Dosen kamu sendiri kan? Kenapa kamu langsung berangkat kuliah? Bukannya kalau orang baru menikah itu mengambil cuti dan bulan madu bareng suami sayang?" sambung mama Nayra dengan penjelasan yang singkat dan padat. Decakan lidah kesal kembali keluar dari bibir ranum berwarna merah muda milik Kiran. "Tidak ada kata cuti dalam kamus Kiran, Ma. Kiran tetap masuk kuliah seperti biasanya agar cepat lulus dan kerja. Kiran akan memenuhi permintaan papa dan mama. Kiran juga sudah merasa bosan kuliah lama. Apalagi dosennya nyebelin. Kiran malas," seru Kiran. Dave yang mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu lantas memutuskan untuk ikut membuka mulut dan menasehati putri kesayangannya. "Papa tidak setuju kamu masuk kuliah. Kamu ambil cuti. Devan sudah bilang sama papa dan mama kamu akan pindah ke rumah pribadi menantu papa hari ini. Papa tidak menerima penolakan dan alasan apa pun dari kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN