10

1370 Kata
Alara Senja tidak punya jalan putar balik. Di saat Bahtiar Gema kian hari kian gencar menggempurnya dengan teror pernikahan. Untungnya nih untungnya. Belum Alara beri jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Tidak ada penolakan atau pun penerimaan. Untungnya lagi, Alara suka membaca quotes untuk bisa merasuk ke dalam pikirannya dan bisa mengambil tindakan tepat. Seperti ini kira-kira: Jangan buru-buru jatuh cinta. Dalam hati saja Alara berkata begitu. Apa Alara bilang. Jangan buru-buru makanya jangan memberi kendor untuk Gema terus mengejarnya. Sekarang saja, ada cek-cok yang terjadi di dalam sana. Alara sampai urung untuk masuk padahal ada berkas klien yang harus segera dirinya kirimkan untuk di entry ke Pengadilan. “Tapi hasilnya positif! Siapa yang harus aku mintai tanggungjawab?” Lengkingan seorang wanita yang tidak Alara ketahui berapa umurnya atau siapa namanya karena itu tidak penting baginya. Tapi bikin merinding disko. “Aku mainnya aman.” Yang ini suara Gema. Terdengar santai tanpa urat. Tapi tetap bikin berdegup. Gimana, ya, penjelasannya. Bawaan Gema itu tenang namun mematikan. Lawan saja tidak cukup mampu menyanggah setiap komentar dan pendapat jika itu berasal dari Gema. Bahtiar Gema terkenal dengan senyum ramahnya yang menatap penuh kedinginan. Rumit, kan? Masalahnya, positif apa dulu, nih, yang mereka bahas? Corona? Kan sudah ada vaksin yang pemerintah kirimkan. Bahkan menteri BUMN, Erick Thohir, turun tangan untuk mengecek segala persiapannya. Atau yang istilah kerennya yaitu debay singkatan adek bayi tumbuh?l “Lo kuat banget Ra. Kerja bareng Pak Bahtiar yang nemplok sana nemplok sini.” “Ya?” Wajah Alara mirip orang bodoh. Maksudnya apa, nih? Halah! “Itu mbak yang di dalam sono tuh, lagi bunting.” “Oh.” Respon Alara tak lebih dari itu. Ya terus masalah dan urusannya sama Alara apa dong? “Anaknya pak Bahtiar.” “Sumpah?” Kepala Alara menoleh terlalu cepat. Bisa-bisa copot dari tempatnya. “Lah ngapain gue bohong.” “Edun euy edun.” “Banget. Lo pikir atasan sekeren pak Bahtiar Gema bersih dari dosa.” GILA NGAKAK. Bisa nggak jangan di perjelas? Alara tiap malam ngekepin itu laki soalnya. Ugh, nakal banget. Kalau bobok tangannya suka treveling ke seluruh tubuh Alara. Matanya doang yang merem. Otaknya mikirin yang iya-iya. Saras namanya. Alara tidak tahu perempuan ini ada di bagian mana dari kantor pengacara Bahtiar Gema. Alara terlalu fokus dengan Gema dan segala jadwal atasannya itu sehingga tidak begitu tahu silsilah yang ada di kantor ini. Atau malah benar jika dirinya tidaklah peka? Lalu Alara lanjutkan dalam hatinya: ‘Hati yang baik sepertimu berhak bahagia dengan cinta yang setia.’ Lantas, apakah tidak bisa Alara berharap bersanding dengan Gema? Setelah semua ungkapan yang lelaki itu utarakan, tidak bisakah ada sedikit kesempatan bagi Alara memasuki hatinya? Menyentuh lukanya yang lama dengan mengucuri kesembuhan? Tidak bisakah? ‘Ingat, kamu manusia biasa dan merasa tidak sedang baik-baik saja, itu tidak apa-apa. Lukamu akan sembuh, cintamu akan kembali utuh.’ Bagaimana jika Alara katakan, bahwa semua kesakitan dalam hatinya meluruh dengan kehadiran Gema? Apakah bisa dijadikan alasan untuknya terus bertahan? Tapi Alara merasa sangat kerdil di hadapan Gema. Alara merasa sangat kotor dan itu benar adanya. ‘Percayalah, semua ada waktunya. Jangan karena kamu takut merasa sedang sendirian, kamu memaksa membuka hati. Itu sama saja dengan kamu menambah luka baru.’ Nampaknya itu salah karena Alara mengambil keputusan terlalu cepat. Dengan mencintai Gema sejak pertemuan awal hingga mendatangi ruangannya menawarkan sebuah perjanjian yang konyol, luka baru di hati Alara sedang meletup. Dan hari ini puncaknya. “Gue selalu mikir kalau pak Gema lain dari yang lain. Tahunya sama saja.” Ada nada kecewa di suara Saras. “Betah ngeduda karena banyak yang kasih dia perhatian.” “Termasuk lo, 'kan?” Tebak Alara tepat sasaran. Pipi Saras merona meski kemarahan bertengger di sana. “Alah nggak usah sungkan. Sama gue ini.” “Dulu, sih. Setelah gue tahu, ya cukup tahu saja.” “Kesimpulan yang lo ambil terlalu pendek—barangkali ya mpok. Jangan marah sama gue.” Keduanya tertawa. Dan pertengkaran di dalam sana semakin memanas. Begitu suara pintu terbuka dan tertutup, baik Alara mau pun Saras langsung bubar jalan “Berkasnya, Ra.” Sialnya Alara tidak bisa sembunyi dari tajamnya mata Gema yang saat ini menggunungkan kekesalan. Yeu! Awas saja kalau Alara dijadikan samsak amukan. Jadi pecel si Gema itu. *** Aman-aman saja sampai malam hari. Tapi sosok Gema yang belum pulang, membuat Alara ketar-ketir. Bilang tadi ada pertemuan dengan klien. Alara tidak perlu ikut dan di minta menyiapkan makanan hasil request Gema; ayam teriyaki dan sambal terong. Duda satu itu memang napsu makannya suka tinggi. Membuat Alara ekstra pintar mengatur olahan agar tidak bosan. “Sudah jam delapan padahal.” Gumam Alara. Tubuhnya mondar-mandir mirip setrikaan. Di luar hujan. Kilatan petir datang tak hanya sekali. Udara dingin mulai memeluk tubuhnya. Sedang pintu rumah Alara biarkan terbuka. Memudahkan kehadiran Gema. Serius, Alara kuatir. Bisa nggak, sih, jangan bikin hatinya resah kayak gini? Rasanya pun nano-nano. Mau nangis, mau guling-guling. Nggak ada kabar lebih nggak enak ketimbang debat sama Gema. Karena sadar atau tak, Gema merasuk terlalu dalam ke relung hatinya. Mendadak berbagai spekulasi mulai hadir. Otak kalau di suruh mikir yang negatif suka lancar jaya jalannya. Lapang banget macam ibukota di tinggal mudik penghuninya. Dan Alara tidak pernah suka gagasan seperti ini di saat reaksi lain dari hatinya ingin di manja dan di peluk sayang. Sekelebat bayangan dan kenangan di masa lalu silih berganti. Dari awal tahun ketika Alara tahu serusak apa keluarganya. Diam-diam Alara hancur. Tapi orang-orang di sekitarnya cekakak cekikik weka-weka seolah memang tidak ada yang terjadi. Sedang Alara meratapi nasibnya. Begitu saja masih banyak yang mencurahkan kisahnya bahwa katanya ‘tahun ini gue hancur-hancuran banget’. Hello, apa kabar dengan Alara yang menangis berdarah-darah? Siapa yang tidak kaget mendengar ayahnya pernah menikah dua kali dan ada anak selain dirinya? Alara tentu kaget, sedih, dan hanya bisa mencurahkan dengan tangis. Belum lagi dengan kehadiran sosok anak dari ayahnya namun ada yang lebih membuat Alara membeku di tempat. Kekasihnya bersanding dengan kakaknya—mau tidak mau Alara akui itu karena dia yang lahir pertama kali. “Kamu nggak dingin?” Tubuh Alara yang meringkuk di sofa di peluk dengan hangat dari belakang. Lengan kekar Gema melingkari perutnya dan bibirnya bekerja dengan aktif menciumi tengkuknya. “Abang baru balik banget?” Pertanyaan yang Gema ajukan tidak Alara jawab. Segera bangun dari ringkukannya, mata Alara melirik jam di dinding. “Mau makan sekarang? Biar aku angetin lagi.” “Yok, Abang lapar banget. Kliennya ribet banget tadi. Ada sambal terongnya, kan?” “Kayak yang Abang minta.” “Kamu kayaknya hamil, deh, Ra. Soalnya Abang ngidam banget.” “Sembarangan!” Gema bahkan belum melakukan hubungan badan dengan Alara. Bunting dari Hongkong. *** Belakangan Gema kesulitan tidur malam. Berbagai cara sudah dirinya lakukan bahkan dengan menelan pil lelap. Tidak juga membantu. Ini mungkin karena banyaknya tekanan pekerjaan yang Gema dapatkan. Beberapa bulan ini kasus-kasus yang masuk ke kantornya juga beragam tidak melulu soal perceraian. Dan semampunya Gema selesaikan untuk selalu tepat waktu. “Abang mikirin apa?” “Kamu keganggu?” Lara menggeleng. Matanya melirik jam di balik temaramnya lampu. Pukul dua belas tepat. Mendadak kantuk Lara juga menghilang. “Soal kerjaan?” Bahu Gema mengedik. Tangannya kembali berada di pinggang Lara dan memeluknya erat. “Nggak kamu peluk soalnya.” Terdengar merajuk. Tapi oke, Lara balas pelukan Gema sembari menepuki punggung lebarnya. “Kamu bobok main bobok saja.” Ya mau gimana lagi. Alara Senja ini tipikal orang temlor yang artinya tempel molor. Maklum jadinya kalau lihat Kasur, endus-endus sebentar langsung terlelap. Ah, tidak tahulah. Perasaan Gema campur aduk kayak es pelangi warna-warni. Rasanya tuh ya kayak mau jadi Ironman. Pokoknya Gema menyebutnya galau. Jadi, di satu sisi Gema nggak punya jalan buat memaafkan dirinya sendiri karena patah hati. Tapi juga pengen punya jalan untuk jalan bareng Lara. Ini aneh. Makanya Gema bilang campur aduk kayak tahu campur cabe rawit lima. Harapan Gema tidak muluk-muluk sebenarnya. Cukup di beri kesempatan untuk bisa berjalan bersama Alara Senja sejak awal—jika bisa—bahkan kalau cuma bisa di mimpi, nggak apa-apa. Karena begitu saja hati Gema melambung dengan entengnya. “Nggak usah bayangin yang tinggi-tinggi Bang. Jatuh sakit rasanya.” Dan bayangan Gema baru saja di jatuhkan oleh Alara Senja. k*****t anak satu ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN