Alara Senja datang ke kantor Gema siang itu. Mengantarkan makan siang sesuai yang Gema requestkan pagi tadi. Namun kondisi di kantor yang biasanya selalu tenang meski ramai kini berubah bak pasar. Alara hanya berdiri bak patung di toko baju begitu keluar dari lift. Orang-orang berlalu lalang dan gesekan kertas demi kertas terjadi. Mesin foto copy tak berhenti mencetak lembaran demi lembaran kertas dalam setumpuk file. Alara hanya mengembuskan napas dan langsung masuk ke dalam ruangan Gema. "Itu harus di bagi rata apa pun yang terjadi. Mau berapa kali pun sidang, intinya itu harus di bagi." Rungu Alara menangkap kalimat seperti itu yang kebetulan pintu ruangan Gema terbuka sedikit. Lalu tangannya memegang handle dan membukanya. Semua yang duduk di sofa menatap ke arah Alara termasuk Gema.

