Hamil bukan kata yang ingin ia dengar. Walau ia tahu, bayi ini tak bersalah. Ia yang salah karena sudah menyerahkan diri. Ya kan tergoda dengan ketampanan? Dan rasanya memang aneh baginya. Ia tak bisa menolak sekalipun. Niatnya ingin menenangkan diri di sini nyatanya malah jadi sebaliknya. Ia makin gelisah hingga sulit tidur. Namun beruntung karena punya teman baru yang perduli. Marimar tahu rasanya tak menginginkan anak di dalam rahim, tapi sudah terlanjur ada. Sesuatu yang juga masih ia coba untuk terus menerima hingga hari ini. Makanya, ia selalu datang tiap waktu untuk memastikan Cassie makan dengan baik. Walau tahu nama aslinya, Marimar tak ingin mencoba memanggilnya dengan nama itu. Karena Marimar pun punya ras atrauma dengan namanya sendiri. Ya karena disebut oleh para p*******a

