Tangan Raka gemetar hebat.
Ia memperbesar foto yang baru dikirim ke ponselnya. Gambar itu jelas menunjukkan meja kerja, laptop, dan kursinya dari luar jendela kamar kontrakannya.
Artinya…
Seseorang sedang mengawasinya.
Sekarang.
“Ra?” Dimas menatap wajah pucat sahabatnya. “Kenapa?”
Raka langsung menyodorkan layar ponselnya.
Wajah Dimas berubah tegang.
“Anjir…”
“Kirimnya barusan.”
“Ini gak lucu.”
Raka buru-buru berdiri hingga kursinya bergeser kasar. Ia menatap jalanan sekitar warung dengan panik. Orang-orang lalu lalang biasa. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Namun perasaan diawasi itu masih ada.
Seperti ada mata yang terus menempel di belakang lehernya.
“Gue mau pulang,” kata Raka cepat.
“Sendiri? Jangan goblok.”
“Kalau ada orang masuk rumah gue gimana?”
Dimas menghela napas kasar lalu ikut berdiri.
“Yaudah. Gue ikut.”
Perjalanan menuju kontrakan terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Langit mendung menggantung rendah. Jalanan sempit menuju rumah Raka tampak basah dan sepi.
Jantung Raka berdebar lebih cepat. Jujur, Raka cemas apa sebenarnya terjadi. Apakah ini prank orang saja atau ada mahluk astral yang sedang mengerjainya.
Pikiran Raka ruwet. Berkecamuk. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang mencari jawaban di kepalanya. Antara percaya tidak percaya. Raka terus menuju kontrakannya.
Saat motor berhenti di depan rumah, Raka langsung sadar ada sesuatu yang aneh.
Pintu pagar terbuka. Padahal tadi pagi ia menguncinya.