Hari ini jadwal Galent sangat padat sekali, mulai dari mengecek email hasil kerja dari beberapa divisi dalam kantornya, meeting dengan salah satu calon investor barunya. Meninjau hunian yang akan siap ditawarkan kepada konsumen, semua kegiatannya itu memakan waktu hingga sore hari, hingga ponsel pun tidak tersentuhnya,
Kegiatannya itu pun berlanjut untuk melihat presentasi proposal pemasaran hasil produksi. Hingga pukul 21:13 barulah Galent dapat relax sejenak, lalu pulang ke rumah.
___________¥___________
Sambil mengendurkan ikatan dasi. Galent membuka pintu kamar sang putri, untuk melihat apakah bayinya sudah tidur atau belum.
Tampak Reni, sang pengasuh tertidur bersimpuh di samping box bayi. Sedangkan Baby Meira masih terjaga sembari memainkan baju Vanka yang digunakan sebagai selimutnya.
"Ren, bangun pindah ke kamarmu sana!"
"Eh, em iya baik Tuan, tapi Nona Meira masih belum tidur."
"Nggak apa nanti saya yang urus." Reni pun mengangguk lalu beranjak meninggalkan kamar.
Galent pun mengambil Baby Meira, lalu membawa ke kamar. Bayi kecil yang kini sudah tidak rewel seperti beberapa hari lalu, tampak anteng saat hendak ditinggal mandi oleh Galent.
Hampir tiga puluh menit setelah merelaksasi, membersihkan diri. Kini Galent sudah sangat segar dengan memakai kaos putih juga bokser. Menyusul merebahkan diri di ranjang dengan sebotol s**u yang baru saja dibuat.
"Kok belum tidur, kangen ya sama suara aunty, eh kakak Vanka sebab itu kamu belum tidur," cicit Galent mengelus pipi Baby Meira.
"Karena sangat sibuk aku tidak tau kabarnya hari ini, kita hubungi dia sekarang ya." Saat ingin mengambil ponsel di nakas. Galent baru menyadari benda pipih yang khusus menyimpan kontak pribadinya tertinggal di laci meja kerja. Hanya ponsel untuk keperluan kantor yang iya bawa pulang.
Galent pun mengambil ponsel kantornya lalu mendial kontak bertuliskan Max. Cukup lama berdering namun tidak diangkat, pria itu pun mengulang kembali panggilannya.
"Ha .... halo Tuan ada apa?" tanya Max yang terdengar seperti menahan sesuatu.
Sejenak Galent menjauhkan ponsel dari telinganya. Bergumam merutuk, saat menyadari dirinya menghubungi asisten nya di waktu yang tidak tepat.
"Kau sedang apa?!"
"Ti … tidak ada Tuan, hanya …." Max sudah tidak dapat lagi melanjutkan kata-katanya.
"Akh Och, beib fast!"
"Hah apa! Beib? Fast?" tanya Galent masih pura-pura sok polos.
"Eh nggak Tuan, oh iya ada apa menghubungi saya saat malam seperti ini?" Kini Max sudah bisa bicara sedikit normal. Mungkin gadis yang sedang bersamanya menghentikan aktivitas olahraga di malam hari mereka.
"Tolong ambilkan ponsel pribadiku di laci meja kerja, aku mau menghubungi seseorang. Penting."
"Em baiklah Tuan, maaf apakah anda mau menghubungi Nona Vanka? Saya ada kontaknya." Max mencoba nego, agar tidak perlu meninggalkan aktivitas menyenangkan bagi dirinya.
"Sok tau kamu, apa cuma gadis itu saja yang harus dihubungi dari ponsel pribadiku, cepat ambilkan, segera bawa kemari."
"Baiklah baik Tuan, akan segera saya ambil." Galent pun mematikan ponselnya, tertawa kecil saat memikirkan betapa frustrasinya sang asisten saat lagi panas-panasnya mendadak harus di guyur air di malam hari.
•
•
•
"Ini Tuan ponselmu, e tolong dong pak Duda. Dimana peri keanuan mu, teganya kau membuat tiger gue kesakitan. Apa yang kamu lakukan ini jahat mas! Eh Tuan."
"Halah, drama kamu. Udah saya ingatkan kamu berulang kali, jangan keseringan one night stand, mending kamu nikah lebih sehat itu."
"Aku sekarang, hanya sama satu orang aja kok, cuma belum ke tahap serius aja, masih banyak yang harus dipertimbangkan." Dalam Agama hubungan seperti Max ini sangat terlarang.
Tapi Galent tidak dapat mengatur, orang untuk selalu mendengarkan ucapannya, setidaknya untuk saat ini Max hanya melakukan itu hanya dengan satu orang.
