~ Saat putus asa mendera, apa yang bisa kamu lakukan?
♥♥♥
"Kamu siapa?" tanya seorang wanita paruh baya berpakaian modis dengan tatapan menyelidik. Tak lama kemudian, menyusul di belakangnya seorang pria paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah memutih dengan tatapan penuh tanya pula.
"Sa-saya ... kakaknya Al." jawabku takut dengan kepala menunduk. Tatapannya sungguh mengintimidasi. Membuatku tak berkutik, tak berani menatapnya.
"Oohh, kamu anak Bu Endah. Sudah lama tak berjumpa saya jadi pangling." Wanita itu menarik sudut bibirnya. Lalu melangkah masuk. Tanpa dipersilakan ia sudah langsung duduk di sofa. "Mana Al?"
"Ta-tadi keluar sebentar sehabis mandi, Bu. Mau beli sesuatu katanya." Aku masih menunduk, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan tanganku pun sudah berkeringat dingin sedari tadi.Aura orang kaya emang beda ya. Selain penampilan, tingkahnya pun terlihat berkelas.
Ya, ampun!
Beda sekali dengan diriku. Tanpa sadar aku melirik penampilanku sendiri. Fyuh! Beruntung aku memakai kaos yang dibelikan Al yang cukup lumayan. Setidaknya tidak begitu memalukan.
"Lalu kamu tinggal di sinikah? Berapa lama?"
Mendengar pertanyaan itu membuatku bingung harus menjawab apa. Tak mengerti juga maksud pertanyaannya. "Ma-maksudnya, Bu?" tanyaku heran dan akhirnya berani mengangkat wajah.
"Kamu tidak bermaksud tinggal di sini selamanya bukan? Hidup menumpang gratis?"
Pertanyaan itu membuatku tertampar. Membuat sudut hatiku terasa nyeri.
"Sa-saya hanya menumpang sebentar, Bu." Aku menahan bulir bening yang sebentar lagi akan jatuh. Entah sejak kapan sudah ada disudut mata. Aku memang cengeng. Tinggal berkedip saja maka sudah dipastikan akan meluruh.
Aku sedih bukan karena pengusiran secara tak langsung, hanya merasa sesak ketika tiada yang menerima keberadaanku di mana pun.
Mau ke mana aku pergi. Sedangkan sepeser sen pun aku tak punya. Kenapa hidupku sesulit ini. Padahal baru saja aku merasa nyaman dengan keadaan ini.
Pun aku tak menyangka, ibu angkat Al ternyata kelakuannya seperti ini. Suaminya pun hanya diam saja sedari tadi. Beruntung Al tidak seperti itu tingkahnya.
"Oh, bagus kalau begitu."
Tak lama kemudian, Al masuk dengan tergesa. "Loh, Mami sama Papi tumben banget berkunjung tanpa ngasih kabar dulu." Al tersenyum lebar lalu menyalami Mami dan Papinya bergantian. Ia pun duduk diantara keduanya. "Mami dan Papi kapan nyampe?" tanya Al.
Aku yang merasa tidak dibutuhkan, segera melipir diam-diam ke belakang. Mencari si bibi minta dibuatkan minuman.
Aku menghela napas mengurangi sesak di d**a. Mengusap bulir bening yang entah sejak kapan sudah mengalir begitu saja.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.
***
"Kak, Mami sama Papi ada ngomong sesuatu? Sepertinya sejak kedatangan mereka, kakak terlihat lebih pendiam," tanya Al dengan raut penasaran menatapku. "Ceritalah." Ia menggenggam erat tanganku dan mengusapnya lembut dengan senyum manisnya.
Aku menatapnya dan ikut mengelus tangan yang menggenggamku. "Kakak lagi berpikir akan kerja dan mencari tempat kost."
"Kenapa masih ngebahas itu? Bukankah kita sudah sepakat? Rumah ini pun terlalu besar untuk aku tinggali sendiri. Semenjak ada Kakak aku malah jadi semangat pulang kerja. Karena ada makhluk cantik yang menunggu di rumah," ujarnya sambil mencium tanganku."Atau Kakak kerja sama kamu saja?"
"Kenapa harus bahas kerja dan kerja. Apakah Kakak perlu uang? Butuh berapa? Tinggal sebutkan saja nominalnya."
Duh, apa yang harus aku katakan. Berkata jujur atau berkelit. Apalagi mendapat tatapan lekat seperti itu dari seorang makhluk tampan. Membuatku hampir menyerah.
"Kakak tidak enak kalau nanti Mami kamu datang, Kakak masih di sini," ucapku sembari menunduk tak berani menatap netranya. Aku bingung harus mengatakan apa. Mungkin jujur memang lebih baik.
