"Kenapa sih?" Ia tentu heran lah. Kan tinggal makan. Apa susahnya? Zikri berdeham. Ya dari pada komplain kan? Lebih baik ia ikuti saja lah. Mungkin mood Tata sedang baik. Itu saja yang ia pikirkan. Ya lupa dengan usahanya sendiri. Bukan kah biar bisa di titik ini, ia sudah mengusahakannya dengan baik? Ia menghembuskan nafas. Mari makan tanpa komplain. Walau sebenarnya Tata masih terenyuh dengan apa yang ia lakukan. Ya merasa senang saja. Karena akhirnya ada yang membelanya. Urusan apakah akan dipercaya atau tidak ya sudah. Mereka sudah berusaha keras sampai di titik ini kan? "Makasih udah membelaku." Tahu-tahu ada yang bicara begitu usai makan. Zikri mengerjab-erjab. Tentu bingung. Tentu linglung. Barusan Tata yang ngomong? Iya atau tidak? Sementara Tata menghembuskan nafas. "Cuma s

