On Air

1144 Kata
Suara “MENJADI PENYIAR” memenuhi seluruh gedung seperti gema tanpa sumber. MENJADI PENYIAR. MENJADI PENYIAR. MENJADI PENYIAR. Raka menutup telinga, tapi suara itu tetap masuk—bukan lewat udara, melainkan lewat kepalanya. Dimas berdiri limbung, wajahnya pucat. “Ra…” suaranya serak. “Gue gak mau mati di sini…” Perempuan di depan mereka tidak bergerak. Ia hanya menunggu. Seperti radio yang menunggu tombol diputar. Jam dari arah studio kembali terdengar di kepala Raka. 02:59… 59 detik. 58… Raka menatap ke arah studio utama di ujung lorong. Lampu ON AIR masih menyala dari jauh, berkedip seperti detak jantung. Lalu ia menatap Dimas. “Kalau kita gak pilih… kita berdua selesai.” Dimas tertawa kecil, tapi getir. “Gue baru sadar… ini bukan pilih hidup atau mati.” “Ini pilih siapa yang jadi suara.” Perempuan itu mengangguk pelan. “Benar.” Suaranya terdengar seperti banyak orang yang bicara serempak dari satu tenggorokan. Raka menelan ludah. “Kalau gue jadi penyiar… apa yang terjadi sama dia?” Perempuan itu menjawab tanpa ragu. “Dia menjadi pendengar.” Dimas langsung menggeleng. “Gue gak mau jadi apa pun.” Suasana makin menekan. Lampu berkedip lebih cepat. Klik. Klik. Klik. Dan dari semua speaker di gedung, suara Bayu terdengar samar. “Jangan pilih cepat…” Raka langsung menoleh. “Bayu?!” Suara itu terdengar seperti berasal dari tape recorder jauh. “Kalau kamu jadi penyiar… kamu tidak akan bisa berhenti.” Perempuan itu menatap Raka. “Sudah terlambat untuk berhenti.” Tiba-tiba lorong di belakang mereka berubah. Pintu-pintu besi kembali muncul. Nomor 001 sampai 009. Dan semuanya terbuka sedikit. Dari dalamnya terdengar suara orang-orang yang sama: pendengar lama. Dimas mundur panik. “Ra… ini makin gila.” Raka menatap tangannya sendiri. Getaran kecil mulai terasa di ujung jarinya. Seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Suara. Bukan darah. Bukan tubuh. Tapi suara. Perempuan itu melangkah lebih dekat. “Pilih.” Jam di kepala Raka berdentum keras. 02:59:40 02:59:41 Raka tiba-tiba menutup mata. Dan dalam kepalanya… ia mendengar Podcast Horor versi dirinya sendiri. Tapi bukan yang sekarang. Yang lain. Yang lebih tua. Lebih dingin. Lebih kosong. “Selamat malam…” Suara itu berkata di dalam kepalanya. “…akhirnya kamu sampai di sini.” Raka membuka mata. “Gue gak mau jadi kayak lo…” Perempuan itu tersenyum. “Semua penyiar mengatakan itu.” Dimas tiba-tiba memegang tangan Raka. “Ra… gue percaya lo.” Raka menatapnya. Untuk pertama kalinya, Dimas tidak panik. Tapi pasrah. “Kalau harus milih… jangan gue.” Hening. Dan di detik itu… Raka sadar satu hal. Perempuan itu tidak pernah memaksa. Ia hanya menunggu keputusan. Seperti frekuensi yang menunggu sinyal masuk. Jam berdentum lagi. 02:59:55 Perempuan itu mengangkat tangan. “Waktu hampir habis.” Raka menatap studio di ujung lorong. ON AIR. Lampu merah itu seperti satu-satunya jalan keluar. Lalu ia menatap Dimas. Dan dalam kepala Raka, satu suara lain muncul. Suara Bayu. “Kalau kamu jadi penyiar… kamu bisa mengubah siaran.” Raka mengernyit. “Gue bisa ubah?” Suara itu menjawab pelan. “Tapi kamu harus tetap di dalam frekuensi.” Perempuan itu menatap Raka lebih dalam. Seolah tahu apa yang sedang dipikirkan. “Tidak ada yang mengubah frekuensi,” katanya. “Selain penyiar.” Jam: 02:59:58 Raka menarik napas panjang. Lalu berkata pelan. “Kalau gue jadi penyiar…” Dimas langsung menoleh kaget. “Ra jangan—” Raka melanjutkan. “…gue yang atur siarannya.” Perempuan itu diam. Untuk pertama kalinya. Tidak langsung menjawab. Jam: 02:59:59 Sunyi. Semua suara berhenti. Dan satu detik sebelum pukul tiga… Raka melangkah ke arah studio. Begitu Raka melangkah masuk ke studio utama, seluruh gedung langsung sunyi. Tidak ada bisikan. Tidak ada statis. Tidak ada suara ketukan. Hanya lampu merah ON AIR yang menyala terang di atas pintu. Dimas berhenti di ambang lorong. “Ra…” Namun Raka tidak menoleh. Entah kenapa langkahnya terasa ringan sekarang. Seolah studio itu… mengenalinya. Jam digital di meja mixer berubah. 