Savia menatap kedepan, dia tidak berani mendongakkan kepalanya menatap Anye saat temannya itu ikut terdiam setelah mendengar jawabannya. Mereka masuk ke dalam kelas tanpa berbicara sama sekali. Dia melirik Anye, temannya itu tampak fokus melihat buku catatannya. Savia memutuskan untuk melanjutkan catatannya. Dia sudah ketinggalan cukup banyak sampai harus mengosongkan setengah halaman untuk menambah catatan nanti. Savia sesekali melirik Anye, dia terkejut ketika melihat Anye mengusap ujung matanya. Dia terus saja melihat temannya itu dan memang benar Anye terlihat menangis. Tapi kenapa? Savia merasa bersalah, waktu terasa sangat lama karena dia ingin pembelajaran ini cepat-cepat selesai agar bisa mengajak Anye berbicara. Savia terus saja melirik Anye dan menghela napas lega ketika teman

