"shylla selalu baik... ya kan la?" sambung Xiu "eh la... kenapa nangis?"
"gue sedih, usaha mama di Madiun buat butik ini gak gampang" ucap Shylla
"sstt.. cup... jangan nangis la" ucap Xiu
"dek... butik bisa di bangun lagi. semua file dan data penting aman. Runaina kepala toko bisa diandalkan" ucap Darrel
"iya"
"jadi jangan sedih sayangku" ucap kevin
"nanti kita bangun lagi. nanti biar kakak yang urus semua... mau di bangun seperti semula atau bagaimana kamu yang urus dek... bagaimana?" tanya Darrel
"sayang..." panggil Kevin lalu melihat Shylla
"tidur" jawab Xiu
"oh, itu akan membuatnya lebih baik" ucap Kevin
***
Waktu berlalu. Semua sudah beres. Pakaian pengantin juga sudah beres. Tersisa Undangan yang belum di sebar. Tapi Shylla dan Dallin jadi semakin tau bagaimana Intan. Shylla tak mengenal Intan sebaik ia mengenal Xiu. Untuk mengobrol ia jarang. Tapi Shylla bisa melihat semenjak ia bertunangan dengan Darrel. Intan cenderung lebih mendominasi kehidupan Darrel. Tak hanya sekali atau dua kali tapi berulang kali Shylla memergoki kakaknya telat rapat, atau urusan lainnya, karena Intan. Kesal tapi Intan adalah calon kakak iparnya. Shylla tak mampu berkata dan hanya membicarakannya di belakang Darrel.
Malam itu Shylla, Xiu, Dallin dan Kevin berkumpul di halaman belakang rumah Shylla. Awalnya mereka mau membakar jagung, tapi karena hujan terpaksa menunggu hujan berhenti. Entah obrolan mereka di mulai dari mana bisa sampai membicarakan Darrel. Sebenarnya mereka tau, hal yang di benci Darrel membicarakanya di belakangnya. Jika sampai ia tau apalagi membicarakan calon istrinya, mungkin ia akan sangat marah.
"jahat sih, jika gue berharap mereka putus. mumpung belum nikah. kehidupan kakak gue bisa di cela banyak orang kalau gini terus" omel Shylla.
"entah apa yang kakak loe pikir. bisa-bisanya mau di kontrol sama cewek" celetuk Xiu
"karena cinta" jawab Dallin yang sedang istirahat tidak ada syuting
"kembarannya otomatislah di bela" celetuk Shylla
"tapi jika saya melihat Darrel kesulitan saya juga berharap mereka putus" kata Dallin yang sok formal
"biasa aja ngomongnya" ucap Xiu kesal
"atau mungkin hal lain menimpa Intan" ucap Shylla berbisik
"ssttt jangan bilang gtu" ucap Kevin yang baru membuka suara
"kalau Darrel denger loe mau kena marah?" tanya Xiu
"gue sakit pun gak bakal dia peduliin gue, kalau dah marah" ucap Shylla menggerutu
"walau gak peduli tapi itu di luar. khawatirnya melebihi gue" sangkal Dallin
"tapi Intan gak cocok buat Kak Darrel. kak Darrel terlalu penurut. Intannya terlalu ngatur. padahal kak Darrel calon imam tapi calon imam yang mau di atur" ucap Shylla
"la... jangan keras-keras" ucap Xiu
"gue gak tega liat kakak gue kayak menderita sama Intan. walau senyum, entah kenapa gue liat dia bebannya bertumpuk. pekerjaan sudah berat, sekarang yang harusnya dilayani malah melayani calon istrinya. entah Intan punya hati atau gak" ucap Shylla
"perkataanmu terlalu melebih-lebihkan" ucap Dallin
"lebih? yang mana? liat kakak sendiri Xiu perhatian dan mengerti jika calon suaminya artis. liat Intan, calon suaminya jadi pemimpin itu gak gampang, kenapa di tambah harus ngurusin dia yang jelas-jelas dia bisa sendiri" ucap Shylla
"sudahlah... itu sudah pilihannya. mau seperti apa tanggapan kita hanya akan membuatnya marah" ucap Dallin
"ya... gue marah" ucap Darrel yang ternyata mendengarkan sejak awal
"kak Darrel"
"Shylla!. loe adik yang paling gue sayang! ngomong langsung sama gue. jangan di belakang!" ucap Darrel lalu pergi
"kak...." panggil Shylla lalu mengejar Darrel
"kalau marah main pergi aja" omel Dallin yang ikut menyusul Shylla
"sayang hujan" teriak Kevin mengingatkan Shylla. namun tak Shylla hiraukan dan tetap berlari keluar.
Shylla meraih kunci yang ada di meja. Entah itu kunci mobil atau motor, yang penting bisa menyusul kakaknya. Setelah di lihat ternyata kunci mobil mamanya. Shylla berhenti beberapa detik. Tapi tak ada waktu untuk ganti mobil. Sebenarnya Shylla tidak mau menyetir sendiri saat hujan. Tapi ia juga tidak ingin hubungan persaudaraannya rusak karena dia.
Darrel menyetir dengan kecepatan tinggi. Membelah hujan dan dinginnya malam. Hujan tak membuatnya berhenti. Jalanan yang sepi malah membuatnya semakin melajukan mobilnya dengan kencang. Ia tau Shylla mengikutinya memakai mobil mamanya. Shylla berusaha untuk mendahului Darrel tapi sulit untuk di kejar. karena amarah yang menggebu Darrel lupa jika mobil mama remnya blong.
Shylla tidak tau jika rem mobil mama rusak. Sampai saat ini papa tidak membawanya kebengkel karena belum ada waktu dan yang papa yakini tidak ada yang mau memakai mobil Sasya. Sampai di malam hujan, jalan licin, Shylla kecelakaan mobil. Shylla berusaha menghindari sepeda yang akan menyebrang. Namun mobil yang Shylla kendarai akhirnya menabrak trotoar dan terbalik.
Kevin, Xiu, dan Dallin mengikuti di belakang Shylla. Mereka melongo. Tak peduli hujan Mereka langsung berusaha mengeluarkan Shylla dari dalam mobil. Sulit karena Shylla terjepit. Dengan bantuan beberapa petugas akhirnya Shylla berhasil keluar dari dalam mobil dan ia langsung di larikan ke rumah sakit.
Kevin tak bisa berfikir. Awalnya ia ingin mengoperasi Shylla, tapi ia tak mampu menguasi diri dan menunggu di luar. Kevin menatap Darrel. Kesedihan dan penyesalan terlihat di wajahnya. Sebelum Kevin bertindak ternyata Xiu bertindak terlebih dulu. Xiu menangis sambil menampar Darrel. Ia tidak peduli siapa Darrel, yang ia tau karena Darrel sahabat Xiu satu - satunya terluka.
"kenapa loe kabur? kalau loe gak kabur g mungkin Shylla ngejar loe!" ucap Xiu sambil mengusap air matanya
"gue tau kita salah... gak bicara langsung sama loe, tapi kalau loe marah jangan kabur-kaburan! loe tau Shylla gimanakan?" ucap Dallin
"Loe kalau marah, betah banget" ucap Kevin
"loe inget, loe marah sama Shylla, Shylla 5 hari demam gak turun, gara-gara loe diemin, loe cuekin, loe anggep dia gak ada" ucap Dallin
"jangan tinggiin ego loe! Kita bicara di belakang loe ya buat kebaikan loe! kita cuma berpendapat. Shylla cuma kasian sama loe kalau calon loe ngatur hidup loe!" ucap Xiu
kring... kring... handphone Darrel berbunyi. Ia melihat layar nama Intan.
"pergi aja loe! gak usah disini" ucap Xiu
"halo" sapa Darrel setelah mengangkat telpon
"Halo Darius sayang... kamu kemana? lama banget beli k****mnya... aku gak sabar sayang" ucap Intan dari balik telpon
"kamu dimana?" tanya Darrel lalu merekam pembicaraan mereka
"aku dah di hotel YYY sayangku" jawab Intan
"Ngapain di hotel?" tanya Darrel
"lhoh katanya kamu pengenkan Dariusku... ini aku dah di hotel. cepet belinya, kamu gak sabar kan? besok pagi aku mau ketemu Darrel" ucap Intan
"Darius... Dariusku... saya Darrel bukan Darius. Intan... kita batal menikah" ucap Darrel dengan amarah yang memuncak.
Darrel langsung jatuh terduduk. Ia memandang hpnya. Ada bbackground foto Darrel dan Intan. Darrel teringat ia menyimpan nomor hp papa Intan.
"selamat malam om Riko. saya Darrel" sapa Darrel
"iya Darrel, malam-malam tumben telpon ada apa?" tanya Om Riko
"maaf Om, bukan maksud saya menganggu, tapi saya harus bicara secepatnya sama Om" kata Darrel
"iya bicara saja" jawab Om Riko
"bisa kita bertemu Om? atau saya kerumah Om?" tanya Darrel
"Om lagi keluar ini. om di sekitar rumah sakitnya Alex"
"biar saya ke sana om. saya di rumah sakitnya om Alex" ucap Darrel
"siapa yang sakit Darrel?" tanya Om Riko
"Shylla om. dia kecelakaan" jawab Darrel
"biar om kesana" ucap Om Riko lalu menutup telponnya
***