Di dalam mobil itu Angel menatap kosong ke arah jalanan yang terhalangi oleh kaca. Kepalanya disandarkan sementara air matanya tak kunjung berhenti. Rasa sakit itu masih terngiang, mengusir ketenangan yang sempat menghayuti benaknya. Terluka. Bukan karena bekas fisik yang ditinggalkan William di tubuhnya tetapi karena sikap lelaki itu yang tiba-tiba berubah hingga membuat Angel kecewa. Haruskah seperti ini? Entah apa yang akan terjadi terjadi selanjutnya tetapi untuk saat ini biarkan keheningan yang menemani kekecewaan itu. Stefano menatap Angel dari ujung mata, pikirannya berkecamuk antara enggan untuk bersuara. Ketika melihat ekspresi kesedihan di wajah Angel, kedua tangannya mencengkram kemudi dengan kuat-kuat sementara ekspresinya mengeras. "Susahlah Angel. Kau tidak perlu membuang a

