Karena pertemuan Di butik dengan sang Mihu. Sepertinya Vanka harus berbesar hati menerima hukuman yang diberikan oleh Mihu nya. Gadis itu harus kembali ke rumah sampai waktu yang tidak ditentukan, meninggalkan apartemen tempat ternyaman bagi dirinya.
Tidak hanya itu dia juga harus merelakan, ponselnya disita selama lima hari. Mungkin bagi kebanyakan orang menganggap tindakan Luna menyita ponsel Vanka terlalu kolot untuk zaman sekarang ini.
Namun untuk saat ini Luna benar-benar mengawasi sang anak, dia tidak ingin kecolongan. Apalagi saat mendengar pemaparan dari Seno yang ia paksa memberi tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Vanka.
Luna tau betul, jika terjadi sesuatu dengan Vanka mengenai masalah di sekolah. Mantan pengawalnya itu lah yang akan tahu lebih dulu. Karena sejak masuk sekolah dasar sampai saat ini nama Sekolah yang tertera di data diri Vanka sebagai wali murid gadis itu.
Seno hanya menjelaskan dengan versi dia sendiri, masih tidak ingin menceritakan detail apa yang sebenarnya terjadi. Ibu satu anak itu hanya menjelaskan jika ada kesalahpahaman akibat saling senggol di club.
Hal itulah yang membuat Luna panik, masa lalunya yang kurang baik berawal dari tempat seperti itu, membuatnya panik jika sesuatu hal yang menimpanya kala itu, akan terjadi juga dengan sang anak.
Sebenarnya Seno tidak ingin mengatakan jika Vanka pernah ke club, karena tau akan melihat Luna menjadi over protektif. Tapi jika Mantan Nyonya nya itu sampai tau dari orang lain, bisa-bisa dia tidak dipercayakan lagi mengawasi Vanka. Satu-satunya putri dari pasangan Agam dan Luna Sucad.
Setidaknya Luna tidak akan mencari tahu, kejadian yang sebenarnya, setidaknya Vanka tidak akan mendapat hukuman lebih dari yang dia dapat sekarang.
•
•
•
"Mihu, Pihu. Vanka berangkat sekolah dulu ya!" pamit gadis itu menghampiri kedua orang tuanya yang tengah sarapan.
"Sarapan dulu nak, baru berangkat. Ini hari Senin, upacara nanti kamu nggak kuat kalau nggak sarapan."
"Vanka nggak lapar Mi, makannya nanti saja di sekolah."
"Nak, kamu masih mau kembali ke apartemen kan? Cobalah buat Mihu mu ini percaya jika kamu benar-benar bisa menjaga diri dengan baik."
Vanka menghela napas, ikut duduk di meja makan. Sedikit jengkel karena ancaman sang Mihu.
"Mihu mu memang suka ngancem sekarang Va, entah siapa yang mengajarinya, kalau sampai Pihu tahu. dia orang pertama yang akan dikirim ke jalur Gaza dan nggak bisa balik lagi. Karena itu orang, jatah Pihu sering terancam," bisik Agam berkeluh kesah kepada sang anak.
"Jatah, apa Pihu?" bisik Vanka balik, masih belum paham apa yang dikatakan Pihu nya.
Agam jadi gelagapan saat Vanka bertanya, bingung harus jawab apa."Kenapa berbisik! Ayo cepat habiskan sarapan kalian." Ayah dan anak itu hanya berdehem kembali melanjutkan sarapan.
•
•
•
Hari ini Vanka kembali masuk sekolah setelah masa skorshingnya selesai. Tiga hari ya sudah tiga hari dia dibawa pulang kembali ke rumahnya. Ponsel pun disita juga, Melalui hari tanpa mengetahui kabar dari pria karismatik yang beberapa hari ini mengisi kepalanya, sejak melihat pria itu berkuda sambil memanah, hingga kemejanya yang tersingkap. Karena Galent tidak ingin mengenakan setelan berkuda.
Baru kali ini Vanka menyadari keindahan makhluk tuhan yang nyaris sempurna. "Tunggu kenapa belakangan ini, gue selalu kepikiran om-om itu. Nggak bener ini seharusnya Gue kepikiran anaknya yang sering sakit." Vanka bermonolog sembari berjalan menuju kelas.
"Come on Vanka dia laki orang!"