"Yaudah gih, sana pulang. Lanjutkan kegiatanmu," ucap Galent fokus dengan ponselnya.
Galent mencoba menghubungi Vanka. Namun panggilan tidak terhubung, pesan yang iya kirim pagi tadi ternyata juga belum di read. Pria itu mendadak panik, memikirkan apakah, terjadi sesuatu dengan gadis itu. Mengingat hanya tinggal berdua dengan sahabatnya.
Galent beranjak perlahan dari ranjangnya agar, tidak membangunkan Baby Meira. Lalu berganti celana, menyambar kunci mobil. Melajukan mobil ke apartemen Cia.
Sesampainya di depan gedung apartemen, Galent meminta tolong, ke security apartemen itu. Untuk bertanya ke resepsionis apakah Vanka ada di dalam. Pria tidak ingin mengambil resiko, dengan bertanya sendiri. Dia tidak ingin ada gosip konyol mengenai dirinya.
Beberapa menit menunggu, sang security, Galent hanya menerima laporan tidak menyenangkan. Vanka tidak ada ada di apartemennya, dan resepsionis tidak mau memberi info lebih, mengenai privasi para penghuni apartemen.
Galent pun terpaksa kembali ke rumahnya tanpa mengetahui apapun. Pria itu kembali menghubungi Max. Meminta asistennya mencari tau apa yang terjadi dengan Vanka.
______________¥______________
Tidak terasa dua hari sudah berlalu, namun Galent. Belum dapat menghubungi Vanka. Max pun hanya memberi informasi yang kurang lengkap. Hanya mengenai masa skorsing tapi setiap pagi masih mengantar sahabatnya ke sekolah, tapi itu sebelum Vanka menghilang.
Galent bertambah gusar, karena tidak memiliki petunjuk apapun. Dia tidak bisa menerima jika tidak dapat bertemu Vanka lagi. Untuk saat ini pria itu benar-benar ingin melihat senyum manis Vanka, seperti saat bermain dengan Bab Meira.
Ingin mendengar Kata Om, yang terdengar menjengkelkan di telinga Glent. Karena dia tidak ingin dianggap tua. Tapi anehnya pria itu suka.
Keadaan kantor pun dibuatnya mencekam, tidak ada Galent yang tersenyum di pagi hari. Beberapa pegawai wanita sampai menangis karena mendapat kata-kata yang menampar hati, saat Galent tidak puas melihat hasil kerja pegawainya.
Banyak yang harus lembur, karena Galent benar-benar memeriksa data di setiap Divisi. Sampai tanpa diduga dia menemukan kecurangan beberapa dokumen yang dimanipulasi.
Tanpa segan-segan dia memecat dan menuntut oknum yang terkait dalam kecurangan. Karena kejadian ini, peraturan pun semakin diperketat. Membuat beberapa pegawai kelimpungan.
•
•
Dengan wajah datar, juga rambut yang sudah tidak teratur lagi. Galent terlihat fokus menatap layar laptopnya, dengan sepuluh jari bergerak gesit di keyboard laptopnya. Pria itu menoleh sekilas karena ada pergerakan di pintu ruang kerjanya. terlihat max berjalan dari balik pintu sembari membawa nampan berisi kopi dan camilan.
"Tuan, boleh saya bicara. Peraturan baru yang anda buat, sepertinya membuat para pegawai bekerja dalam tekanan, dan jika ini terus berlanjut akan berdampak buruk bagi perusahaan," ujar Max saat meletakan kopi dan cemilan untuk menemani Galent lembur di rumah meski hari ini adalah minggu. "
"Sepertinya aku sudah terlalu menyepelekan hal kecil yang mereka lakukan, hingga memacu untuk berbuat yang lebih, kemana aja kamu bisa sampai kecolongan seperti in?"
"Iya Tuan, saya akui ini juga kesalahan saya. Tapi mohon di pertimbangankan lagi, saran saya. Istirahatlah lah Tuan belakangan sepertinya kondisi tubuh anda kurang pit, pola makan anda juga tidak seperti biasanya."
"Satu jam lagi Saya akan istirahat, pulanglah kalau kamu sudah ingin beristirahat, terimakasih untuk kerjamu walau ini hari libur," ucap Galent masih fokus dengan laptopnya.
"Oh ya Tuan, masa skorsing Nona Vanka sudah berakhir. Jika dia masih ada disini, kemungkinan besok akan masuk sekolah, temanku yang bekerja di sekolah itu akan mengabari jika Nona Vanka berada di sekolah. "
"Ya kita lihat besok, ya sudah pulang lah. Sebentar lagi aku juga akan beristirahat." Max pun mengangguk lalu pamit pulang.