15

1326 Kata
Alara Senja berada di sisi Bahtiar Gema. Bersama klien yang menceritakan seluruh rangkaian kalimatnya hingga berujung pada proses perceraian. Sulit, Bund. Cuma jadi asistennya saja Alara sudah menemukan banyak kesusahan. Bagaimana dengan Gema yang selalu ekspresif menunjukkan wajah cerahnya padahal lelah maksimal? “Soal gono-gini kemarin, 'kan sudah clear bu. Sudah kita kirimkan lewat email ke Ibu dan tertuang dengan jelas berapa persen jumlahnya dan besarannya untuk di bagi ke anak-anak. Ini agak melanggar aturan sebenarnya. Karena intinya mau di kasih ke anak atau di kelola Ibunya sendiri nantinya memang ada aturannya sendiri. Jadi nggak masalah.” Nyonya Kumala Wijaya namanya. Yang posisinya berada di Bekasi dan mengharuskan Gema serta Lara untuk sampai di sini. Di Bekasi Square sekalian makan siang. Oke, tidak masalah. Toh Alara bisa santai sejenak dan cuci mata meskipun tangan dan otaknya terus bekerja. Mencatat hal-hal penting apa saja untuk di lingkari agar tidak terlewati sebagai agenda. “Ini calonnya?” Tiba-tiba ada pertanyaan macam itu. Kan Alara kaget. Kepalanya yang awalnya menunduk dengan kelereng mata fokus menulis jadi terdongak estetik. Untung tidak ada jigong yang menempel di sudut-sudut bibirnya. “Iya,” jawaban Bahtiar Gema sungguh mengesankan, Hyung. Tangan besarnya juga merangkum milik Alara seakan memamerkan ‘ini milikku’. Posesif astaga. “Agak susah bujuknya untuk diajak nikah bu.” Gila, malah curhat. Dan responsnya sungguh menggemaskan. Si Ibu Kumala tertawa dengan kedua jempol teracung. “Pepet terus kalau gitu Bang.” Oke, sip. Sepertinya mereka sudah sangat akrab sampai out of the topik karena awalnya tidak begitu panggilannya. Alara ingat, ibu Kumala memanggil Gema dengan sebutan ‘Pak’. “Cewek kadang sukanya begitu. Kayak apa istilahnya: malu-malu meong kali ya. Tapi sekalinya sudah di gapai ya anteng.” Kelihatan banget, ya, kalau Alara juga cewek modelan kayak begitu? Wajah Alara redup. Remasannya pada tangan Gema yang sedang menggenggammnya mengetat. Menarik perhatian Gema untuk menoleh dan menatapinya sejenak. “Lara nggak gitu.” “Ini umpama saja.” “Dia perempuan istimewa.” Gaes, tahu nggak kalau cowok yang sudah ngomong serius model Gema ini sensasinya yahud sampai akut? Itu yang Alara rasakan saat ini. Sedetik yang lalu, awan colomonimbus ada di atas kepalanya. Siap menelan jiwa rasanya PLAK ALARA LEBAY SUMPAH. Tapi begitu Gema menoleh dan menatapnya dengan binaran cinta … WAW … WAW … WAW … sudah. Alara mau tamat saja. Tenggelam di rawa-rawa. Kalau mesti ke Palung terdalam di dunia lama soalnya. Belum biaya ke sana, mahal cui. Oke, sip. “Nggak mudah dapatin dia.” Dalam hati Gema menyambung ‘walaupun datang dengan cara yang tidak biasa’. “Ada bencana yang harus dilakukan untuk saya bisa menggapai dia.” Astagfirullah Akhi! Ternyata kedatangan Alara ke ruangan Gema dianggap sebagai musibah yang melanda. Untung tidak longsor. Hatinya yang longsor maksudnya. “Kalau nggak kayak gitu, nggak akan saya bisa rengkuh dia. Dia ini …” Gema alihkan kembali wajahnya ke arah Nyonya Mala Kumala. “Overthinkingnya akut. Saya suka di sindir dan hebatnya saya merasa kesindir.” Tidak ada tawa yang terhalang. Siang itu semuanya jadi nampak indah dan jelas di mata Alara bahwa bertahan bersama Gema adalah kemauan hatinya. Bahwa tidak apa-apa menjadi sangat egois hanya untuk memiliki asal itu Bahtiar Gema. Dan bagi Gema, telah menggaung keras dalam hatinya untuk Alara Senja menjadi apa adanya tanpa perlu sempurna. Cukup bertahan di sisinya dengan menerima semua penawaran cinta atas lukanya masa lalu. Bahwa bertahan di sini dalam ikatan cinta akan segera Gema lakukan. Dan cukup bertahan meski Gema sedang dalam keadaan membosankan sekali pun. Rasanya itu sungguh luar biasa bertemu seseorang yang bisa memberikan jiwa dan menerima diri kita yang apa adanya ini. Jadi, ya, Gema bangga. Alara tidak melihat siapa dirinya alih-alih bagaimana masa lalunya yang buruk. *** “Asli deh, Ra. Sindiran kamu nggak pernah yang namanya ngena ke jantung abang. Meleset kek sekali-kali.” Misuh Gema begitu malam hari keduanya sampai di kamar. “Yang bilang kangen-kangen-kangen—PRETT—” Alara mengejek dengan bibir memblenya. “Bakal kalah