"Maksudnya Mami ngusir Kakak? Ini rumah hasil jerih payahku. Jadi tidak ada urusan dengan Mami. Nggak usah didengarkan, ya. Hemm?" Ia mengangkat daguku, menelusuri wajahku dengan jemari besarnya.
Entah karena kesedihan, kekalutan, keputus asaan yang bercampur menjadi membuatku menyerah begitu saja. Menerima apa yang akan dilakukan Al terhadapku. Toh, aku memang bukan orang yang suci.
Bahkan Bapakku sendiri sering melakukan hal nyeleneh terhadapku, sudah tak terhitung. Bukan karena aku menikmatinya. Tapi karena ketidak berdayaanku melawan Bapak.
Ya. Semenjak Ibu meninggal ia melampiaskannya terhadapku. Yang puncaknya lelaki tua itu akan lakukan saat lalu. Saat di mana aku pergi kabur dari rumah. Aku memang sudah sekotor itu. Tapi masih lebih baiklah, setidaknya mahkotaku masih tetap terjaga.
Kali ini aku melakukannya dengan sadar. Bersama orang yang aku sayangi. Walau aku tidak menampik jika semua ini terlalu salah untuk dilakukan.
Lalu siapa memang yang akan peduli? Ini hidupku. Orang lain hanya bisa berkomentar tanpa memberikan solusi. Terserah saja orang mau berkata apa. Mulut-mulut mereka. Aku tinggal tutup telinga saja. Toh, mereka tidak memberiku makan. Lelaki dihadapanku yang rela menampung dan menolongku. Melepaskanku dari keterpurukan dan kemiskinan.
Tak salahkan jika aku membalas budi dengan cara apa yang paling ia inginkan? Mau balas dengan uang? Lelaki muda ini sudah banyak uang. Ia tak butuh.
Saat dalam kepasrahan seperti ini, tiba-tiba pikiran warasku datang. Sehingga dengan segera aku mengusap rahang kokoh lelaki muda diatasku, lalu menggeleng pelan. "Al, adikku sayang. Please ... jangan lakukan."
Ia nampak terkejut. Raut wajahnya yang terlihat berkabut dan memerah menatapku. "Kakak yakin? Berubah pikiran?"
Entah kemantapan dari mana, aku pun segera mengangguk. "Belum saatnya," ujarku sambil tersenyum lembut.
Beruntung ia mau mengerti lalu menarik diri. "Untuk kali ini masih aku maafkan. Entah lain kali ketika aku tak bisa menahan diri." Ia mengecup pipiku sebelum kemudian beranjak dari tempat tidur. Meninggalkanku sendiri.
Ya. Entah sejak kapan kami berada di sini. Aku bener-bener tidak waras. Aku menatap punggung tegapnya yang berlalu pergi meninggalkanku. Semoga saja ia tidak kecewa dan marah. Mau mengerti keadaanku.
Hhhh! Aku memang harus segera pergi. Sebelum pikiran tidak warasku kembali datang.
***
Saat Al sudah berangkat kerja, dengan segera aku mengambil pakaianku. Hanya beberapa potong yang aku bawa. Sisanya aku tinggalkan. Biar tidak ribet juga.
Sikap Al pagi tadi saat bertemu ternyata biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan memberiku uang untuk belanja. Untuk kali ini aku akan memakainya. Lumayan buat cari kost dan pekerjaan.
Semangat, Lyra! Kamu pasti bisa!Selamat berjuang kembali. Waktu liburan sudah habis.
Maaf Al, aku pergi hanya dengan secarik kertas. Tak berani untuk berbicara langsung. Karena aku tahu kamu pasti tidak akan mengijinkan.
Aku pun ingin tahu rasa yang ada untukmu. Benarkah cinta seorang kakak kepada adiknya atau cinta perempuan kepada lawàn jenis.
Kadang aku merasa Tuhan tidak adil. Kenapa liku hidupku seperti ini. Penuh penderitaan. Penuh hinaan dan cemoohan. Bahkan Bapakku sendiri tidak menyayangi selayaknya seorang Bapak kepada anaknya.
Aku jadi teringat sebuah tulisan yang pernah aku baca sekilas, entah di mana. Bunyinya seperti ini, "Banyak yang siap menikah, namun banyak pula yang tidak siap menjadi orang tua.”
Awalnya aku tidak paham makna kalimat itu. Tapi setelah aku pikirkan, Mungkin apa yang aku alami adalah maksud dari tulisan tersebut.
Terkadang putus asa menderaku. Di dunia ini aku sendiri dan tak ada yang menyayangi. Rasanya aku pergi dari dunia ini pun takkan ada yang kehilangan atau ada yang menangisi.
Ya. Sepertinya itu jalan keluar satu-satunya.
Lebih baik aku enyah dari dunia ini saja. Aku harus mencari tempat yang aman untuk melakukan niatku. Agar tak ada yang menghalang keinginanku.
Dan sepertinya aku tahu di mana tempat itu.
***