Aku masih memeluk AlQuran di tanganku, jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Sudah satu jam aku bersujud dan meminta kepada Tuhan apakah segala keputusan yang kuambil itu benar atau salah. "Hanya demi Cilla mas. Bukan yang lain." Kataku saat aku menerima permintaan mas Moondy. Pada akhirnya pintu maaf itu kuluncurkan juga dari bibirku. Aku mengalah pada keadaan. Aku menyerah pada perasaanku sendiri yang ternyata tak bisa menghapus cintaku pada mas Moondy. Biarlah aku dianggap terlalu bodoh atau bahkan perempuan yang lemah, nyatanya memang aku perempuan yang lemah dan tak berpendirian. Mas Moondy terus memaksaku untuk memaafkan segala kesalahannya. Dia menggunakan kesempatan disaat hatiku terluka saat aku mengetahui Dito kecewa padaku. Aku menerimanya kembali menjadi suamiku. Kucabut g