sama yang ngajak jalan. Oit, bapak pengacara kapan mau ajak adek jalan.” Istigfar banyak-banyak Gema melihat kerlingan jahil di mata Alara yang kalau tidak ingat sedang dalam keadaan apa akan dirinya terkam. Sayang, ada tamu cui. Ya puasa jadinya. “Yang ngajak jalan bakal kalah sama yang ngajak nikah.” Jeda sejenak dan Gema tahu Lara kalah soal ini. “Ini nih, ini! k*****t banget nggak pakai akhlak yang nyindir sampai ke ubun-ubun. Sekarang ini segala sesuatunya mengarah ke pernikahan. Lah di sangka nikah itu seenak balikin tangan kaki, ya!" Alara mendengkus. Kesal namun juga mengakui fakta yang santer beredar. Menikah dan usia, aih dua hal yang tidak terpisahkan. Asli, bukan main pokoknya mah. Salah Alara juga yang tangannya gatel pengen ngubek-ubek sosial media dan nemu kalimat ini. Begitu di baca sekilas—karena enggan menghabiskan dulu—langsung baca dan dirinya merasa di nistai oleh mulutnya sendiri. “Yang ngasih kepastian bakal kalah sama yang ngasih mahar.” Tidak juga dihentikan begitu tahu sudah kalah. Alara dan segala keunikannya. Matanya malah melirik-lirik ke arah Gema yang fokus menatapnya sembari mengembuskan napas berat. “Abang sudah siapin mahar buat aku?” Gema angguki. “Apa?” Mulai masuk ke pembahasan serius, Alara beranjak bangun namun tak berselang lama memindahkan kepalanya ke paha Gema. Kode itu pun di tanggapi Gema dengan tangan menyelusup masuk ke sela-sela rambut Lara dan mengusapnya perlahan. “Ada. Kamu mau ada tambahan?” Rasanya tidak etis jika Lara meminta lebih di saat Gema terima kondisinya yang sudah tidak utuh. Jarang-jarang ada lelaki yang berpikiran terbuka seperti Gema. Di luar sana—Lara jamin—hanya penasaran dan selebihnya coba-coba. Dalam artian membawa ke ranah keburukan bagi Lara yang sudah rentan akan kesakitan. Namun Gema tidak demikian. Lelaki itu sangat terbuka pikirannya. Tidak memukul rata sebuah virginitas seorang perempuan dari sudut pandang satu saja. “Ra, Abang kan sudah sering bilang buat kamu berbagi—kita saling membagi. Dan Abang sudah pernah minta ke kamu buat cukup bertahan dan kita saling berjuang. Tapi dengan kamu yang mau bertahan sama Abang saja itu lebih dari cukup. Kamu nggak perlu harus sempurna kayak cewek lain cuma buat bersanding sama Abang. Pantas enggak, abang yang tentukan. Kalau kamu nggak pantas di sisi abang, nggak akan ada kita sampai detik ini.” Ingin Alara sesenggukan. Yang keluar hanya lelehan panas dari sudut matanya dan itu jatuh membasahi celana Gema. Rasanya semua kesedihan itu terangkat dengan perlahan. Seolah untaian kata yang Gema sampaikan menjadi obat tersendiri untuk rasa sakit Lara. Hari ini, inginnya Alara berkata jujur kepada dirinya sendiri. Bahwa nyatanya Bahtiar Gema adalah segalanya. Luka yang tertoreh akibat masa lalu perlahan memudar dengan hadirnya Gema dan ungkapan lelaki itu untuk mengajaknya ke ranah serius. Kepada Gema, hatinya sungguh berengsek sekali karena semakin di tepis, semakin membludak saja kadarnya. Tapi itu pun sulit. Lara punya jejak kesulitan untuk membahasakan hatinya sendiri. “Abang bersyukur karena kamu menjadi kuat. Padahal belum tentu abang bisa setahan banting kayak kamu karena pernah ada di dalam tangis yang pekat.” Merdu. Merdu sekali. Apa yang tengah Gema ucapkan sungguh menenangkan segala dentuman di jantung Lara yang teremas kawat berduri. “Abang percaya, kamu pun akan menemui Abang dalam kondisi yang lain. Tidak seperti sekarang. Kamu bakal nemuin abang yang nyebelin …” Lara terkekeh untuk itu. “Dan kamu harus tahu Ra. Abang nggak akan sampai berubah apalagi sampai nggak cinta lagi ke kamu. Kamu selalu jadi prioritas Abang.” “Aku juga bakal ngerepotin Abang—” “Kamu sudah ngelakuin itu, Ra. Kamu dan periodemu itu banget-banget-banget ngeselin.” Jujur sekali mulut abang duda satu ini, ya. Sampai Alara mendengkus dan di sogok dengan kecupan singkat di bibirnya. “Dengerin dulu ih. Dasar!” Gema semakin ganas menghujami Lara dengan kecupan. “Itu cara aku biar Abang tahu kalau rasa juga butuh bagian terbaik dari cinta.” Malam itu, keduanya melambung. Tidak Alara, tidak juga Gema. Dunia serasa milik berdua hanya karena ungkapan perasaan masing-masing. Yang lain ngontrak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN