3. Kecelakaan

1149 Kata
“Alya dipanggil Bu Naila tu keruangannya.” Kata salah satu karyawan yang juga teman Alya. Alya mengangguk kemudian bergegas keruangan Naila. Tok. Tok. Tok. “Permisi Bu Naila.” Kata Alya, dia sendiri bingung ada apa Bu Naila memanggilnya. “Masuk.” Jawab Naila, Alya mendorong pintu dengan pelan. Didalam sudah ada Naila yang duduk dikursinya. “Ada apa Bu?” Tanga Alya yang masih berdiri. “Saya ingin bicara sama kamu, duduklah.” jawab Naila, Naila adalah tipe orang yang blak-blakan dan langsung pada intinya tidak suka bertele-tele. Alya langsung menarik kursi didepannya dan menduduki nya. “Saya berniat ingin menjodohkan kamu dengan anak saya Adit.” Alya mematung mendengar kan perkataan Naila. “Ehm, maaf Bu saya ini hanya orang tidak punya, miskin lagi pula saya sudah memiliki anak.” Jawab Alya. Naila memperhatikan wajah Alya yang menunduk. “Saya tidak masalah dengan itu.” Kata Naila, lagi pula dia tidak mempermasalahkan tentang harta. “Sekali lagi saya minta maaf Bu, saya tidak bisa saya ingin merawat anak saya terlebih dahulu.” Jawab Alya, Naila semakin kagum dengan Alya dia masih muda tapi mau mengemban tugas berat yang seharusnya bukan untuk dirinya. “Ya baiklah tidak masalah.” Kata Naila, Naila juga tidak ingin memaksakan kehendaknya. “Ya sudah kamu boleh pergi.” Alya langsung pamit untuk pergi dari ruangan Naila. Dia juga tidak menyangka kenapa Naila bisa berniat untuk menjodohkan dirinya dengan putranya. “Lo Kayla kemana?” Tanya Alya saat membuka pintu ruangan yang beberapa hari ini ditempati oleh Kayla. Dengan panik Alya mencari keberadaan Kayla, dikamar mandi tidak ada didalam butik juga tidak ada. “Mbak tadi liat Kayla gak?” Tanya Alya dengan panik. Dia semakin panik saat mendengar ada suara keras dari luar butik, dan suara orang yang berteriak. Semua orang bergegas keluar begitupun dengan Alya. Matanya membulat, tubuhnya mematung melihat gadis kecil tergeletak ditengah jalan dengan darah keluar dari kepala, banyak yang mengerubungi gadis kecil itu. “Kayla!” Teriak Alya, secepat mungkin dia menghampiri putrinya. “Kayla bangun.” Teriak Alya kembali, ambulans sudah datang, dengan cepat Kayla dibawa kerumah sakit terdekat dari sini. “Kayla bangun, ini bunda.” Kata Alya dengan terisak. Sedari tadi dia menggenggam tangan putrinya. “Kayla maafin bunda.” Sambungnya kembali. Rumah sakit. “Dok tolong selamatkan anak saya.” Kata Alya dengan air mata yang mengalir. “Iya Bu, ibu tunggu sebentar disini.” Jawab dokter itu. “Alya.” Panggil Naila, mendengar kabar kecelakaan putri Alya Naila langsung saja pergi kerumah sakit. Dia juga sangat khawatir dengan keadaan gadis kecil yang sudah mencuri hatinya. Meskipun dia hanya bertemu sekali. “Bu Naila.” Alya memeluk tubuh Naila, dia menumpahkan semua tangisnya. Dokter keluar dengan satu orang suster “Permisi Bu, kita harus melakukan operasi secepatnya pada pasien.” Perkataan dokter bagaikan pisau yang menusuk hatinya. “Hiks, hiks, hiks, aku dapet uang dari mana.” Kata Alya, nasibnya memang sangat buruk untuk makan sehari-hari saja dia harus menghemat. Lalu bagaimana dia bisa membayar semua biaya rumah sakit dan operasi untuk putrinya. “Saya akan bayar semua biaya rumah sakit Kayla, tapi dengan satu syarat.” Kata Naila. Alya mendongok menatap Naila, Alya mengangguk setelah Naila memberitahukan syarat itu. Dia akan melakukan apapun untuk putri kecilnya. Naila segera pergi keadministrasi untuk melakukan pembayaran secepatnya, dia memanfaatkan keadaan ini dengan sangat baik. “Saya sudah bayar semua biaya rumah sakit Kayla.” Kata Naila menghampiri Alya. Alya bersyukur ada Naila disini. “Terimakasih banyak Bu.” Jawab Alya dengan isakan kecil. Alya dan Naila duduk diluar ruangan operasi selama 2 jam, Alya sangat khawatir dengan putri kecilnya. Ceklek. “Bagaimana dok?” Tanya Alya pada dokter yang baru saja selesai mengoperasi Kayla. “Alhamdulillah Bu, semuanya baik-baik saja. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan keruangan rawat.” Jawab dokter. “Terimakasih banyak Bu atas bantuannya.” Kata Alya pada Naila, ia berhutang budi pada bosnya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi mertuanya. “Tidak usah ber terimakasih Al.” Jawab Naila dengan tersenyum. “Ini kamu ganti baju dulu, bajumu terkena noda darah.” Kata Naila memberikan peper bag berisi baju yang dia beli diluar rumah sakit setelah melakukan pembayaran. “Terimakasih Bu.” Jawab Alya, dia menerima paper bag itu dan segera kekamar mandi untuk mengganti pakaian nya. Kayla sudah dipindahkan keruang rawat, Alya merasakan nyeri didadanya melihat putri kecilnya dengan kondisi kepala diperban, lalu kakinya yang juga diperban karena terluka. “Maafin bunda nak.” Kata Alya kembali, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena ini semua karena kelalaiannya putrinya celaka. “Al, saya pulang dulu.” kata Naila setelah memasuki ruangan Kayla. Setelah berpamitan Naila meninggalkan rumah sakit dengan perasaan bahagia yang luar biasa. “Sayang kamu harus cepet sembuh ya, sebentar lagi bunda gajian nanti Kayla bunda beliin boneka yang waktu itu.” Kata Alya, air matanya perlahan turun kembali. Pukul 17.00 Kayla belum ada tanda-tanda untuk sadar kata dokter Kayla akan sadar sekitar 2 jam lagi, jika belum sadar dokter akan melakukan pemeriksaan kembali. Alya masih setia duduk disamping Kayla dengan menggenggam tangan kecil Kayla. Alya terpaksa meninggalkan Kayla saat adzan magrib berkumandang, dia segera berlalu kemushola rumah sakit untuk melakukan sholat magrib. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri yang belum makan dari tadi siang, dia ingin segera menemani anak nya kembali. Takut anaknya yang sudah bangun. Alya memandangi jam dinding diurangan inap kayla, jam itu terus berputar tapi menurutnya jam itu berputar sangat lama. Pukul 19.05 Kayla menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Alya, Alya tersenyum melihat putrinya yang perlahan membuka mata. “Kayla.” Kata Alya pada putri kecilnya. “Bunda.” Panggil Kayla, matanya sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan air matanya. “Sayang kenapa nangis, ada yang sakit?” Tanya Alya khawatir, Kayla menggelang membuat Alya menghembuskan nafas lega. “Maafin Kayla bunda.” Kata Kayla, dia takut bundanya akan marah karena dia tidak menuruti permintaan sang bunda. “Maaf kenapa sayang?” Tanya Alya bingung, Kayla kembali menangis membuat Alya panik. “Kayla udah janji sama bunda, buat gak keluar dari situ tapi Kay langgar janji Kay.” Jawab Kayla. Alya tersenyum mendengar perkataan putrinya. “Tidak apa-apa sayang, sekarang Kayla jangan nangis lagi ya.” Kata Alya, dia tidak suka melihat putrinya menangis. Setelah satu jam sadar Kayla kembali tidur, Kayla butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya yang belum setabil. Pukul setengah lima Alya bangun dari tidurnya, punggung dan tangannya sakit karena dia tidur dikursi disamping tempat tidur Kayla. Dia bergegas kemusshola untuk sholat subuh, setelah itu dia membeli sarapan dibawah sebelum Kayla bangun. “Bunda.” Panggil Kayla saat melihat sang bunda memasuki ruangannya. “Sayang sudah bangun.” Kata Alya dengan senyum mengembang dibibirnya. Anaknya sudah kembali tersenyum, itu artinya anaknya sudah lebih baik dari pada kemarin. “Permisi.” Kata suster dengan membawa sarapan untuk Kayla. “Bu ini sarapan untuk pasien dan jangan lupa minum obatnya.” Kata suster yang diangguki oleh Alya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN