1

1159 Kata
"Ashley!" "Why?" "Tumben kamu bawa tas kecil?" "Biasa, aku cuma kuliah disini doang hari ini." "Bisa diajak jalan, kan berarti hari ini?" "Gak bisa, aku kerja kalau kamu lupa." "Jangan alasan, Ashley. Aku tahu semenjak kamu kuliah dua jurusan, kamu sudah berhenti kerja di cafe itu, kamu cuma kerja Sabtu dan Minggu di rumah membuat komik. Dan juga kalau kamu alasan gak punya uang, gak mungkin. Orangtuamu gak semiskin itu, selain itu komikmu juga laku keras dipasaran." "Oke, aku kalah kalau sudah lawan kamu. Aku gak nyangka kamu bisa secerewet ini, padahal saat pertama kali ketemu kamu kelihatan pendiam." "Ya, karena kamu terlalu judes." "Aku judes?" "Gak juga sih, awalnya pas belum kenal kamu. Mukamu gak bersahabat sama sekali, ekspresimu juga datar." "Argh!" "Whats wrong?" "Gara-gara ngobrol sama kamu, kita telat masuk kelas nih. Lihat kita terlambat 15 menit, Leo!" Tok ... tok ... "Maaf Pak, kami terlambat." "Silahkan saudara dan saudari menutup pintu dari luar, setelah saya mengajar saudara dan saudari bisa menemui saya!" "Ta-" "Sudahlah Ash, kita menunggu di luar saja," ujar Leo menarik tangan Ashley keluar dari kelas. --- "Kok kamu narik aku keluar sih?!" "Santai aja kali! Yuk, kantinlah! Aku lapar, belum sarapan." "Ya, kamu enak bilang santai Leo! Kamu masuk sini bayar, lah aku ... beasiswa. Bisa-bisa nanti beasiswaku dicabut." "Dicabut ya tinggal bayarlah," ujar Leo dengan santainya. "Ya kali, Cleo. Aku gak punya uang sebanyak itu, mahal tahu biaya kuliah di sini!" gerutu Ashley. "Aku rasa kamu gak semiskin itu deh dan namaku bukan Cleo, tapi Leo," ucap Leo. "Bodo, kamu jengkelin banget!" "Lebih baik kita keluar daripada nanti dipermalukan sama tuh dosen di depan kelas." "Ada-ada saja kamu, Leo!" "Beneran, dosen itu mulutnya pedas." "Tahu dari mana kamu? Kurasa itu dosen baru." "Terserah kamu sih, mau percaya apa gak. Tapi aku cuma beri tahu, kalau kamu mau ikut kelasnya dia ya tinggal masuk lagi," ujar Leo cuek. "Kyak ... Cleo! Kamu itu-" "Ganteng." "Huek ... najis!" "Bu, baksonya dua porsi dan es jeruknya dua!" teriak Leo. "Sip, ditunggu ya." "Kenapa kamu malah pesan makanan, bukannya kita disuruh nunggu dia sampai selesai mengajar?" "Capek, mending makan aja." "Ini bakso dan es jeruknya atuh," ucap seorang ibu penjual sambil meletakkan dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk dimeja. "Makasih, Bu!"ujar Leo. "Udah, mendingan kamu ikutan makan aja. Gak usah kuatir, nanti aku yang urus semuanya," ujar Leo ke Ashley sepeninggalan ibu penjual bakso itu. "Oke-" "Enak makannya?" ucap seseorang dengan suara dinginnya. Uhuk ... uhuk ... "Pelan-pelan dong makannya, Ash. Nanti kalau kamu kenapa-napa bisa habis gue sama twins." "Hem ... hmm ...." "Haduh, Pak, lo ngangu orang makan aja!" keluh Leo. "Kamu gila ya! Dia dosen, Leo!" ujar Ashley sambil memelototkan matanya. "Bodo amat, Ash!" "Kalian berdua keruangan saya! Sekarang!" --- "Lo terlalu kaku, Kak!" ujar Leo. "Bicaranya, Leo! Ingat tidak boleh menggunakan lo-gue, aku masih lebih tua dari kamu!" "Iya, iya, cerewet banget sih lo, Kak!"  Yang langsung mendapatkan hadiah pelototan mata dari Arsen. "Hmmm ... kenapa kamu terlambat?" tanya sang dosen. "Something," jawab Leo. "Something ya? Siap dilaporkan sepertinya!" ujar sang dosen dengan smirk-nya. "Ngeselin kamu, Kak Ar!" maki Leo. "Hmmm ... itu pacarmu?" "Bukan, sahabatku," jawab Leo yang hanya dibalas oleh sang penanya dengan mengangkat sebelah alisnya. "Kamu gak percaya banget sih, Kak?!" gerutu Leo. "Ash, kamu sahabat aku, ‘kan?" ujar Leo sambil merangkul pundak Ashley. "Iya.” "Baguslah, setidaknya kamu sudah berhenti mainin perempuan!" "Kyak ... jangan buka aibku juga, Kak Ar! Lagipula aku sudah berhenti sejak kenal Ash." "Kenapa berhenti? Gebetanmu?" "No, Ash adalah orang yang nagajari aku kalau itu gak baik dan telingaku juga sudah kebakaran. Karena ceramah Ash setiap kali aku mutusin cewek." "Baguslah, namamu siapa?" "Aku?" tanya Ashley balik dengan menunjuk dirinya. "Hmm ... siapa lagi kalau bukan kamu." "Ashley." "Kenapa kamu terlambat?" "Lupa." "Lupa?" "Iya, lupa waktu maksudnya. Tadi aku mengajaknya berbicara, Kak," jawab Leo. "Bagus, ulangi sekali lagi, maka kalian gak usah masuk kelas saya satu semester sekalian." "Kejam kamu, Kak!" ujar Leo. "Hmm ...." "Sudahkan? Aku pergi dulu, Kak! Bye ...," ujar Leo lalu menarik tangan Ashley untuk pergi dari ruangan itu. "Dosen sialan!" umpat Ashley. "Udahlah gak usah dipikirin, yuk! Cabut. Udah ditunggu sama twins di mall," ujar Leo. *** "Tumben mau diajak pergi, Ash?" tanya Devina yang biasa dipanggil Vina. "Tuh ... maksa," adu Ashley sambil menunjuk Leo dengan dagunya. "Bagus bro!" ujar Davian sambil meninju pelan pundak Leo. "Yo'i!" ujar Leo dan membalas meninju pelan pundak Davian yang biasa dipanggil Vian. "Kita mau kemana dulu, nih?" tanya Vina. "Ke tobuk aja," jawab Ashley. "Ya kali, Ash, ke tobuk," balas Vian. "Tobuk apaan?" tanya Leo. "Toko buku, dasar kudet!" jawab Vina. “Enak aja, kamu tuh yang kudet!” seru Leo. "Sudah-sudah, sesame makhluk kurang update gak boleh saling menghina!” ujar Ashley, “Kita ke salon aja.” "Hah? Kamu mau ngapain ke salon?" tanya Vina. "Mau ngombre rambut, udah lama aku gak ngombre rambut. Udah hampir dua tahun, aku gak pernah ngombre rambut aku lagi," jawab Ashley. "Kyak ... Ash, ayo!" ujar Vina. "Emangnya kamu gak takut kena ceramah sama Pak Arsen di universitas, Ash?" tanya Leo. "Ash mana peduli sih, Leo. Dulu aja pas sma dia gak pernah takut masuk bk," ujar Vian. "Benarkah? Tapi kok selama ini Ash kelihatannya anak alim ya?" ujar Leo. "Alim sih, paling tidak gak pernah buat onar. Selain ngombre rambut sehingga langganan keluar masuk bk," jawab Vian. "Astaga!" ujar Leo. "Kalian juga mau ikut kita ke salon?" tanya Ashley. "No, kita akan jalan-jalan dulu untuk nunggu kalian," ujar Vian. "Kirain mau ikut," ujar Vina. "Ya kali," ujar Leo sambil memutar bola matanya. *** "Astaga, Ash, Dev!" seru Leo. "Why?" tanya Ashley. "What's wrong?" tanya Vina. "Gak usah sekaget itu, bro! Mereka mah biasa kayak gitu, di luarnya aja kelihatan kalem, aslinya mah ... troublemarker, kalau sudah iseng akan buat sekampung pusing," ujar Vian sambil menepuk pelan pundak Leo. "Oke, kayaknya aku setuju dengan pernyataanmu," ujar Leo. "Kalian pesan makanan dan untuk my twin gak ada kata diet! Sudah tinggal tulang dan kulit gitu masih mau diet aja," tegas Vian. "Aye, aye captain!" ujar Vina. "Mbak!" panggil Leo. "Ada yang bisa saya bantu?" "Saya mau pesan spagetti meat ball sama ice cappucino," jawab Vina. "Saya pesan chicken steak dan ice oreo red vellet," ujar Ashley. "Baik, saya ulangi pesanannya. Makanannya 1 spagetti meat ball dan 1 chicken steak. Minumannya 1 ice cappucino dan 1 ice oreo red velvet. Ada tambahan lainnya?" "Itu dulu aja," ujar Ashley. "Baik, mohon ditunggu 15 menit." Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka berbincang-bincang dan sesekali tertawa karena lelucon yang dilempar oleh Leo. Sekitar lima belas menitan, makanan yang mereka pesan akhirnya dihidangkan dan mereka makan sambil berbincang-bincang ringan. Setelah makan mereka pergi ke Timezone dan bermain seperti anak kecil hingga lupa waktu. Mereka juga pergi ke photo box sebelum pulang, berfoto mulai gaya jaim hingga alay. Setelah foto mereka dicetak, mereka saling meledek satu sama lain, karena gaya alay yang mereka tunjukkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN