1 | Hal yang tidak diinginkan

1932 Kata
Suara keyboard yang di timpa oleh jari-jemari manusia terdengar halus. Perangkat komputer yang digunakan memang sudah canggih sehingga bisa meredam gerakan jemari untuk tidak menghilangkan konsentrasi penggunanya. Di sebuah perusahaan besar yang bergerak dalam bidang fashion, di ruangan HRD tampak sunyi dan hanya ada sekumpulan manusia yang terfokus dengan apa yang ditugaskan kepada mereka. Gerakan yang teratur dengan fokus yang tak akan terpecah meskipun petir sedang menyambar di luar sana karena hujan tengah turun dengan lebat. Termasuk juga untuk Naya, karyawan dari ruangan itu nampak serius menggeluti laporan yang ada di mejanya dengan sesekali meneliti angka dan huruf yang tertera dalam layar komputernya yang menyala. Rambut panjangnya yang tergerai berwarna coklat tampak indah dengan gelombang di akhir helaiannya, serta busana kantor yang berupa dress berwarna coklat s**u tampak serasi dengan make up yang natural dengan pewarna bibir yang terpoles, lipstik warna nude. Primadona ruangan HRD itu memang selalu tampak elegan dengan dandanannya. Banyak pria yang sudah menaruh hati pada wanita itu, tapi sayanganya Naya kelihatan sekali enggan untuk menajalin hubungan asmara atau bahkan mengungkit soal hal tersebut. Wanita itu kemudian dikenal sebagai si pekerja keras karena mulai diketahui jika Naya hanya hidup sebatang kara di tengah kerasnya kota Jakarta. Tak ada orang tua maupun saudara yang menemani hidupnya sejak wanita itu mulai menginjak bangku kuliah dan bekerja keras sendiri. Beberapa teman yang menginformasikan jika dulu Naya adalah pribadi yang menyenangkan dan banyak bergaul, namun tidak sekarang, entah masalah apa yang menimpa wanita itu, namun sejak selesai dengan kuliahnya, Naya mulai berubah dan memilih menutup diri. "Ada yang lo butuhin?" tanya Naya pada salah satu karyawan di ruangannya bekerja itu. "Nggak, gue cuma mau ngajak elo makan siang, princess.. ini udah lewat 10 menit dari jamnya," kata Danita, rekan paling dekat dengan Naya di perusahaan tempatnya bekerja. Wanita dengan paras cantik dan kulit putih yang memiliki tinggi semampai. "Tunggu... mau nyimpen beberapa laporan dulu," ujar Naya, meminta Danita menunggunya menyelesaikan beberapa urusan di komputernya. Selesai dengan urusannya, Naya kini berada di tengah lautan manusia yang meramaikan kantin di lantai 11 kantornya. Lantai yang diperuntukan untuk menyajikan makanan dan minuman dikala istirahat atau kopi di sela stresnya bekerja itu, kini dipadati karyawan yang sudah kelaparan dan segera ingin menyantap makanan. Kejar target yang sekarang sedang banyak dilakukan para karyawan, membuat banyak dari mereka saat ini lebih memilih makan di kantin perusahaan daripada mencari makanan dilluar perusahaan yang pasti akan lebih menyita waktu mereka. Beruntung Naya dan Danita masih bisa menemukan kursi kosong untuk tempat mereka duduk setelah mereka mendapatkan makan siang mereka. Sebenarnya keduanya bisa saja memilih untuk mengisi perut mereka di deretan restoran di depan gedung perusahaan ini. Namun, pekerjaan yang menuntut mereka untuk tidak terlalu lama dalam menyantap makanan seperti halnya karyawan lain. Mereka harus segera kembali ke bilik kerja mereka dan menuntaskan target yang harus diselesaikan karena akan adanya pergantian pemimpin, membuat keadaan perusahaan diserang target tak terduga untuk cepat merampungkan segala urusan, guna pemindahan kekuasaan