"Hah! Apa kak, siapa laki orang?" tanya Cia yang mendadak ada di sebelah Vanka. Membuat gadis itu terkejut.
"Eh, nggak. Lo ngagetin ih, mendadak ada di samping gue."
"Huh, kakak aja pagi-pagi udah melamun, sampai gue panggil nggak noleh."
"Oh iya kak, gimana? Kapan kita bisa balik ke apartemen. Maaf ya semua masalah ini karena gue nggak denger ucapan lo."
"Santai aja nggak usah merasa bersalah, Gue juga belum tau kapan bisa balik lagi. Ponsel aja masih disita."
"Hah, jadi ponsel lo disita kak, pantes aku chat whats*p gue nggak di read," keluh Cia memberi tatapan ibah.
"Iya dua hari lagi, baru dibalikin ponsel gue."
"Hebat lo kak sanggup nggak pegang ponsel."
"Mihu, selalu melibatkan gue dalam beberapa kesibukan dia, kalau malam pada ngumpul bareng di living room. Jadi nggak terlalu mikirin ponsel, malah kepikiran tu si Om." Eh, aish mulut sialan nggak bisa di kontrol.
"Hah! Om siapa kak?"
"Eh enggak maksutnya baby Chloe Ci."
"Iya, gue juga kangen kak. Kapan-kapan kita lihat dia ya kak."
"Kalau kita udah bisa balik lagi ke apartemen, gue ajak lo main sama Baby Chloe." Kebetulan guru yang mengajar di jam pertama dan kedua tidak masuk kelas, karena lagi ada keperluan mendadak. Waktu kosong ini dimanfaatkan oleh Vanka untuk menyalin catatan pelajaran yang tertinggal selama masa skorsing kemarin.
•
•
•
Saat Vanka juga Cia tengah asik makan di kantin. Seorang Siswa dengan tampilan cukup keren yang baru pertama kali dilihat Vanka berada di sekolah ini.
"Anak baru ya?" bisik Vanka di telinga Cia.
"He'em, Udah ganteng, senyumnya manis banget lagi. Mobilnya juga keren banget kak," jawab Cia balik berbisik.
"Sejak kapan lo matre?" bisik Vanka kembali lalu melanjutkan makannya.
"Boleh gabung kan?"
"Duduk aja," jawab Cia memberi senyum tipis.
"Hai, gue Darx siswa baru disini, dua hari lalu pindah ke sekolah ini."
"Gue Vanka, ini Cia," jawab Vanka sembari melirik Cia.
"Iya, Gue udah kenal Cia. Oh ya kok gue baru liat lo ini hari, kemarin lo nggak masuk sakit atau kenapa?" tanya Dark sambil mengaduk mienya.
"Eh, sorry ya kalau terganggu dengan pertanyaan gue, nggak usah dijawab juga nggak apa kok," cicit Dark memperhatikan Vanka yang terlihat tidak tertarik sedikitpun dengan kehadirannya, berbeda dengan Cia yang terlihat antusias dengan ocehannya.
"Eh santai aja nggak apa kok," ujar Cia menyenggol Vanka. Membuat gadis yang di senggol itu dengan malas menatap Darx.
"Gue, kena skorsing, karena buat lecet lima cewek manja sekolah ini."
"Woh, keren. Coba aja gue bisa liat lo fight pasti seru," ucap Dark memandang takjub Vanka.
"Biasa aja kok, nggak ada seru-serunya sama sekali. Cepat habiskan makanan lo. Bentar lagi bel masuk." tiga orang itu pun melanjutkan makan, tanpa ada pembicaraan lagi. Sampai Bella juga keempat temannya menghampiri Darx.
"Hai, Darx gabung yuk di meja kita, gue dan teman-teman gue mau traktir lo anggap aja sambutan lo sebagai murid baru di sekolah ini."
"Moon, maaf gue udah pesan makan sendiri. Mungkin lain waktu kali ya."
"Ngapain sih, makan di sini, Bareng cewek bar …." belum sempat Bella menyelesaikan kalimat. Terhenti karena kaget dengan gebrak satu tangan Vanka.
Bella yang mendadak pias saat melihat tatapan membunuh dari Vanka, memilih pergi meninggalkan ketiga orang itu.
"Gue tebak, mereka yang buat lo di skorsing."
"Ternyata lo cukup pintar juga," ujar Vanka lalu beranjak meninggalkan meja. Disusul oleh Cia.