03:00 Klik. Mikrofon utama menyala sendiri. Dan seluruh speaker di gedung berbunyi bersamaan. “Penyiar baru telah masuk.” Lampu studio hidup perlahan. Satu per satu. Menyinari meja rekaman tua, mixer audio, dan kursi penyiar di tengah ruangan. Kursi itu kosong. Menunggu. Raka menatapnya lama. Lalu duduk perlahan. Saat tubuhnya menyentuh kursi— KRRRRKKKK— Suara statis meledak di dalam kepalanya. Ribuan suara masuk sekaligus. Tangisan. Jeritan. Bisikan. Nama-nama yang tidak dikenal. Dan di antara semuanya… Suara Bayu terdengar paling jelas. “Jangan dengarkan semuanya.” Raka memegang kepala kesakitan. Darah menetes tipis dari hidungnya. Namun anehnya… Ia mulai mengerti. Semua suara itu bukan sekadar suara. Mereka adalah rekaman. Sisa orang-orang yang pernah masuk ke frekuensi ini. Pendengar. Penyiar. Korban. Perempuan berambut panjang itu muncul di balik kaca studio. Berdiri diam memperhatikan. Kini wajahnya tidak semenakutkan sebelumnya. Ia terlihat… lelah. “Mulai siarannya,” katanya pelan. Monitor live menyala sendiri. Jumlah pendengar langsung melonjak. 1000 LISTENERS 5000 LISTENERS 10000 LISTENERS Komentar memenuhi layar. PENYIAR BARU SUARANYA STABIL AKHIRNYA KEMBALI Dimas berdiri di luar kaca studio sambil menggeleng panik. “Ra, keluar dari situ!” Namun suara Dimas terdengar jauh. Seperti berasal dari dunia lain. Headset di meja perlahan bergerak sendiri. Lalu menempel di telinga Raka. Dan seketika… Suasana berubah. Raka tidak lagi melihat studio. Melainkan ruang hitam luas tanpa ujung. Dipenuhi ribuan sosok duduk diam. Semuanya memakai headset. Tidak bergerak. Tidak bernapas. Mereka semua menatap ke arah satu panggung kecil bercahaya. Dan di atas panggung itu… Ada mikrofon. Suara perempuan terdengar di belakang Raka. “Ini ruang siaran.” Raka menoleh. Perempuan itu kini berdiri normal. Rambutnya tidak lagi menutupi wajah. Ia terlihat seperti manusia biasa. Pucat. Sedih. “Aku penyiar pertama,” katanya pelan. Raka membeku. “Kamu?” Perempuan itu mengangguk. “Dulu… aku juga mencoba menghentikan siaran.” “Dan gagal.” Raka menatap ribuan sosok pendengar di sekelilingnya. “Mereka semua…” “Terjebak di frekuensi.” Perempuan itu menatap panggung kecil di depan. “Setiap suara yang masuk ke sini… tidak bisa pergi tanpa pengganti.” Raka mengepalkan tangan. “Kalau begitu gue bakal hancurin semuanya.” Perempuan itu tersenyum tipis. “Banyak yang mencoba.” Tiba-tiba suara statis memenuhi ruang hitam itu. KRRRRKKK— Dan sosok lain muncul di atas panggung. Bayu. Namun kondisinya mengerikan. Tubuhnya samar seperti rusak. Wajahnya penuh noise hitam bergerak. Ia menatap Raka dengan mata kosong. “Kamu tidak punya banyak waktu.” Raka melangkah mendekat. “Gimana cara nutup frekuensinya?!” Bayu mengangkat tangan perlahan ke arah mikrofon di panggung. “Hancurkan suara aslinya.” Raka mengernyit. “Suara asli?” Namun sebelum Bayu menjawab— Seluruh ruang siaran bergetar hebat. Lampu panggung pecah. Dan semua pendengar perlahan mulai berdiri bersamaan. Krek… Krek… Krek… Suara tulang bergerak memenuhi ruangan. Perempuan itu langsung pucat. “Mereka bangun…” Raka melihat ribuan pendengar mulai menoleh ke arahnya. Dan semuanya berkata dengan suara yang sama: “Jangan hentikan siaran.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN