“Terima kasih, masakan kamu enak-enak.”
Mendengar pujian Noah tentang masakannya membuat Eloise yang sedari tadi makan dengan suasana tegang sedikit mencair dan senang. Senyumnya pun tersungging dibibirnya.
“Makasih, mungkin karena terbiasa harus masak sendiri dari kecil.”
Noah mengangkat kepalanya menatap Eloise denga raut penasaran. “Sejak kecil?”
Eloise mengangguk kali ini senyum lebarnya berganti dengan senyuman masam. Ia sengaja mengambil piring kosong Noah kemudian beranjak untuk mencuci peralatan makan malam mereka. Sedangkan Noah masih diam menunggu Eloise untuk bercerita namun wanita itu hanya diam dalam kegiatannya di depan kran air dapur.
“Aku nungguin cerita kamu loh. Jangan setengah-setengah kalau cerita itu.” Seru Noah dengan suara dinginnya membuat Eloise cemberut meskipun tubuhnya masih membelakangi Noah.
“Sejak kecil, aku sudah biasa dibesarkan bersama para pembantu di rumah. Malahan aku lebih dekat sama pembantu daripada orang tua ku sendiri.”
“Semuanya seperti itu? Maksud aku kamu punya kakak atau adik kan di rumah? Mereka juga diperlakukan begitu juga?” Ucap Noah yang sudah berpindah menghampiri Eloise dan berdiri di sampingnya saking merasa kesal.
Pertanyaan Noah sebenarnya bukan bermaksud untuk mengorek luka El, dalam benak Noah banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya lalu mengabaikan keberadaan anak-anak mereka dan akhirnya lebih dekat dengan pengasuh ataupun pembantu di rumah. Hanya saja yang Noah tidak sadari adalah pertanyaannya itu justru sedang melukai perasaan wanita yang menumpang bersamanya itu.
Sambil berbalik, Eloise duduk kembali di kursinya. Noah pun mengikuti terus memberikan tatapan penasarannya pada dosennya itu.
“Hanya aku saja. Kakak dan adikku selalu diperhatikan Mama, yang membuat aku bingung terkadang Mama selalu memasak makanan kesukaan Bang Tristan dan Tania tapi mewanti-wanti mbak di rumah supaya aku tidak boleh makan masakannya kalaupun boleh setelah kakak dan adikku makan barulah boleh aku memakan sayuran sisa mereka.”
“Hah! Itu orang tua kandung atau bukan sih!” Ucap Noah sepolos otaknya mencerna penuturan Eloise.
“Aku sempat berpikir mungkin aku ini anak pungut, kalau dipikir lagi muka aku tidak terlalu mirip mama ataupun papa. Sedangkan Bang Tristan mirip sama Mama dan Tania mirip Papa. Tapi pernah aku kecelakaan dan butuh darah, Mama yang mendonorkan darahnya buatku waktu kecil dulu.”
Bukannya tidak mempercayai perkataan Eloise, namun rasanya mustahil ada orang tua yang tidak mempedulikan anak mereka kecuali memang bukan anak kandungnya. Dan kalau memang benar artinya orang tua Eloise sangat kejam dalam pikiran Noah. Bayangkan saja bukankah banyak orang yang tidak beruntung mau mengadopsi anak dari orang lain dan merawatnya seperti anak kandung sendiri. Namun kenapa justru orang tua kandung Eloise malah bersikap pilih kasih. Baru mendengar satu hal tentang sikap orang tua Eloise saja dia sudah naik darah.
“Jadi itu alasan kamu kabur dari rumah?” Tanya Noah mulai memanfaatkan kesempatan mencari tahu alasan dosen cantik itu sampai berniat bunuh diri malam itu.
El menggelengkan kepalanya. “Kalau cuma soal itu aku masih bisa terima, masalahnya lebih rumit lagi.”
Mengingat akan akar masalah malam itu membuat dadanya sesak hingga menghela kasar nafasnya.
“Banyak hal buruk yang sudah kualami dalam keluargaku, namun malam itu aku sudah tidak kuat lagi menahan diri. Rasanya sudah cukup batasanku bersabar diperlakukan tidak adil oleh Mama dan Papaku.” Tutur Eloise tanpa sadar ia pun menangis.
Wanita itu tersentak ketika merasakan punggung tangannya sedang dipegang Noah.
“Kalau kamu percaya sama aku, ceritakan semuanya. Aku ingin dengar. Anggap saja aku ini sahabat kamu, teman yang tidak akan membocorkan kisah pahit masa lalu kamu.”
Eloise menatap mencari kejujuran dalam tatapan Noah. Apa bisa dirinya mempercayai Noah yang adalah mahasiswanya sendiri di kampus. Pertanyaan wajar yang terbesit dalam benaknya adalah apa mungkin setelah ini Noah sengaja akan menggunakan kelemahannya ini sebagai ancaman untuk meluluskan skripsinya dengan lancar.
“Apa aku bisa percaya kamu, Noah? Kamu kan…”
“Mahasiswa kamu dan kamu takut aku bakalan ngancem kamu supaya skripsi aku lulus dengan mudah?”
Ucapan Noah dibenarkan tanpa ragu oleh El dengan anggukannya dan hal itu membuat Noah mendengus kesal.
“Aku bukan cowok rendahan macam itu. Kalau mau sudah dari awal saja pakai kekuatan orang tua untuk nyogok kampus. Buat apa susah payah persiapan bergadang padahal perkuliahan saja masih belum mulai.” Sahutan Noah membuat El terus menatap Noah hanya saja sudah tidak seperti tadi.
“Maaf, aku hanya..”
“Karena kita baru kenal dan kamu masih takut buat percaya ke aku gitu kan?”
El pun mengangguk kembali.
“Yah sudah kalau kamu belum berani cerita aku ngak masalah. Niatku baik hanya ingin meringankan beban yang kamu pikul sendirian selama ini. Tidak ada rencana buruk hanya karena kamu itu dosen di kampus.”
Setelah berucap Noah pun berdiri dan duduknya. “Kalau gitu aku ke kamar dulu.”
Sedangkan Eloise mendecih dibuat kesal sendiri. “Ternyata kamu ngambekan juga yah.”
Ucapan Eloise berhasil menghentikan langkah Noah dan berbalik lagi mendekat.
“Mau tahu gimana aku kalau ngambek, hem?”
“Astaga!”
Noah sengaja berbalik cepat mendekat dan berbisik di telinga El. Tidak siap dengan kelakuan muridnya, sikap Noah berhasil membuatnya memekik karena terkejut. Pria itu tertawa kecil melihat delikan mata Eloise juga rengutan mancung bibirnya.
“Yah sudah, ayo cerita. Atau kita pindah di sofa depan saja biar lebih nyaman.”
“Hem.”
Eloise membuatkan teh bunga krisan sebagai teman ngobrol mereka sore itu.
"Jadi ceritanya kamu itu si bebek burik?"
Seperti itu pikiran Noah menanggapi kisah Eloise yang ditanggapi dengan kekehan geli sang dosen.
"Jelek amat sih aku disamain sama bebek burik."
"Maunya apa, cinderela? Kan blm ketemu sama pangerannya." Goda Noah membuat El semakin cemberut namun justru semakin membuat Noah senang mengerjai dosennya.
"Oke oke. Maaf, kita seriusan sekarang. Jadi kenapa sampai kamu nekat kabur dari rumah? Itu asumsi aku kamu kabur dari rumah karena kalau ngak harusnya pasti kamu minta aku antar pulang malam itu kan."
El hanya mengangguk membenarkan asumsi Noah.
"Aku ngak kuat lagi berada di sana. Katanya rumah tapi buat aku itu adalah neraka buatan yang membuatku hidup dalam penderitaan sejak kecil sampai sekarang. Tapi kemarin itu aku sudah tidak kuat lagi. Mana ada yang tahan kalau diperlakukan seperti binatang. Anak sendiri diperdagangkan seenaknya saja. Setiap kali mama pulang, aku selalu berdoa meminta tuhan agar suasana hatinya baik. Setiap anak biasanya selalu bahagia menyambut kepulangan mama mereka tapi beda dengan ku." Ucap Eloise terhenti karena tenggorokkannya mulai terasa serak dan sakit.
"Kenapa kamu harus takut?"
"Anak kecil mana yang ngak takut kalau tidak pernah tahu salahnya apa lalu dipukuli habis-habisan demi memuaskan emosinya yang aku sendiri tidak tahu apa."
Noah teringat melihat beberapa bekas luka ditangannya. Ia menarik salah satu tangan Eloise.
"Ini karena perbuatan mama kamu?"
Eloise mengangguk dg air mata mengalir deras. Masih sesak rasanya setiap kali membayangkan kejadian buruk yang selalu menimpanya di masa kecil dulu.
"Belum lagi dengan Tania, sikapnya juga sama selalu memusuhiku. Padahal aku tidak pernah berusaha untuk merebit apapun darinya. Apapun yang diam au aku pasti mengalah demi tidak membuat mama kami marah."
“Lalu bagaimana sama papa kamu setiap kali mama kamu ngamuk?”
“Papa seperti menutup mata melihat sikap mama ke aku, dia selalu menjauh setiap kali aku memanggil namanya memohon agar dibantu. Tapi dia hanya membelakangiku lalu pergi.”
Noah terpikir sesuatu dalam benaknya mengenai sikap orang tua Eloise.
“Maaf kalau aku lancang, apa mungkin mereka bukan…”
“Bukan orang tua kandungku kan?” Jawaban memotong Eloise membuat Noah mengangguk.
“Aku pun berpikir sama. Tapi aku sempat mencari surat akta kelahiranku disitu tertulis jelas nama mereka berdua.”
Noah pun terdiam meskipun pikirannya tengah beradu, pikirnya sebuah surat bisa dimanipulasi jaman sekarang namun ia menahan diri membiarkan Eloise meluapkan segala sesak dalam batinnya selama ini.
"Itu pun aku masih bertahan sampai dewasa menghadapi sifat kasar mama juga Tania. Aku pikir setelah bekerja dan mampu mencukupi kebutuhanku sendiri, sikap mereka mulai melunak karena tidak lagi memukuliku. Ternyata aku salah, mereka malah mencoba untuk menjualku pada pria tua sebagai istri muda mereka. Itu yg buat aku ngak kuat lagi. Orang tua macam apa yang setega itu menganggap aku sebagai binatang!" Teriakan El diakhir kalimatnya begitu menyayat sampai Noah dapat merasakan sepahit dan sehancur apa perasaan wanita itu.
Eloise yang merasakan pipinya diusap dengan tisu oleh Noah mendongak dan menatapnya. Rasanya malu sekali membuka aib dirinya dihadapan mahasiswa didikannya namun entah mengapa rasanya nyaman bercerita pada Noah.
“Anggap aku sahabat kamu. Ceritakan semua beban yang membuatmu sesak selama ini. Sebagai sahabat aku akan mendengarkan semuanya. Mulai sekarang kamu punya tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah. Tapi setelah ini aku minta supaya kamu bangkit dan jadi seorang Eloise yang lebih kuat. Hem?” Mendengar ucapan Noah, air mata Eloise semakin tidak terbendung dan berhambur memeluk Noah menumpahkan semua air matanya dalam dekapan tubuh Noah yang adalah muridnya sendiri.
Inilah yang diharapkan Eloise selama ini. Ada seseorang yang mampu jadi tempatnya bersandar barang sejenak saja meluapkan segala keluh kesah beban di batinnya. Dan kini ia dapatkan dari pria asing yang baru dikenalnya sekaligus penyelamat dikala dirinya putus asa.