yang akan dilaksanakan 1 minggu lagi. "Gosip yang beredar nih, Nay... kalau Direktur Utama kita nanti masih muda lho. Dia dulunya General Manager di cabang perusahaan di Singapura. Dan dia ini diminta buat memimpin kantor pusat ini karena kinerjanya," kata Danita mengeluarkan gosip yang terus santer terdengar soal Direktur Utama mereka yang masih ramai diperbincangkan. Naya yang masih mengunyah makanannya tidak langsung membalas gosip Danita. "Gue nggak terlalu penasaran soal itu, lagi pula nanti ruangan kita juga yang bakalan pertama kali tahu siapa Direktur Utamanya, kan? Lusa berkas Direktur Utama kita masuk," kata Naya menanggapi. "Bener juga sih... Tapi elo kan bakal ditugasin ke Lombok, kayaknya elo nggak akan lihat siapa Direktur Utama kita nanti pas dia masuk pertama kali." Naya memang akan ditugaskan di Lombok untuk menemui klien mereka yang tinggal di sana meski dia seorang HRD. Klien penting perusahaan mereka yang harus diistimewakan sehingga perwakilan perusahaan yang harus ke sana demi menghampiri klien mereka itu. Dan kali ini giliran Naya lah yang menjadi perwakilan. Soal Direktur Utama itu, Naya tidak terlalu ambil pusing. Lagi pula cepat atau lambat dia akan tahu siapa Direktur Utama mereka. Entah itu masih muda atau sudah tua, juga tidak akan ada pengaruh apa pun dengan kerjanya di perusahaan besar yang sama sekali bukan impiannya ini. Meninggalnya kedua orangtuanya, membuat Naya harus hidup dengan keras sejak lulus dari bangku kuliah, apalagi ada beberapa masalah yang menghampirinya saat itu yang kemudian mengubahnya menjadi pribadi seperti ini. Dia yang termasuk dalam lulusan terbaik di Universitasnya mendapat penawaran untuk bekerja di perusahaan besar yang bergerak dalam bisnis fashion ini dan menempati posisi di ruangan HRD yang selalu sibuk, ini juga karena sesuai dengan jurusannya diperkuliahan. Jadi karena dia merasa butuh uang, dia pun menerima penawaran itu dan meninggalkan apa yang diimpikannya, untuk bisa membuat usaha sendiri dengan mendirikan sebuah cafe atau restoran. Naya bisa mengurusnya sendiri dengan bekal ilmu manajemen yang sudah dia dapat selama bangku perkuliahan. Dia tentu harus menabung dulu untuk bisa mewujudkan apa yang diimpikannya itu. Menyewa bangunan untuk bisa ia sulap menjadi sebuah cafe seperti apa yang dibayangkanya selama ini tidaklah murah. Biaya yang harus dikeluarkannya bisa mencekik di tengah arus globalisasi dan persaingan ketat di kota besar. Memikirkan hal ini membuat Naya pening seketika. /// Tiba di Lombok dengan dua orang lain sebagai perwakilan perusahaan dari divisi yang berbeda. mereka melanjutkan perjalanan menuju villa yang sudah di siapkan dalam perjalanan bisnis ini. Setiap orang menempati 1 kamar untuk sendiri, dan Naya mendapatkan kamar dengan luas yang cukup untuk dibagi lagi menjadi beberapa ruang. Namun suasananya tetap nyaman karena dengan pemandangan yang selalu indah di pulau Lombok. Setelah membereskan beberapa hal yang dia simpan di dalam koper ke dalam lemari dan benda penting dia taruh di atas nakas tempat tidur, Naya segera menuju kamar mandi untuk bersiap menemui klien mereka nanti saat makan malam. Dengan pakaian yang rapi namun tetap santai, Naya dan dua rekannya berjalan menuju sebuah restaurant yang sudah dipesan menjadi tempat pertemuan mereka. Setibanya di sana, dia dan rekannya disambut oleh sepasang suami istri yang duduk di bangku yang letaknya berada di luar restaurant ,dengan latar pemandangannya adalah lautan lepas di pulau Lombok yang tampak samar dengan pencahayaan kuning dari lampu taman. Sepasang suami istri itu menyambut mereka dengan ramah dan meminta untuk tidak terlalu kaku dalam pertemuan bisnis ini. Naya pun merasa senang dan dapat merasakan jikalau pertemuan ini akan lancar dan berjalan dengan baik sampai suatu kesepakatan dicapai nantinya. Sepasang suami istri itu ternyata adalah pemilik villa tempat mereka menginap, juga pemilik hotel di beberapa titik penting pariwisata Indonesia. Dan bisnis yang berkaitan dengan perusahaan mereka, adalah mengenai sang istri dari pemilik hotel dan villa itu yang memiliki bakat untuk melukis handal. Bahkan karyanya sudah sering di pamerkan di beberapa galeri seni di dunia. Naya yang kurang meminati bidang ini pun hanya bisa terkejut dan merasa bangga bisa bertemu langsung dengan 2 orang hebat di hadapannya itu. Sang istri tampaknya sudah banyak mempertimbangkan dan menyetujui jika beliau akan melukis secara langsung pada model dan motif busana yang akan dirilis di musim mendatang oleh perusahaan tempat Naya bekerja. Dan sang suami juga mendukung karena ini merupakan suatu hal penting dan menganggapnya sebagai hadiah di ulang tahun istrinya yang ke 54. Sebuah kesepakatan sudah di dapat. Besok mereka akan melakukan penandatanganan hitam di atas putih untuk perjanjian kerjasama. Lalu Naya beserta dua rekannya merasa sangat bahagia bisa menjadi perwakilan dari perusahaan untuk menemui klien mereka ini, karena dengan murah hatinya sudah menyediakan paket liburan di Lombok. 4 hari perjalanan bisnis mereka ternyata menjadi liburan yang menyenangkan. /// Naya terbangun dari tidur nyenyaknya dan langsung di sambut oleh sinar matahari serta angin sepoi pulau Lombok, karena semalam dia memang tidak menutup pintu yang menghubungkannya menuju halaman di samping kamarnya menginap. Melakukan sedikit peregangan, Naya kemudian membuat s**u di dapur villa mereka dan berjalan menuju halaman belakang untuk menikmati sinar mentari di pagi hari yang sangat hangat terasa di kulit putihnya. Villa masih nampak sepi karena sepertinya 2 rekannya masih tertidur usai berkunjung ke bar semalam, sedangkan dirinya lebih memilih pulang untuk tidur dan menyiapkan diri agar bisa berwisata di pulau Lombok lebih awal. Dia memutuskan untuk pergi sendiri menikmati keindahan pulau Lombok dan menanggap sebagai cara untuk menghibur diri di tengah sibuknya rutinitas kerja. Lagi pula paket liburan yang diberikan masing-masing kepadanya dan dua rekannya memang secara terpisah. Usai puas bermandikan sinar mentari yang mulai beranjak naik, Naya berjalan kembali ke kamar dan mandi kemudian memilih pakaian santai berupa dres off shoulder bermotif floral berwarna biru muda yang tak dia sangka akan dirinya pakai di pulau Lombok. Karena Naya berpikir bahwa mereka bertiga hanya akan diribetkan dengan urusan pekerjaan dan tak bisa sama sekali menikmati sejuknya udara pulau Lombok. Naya menggunakan sandal dan melengkapi penampilan dengan topi lebar dari anyaman jerami yang unik, serta sling bag kecil tempatnya menyimpan kamera pocket, ponsel dan benda yang akan dia butuhkan lainnya. Dia berjalan keluar dari villa dan mendapatkan pemandangan laut lepas dengan banyak orang yang berjalan kaki. Dia pun ikut berbaur bersama wisatawan lain yang nampak menikmati pagi hari di pulau Lombok, entah bersama keluarga atau sendiri seperti dirinya. Semua sah saja, dia bahkan mulai menikmati dirinya yang berjalan sendirian menikmati apa yang tersaji di depannya. Dia berhenti untuk membeli satu cone ice cream rasa strawberi dan kemudian berjalan kembali sembari menyantap ice creamnya itu. Dia merasa senang karena beruntung menjadi perwakilan perusahaan yang datang menemui klien seramah sepasang suami istri itu. Siang datang dan Naya sudah cukup berjalan jauh sampai ke daerah pantai, lalu dia memilih untuk berhenti sejenak dari perjalanannya untuk menikmati indahnya pantai. Dia memilih duduk di salah satu kursi santai yang disediakan oleh restaurant dan memutuskan untuk memesan beberapa hidangan untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Dia menanti pesanannya sembari mengecek kamera yang dia gunakan untuk mengabadikan keindahan pulau Lombok. Jarinya bergerak menggeser melihat gambar-gambar yang berhasil dia jepret, sampai dia terpaku pada suatu gambar yang menampakan satu objek yang membuat bola matanya membesar. "Nggak mungkin...," gumamnya lirih. Di gambar itu, ada satu objek seorang pria dengan pakaian santai dan kacamata hitam tengah duduk di tepi pantai dan menghadap ke laut. Pria itu membuat Naya terdiam karena merasa familier atau justru merasa bahwa dia memang tahu siapa pria itu. Pria yang selama 5 tahun ini tidak dia temui atau mereka memang ditakdirkan untuk tidak pernah bertemu lagi. Namun gambar itu berbicara bahwa pria itu mungkin ada di pulau ini juga. /// Naya terdiam di tepi ranjang sembari kedua tangannya masih menggenggam sebuah kamera yang kondisinya tengah dia nyalakan dan nampak sebuah jepretan yang dia abadikan. Sejak tadi dia masih mengamati jepretannya itu dan memastikan lagi apa dia salah melihat sebuah objek yang tertangkap di dalam foto itu. Setelah 5 tahun tidak bertemu dengan pria itu, pria yang dulu pernah menjadi bagian penting hidupnya, mereka betemu lagi sekarang. Bukan, mungkin hanya dia saja yang menyadari keberadaan pria itu, tidak dengan pria itu sendiri yang tidak menyadari keberadaannya. Naya memejamkan matanya membuang segala kenangan yang tiba-tiba merangsek masuk berjejalan kedalam otaknya dan membuat kepalanya terasa pening sekarang. Kenangan yang sudah lama dia pendam dalam memorinya yang paling terdalam itu bangkit lagi dan membuat netranya tergenang air mata yang siap tumpah jika dia berkedip. Lelehan cairan bening yang berasal dari matanya itu seperti ungkapan berjuta emosi yang dipendamnya selama 5 tahun mereka tidak bertemu. Bangun dari duduknya, Naya segera keluar dari kamarnya dan berjalan keluar dari villa tempatnya menginap. Langkah kakinya membawanya menuju tepian pantai. Dan dia berdiri persis sebelum air laut mengenai jempol kakinya. Ombak yang berdebur terdengar di telinganya, angin pantai di malam hari yang sedikit menusuk terasa di kulit lengannya yang tak dilapisi apa pun. Di tangannya, saat ini kamera itu masih tergenggam. Dengan kepalan erat yang membungkus kamera itu seolah ingin meremukannya. Lalu.. BYURR Naya melemparkan kamera itu sekuat tenaga kedalam air laut yang saat itu nampak gelap tanpa cahaya matahari. Nafasnya terengah usai melemparkan benda itu ke dalam air laut dan terbawa arus. Memejamkan sekali lagi matanya, Naya berharap dalam hatinya bahwa dia tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu, sekalipun itu di kehidupan selanjutnya. Dia berharap itu dengan sangat kepada Tuhan. . ///
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN