Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan.
Tapi sepertinya Vanka tidak mendapatkan keindahan itu pada pagi hari ini. Gadis cantik itu terlihat lesu, memegang kepala yang terasa pening, kantung mata yang menghitam didapatkan gadis itu karena kurang tidur, menjaga bayi yang beberap jam sekali terbagun, mengingat siklus tidur bayi masih belum menentu.
Meski begitu, dia harus tetap beranjak dari ranjangnya, harus pulang ke apartemen untuk bersiap ke sekolah.
Dia turun ke bawah, mencari Bibik yang bekerja di rumah Hara ini. Vanka menghampiri Bik Ana yang tengah membuat sarapan.
"Selamat pagi Non Vanka," sapa bibik sembari mematikan kompor, karena masakannya sudah matang.
"Pagi Bik, em … bik saya mau minta tolong sama bibik, nitip baby yang saya bawa, karena saya dan adik saya harus sekolah. Nanti ada tips selama bibik menjaga baby itu."
"Boleh Non, insyaallah saya urus bayinya dengan baik."
"Em … tapi Bik, saya tidak punya perlengkapan bayi seperti pakaian ganti setelah dimandikan nanti." Vanka baru kepikiran pagi ini, bahkan popok saja dia tidak sempat beli kemarin malam.
Beruntung, Hara menyimpan beberapa punya keponakannya yang sempat menginap di rumah ini.
"Tenang aja kak Vanka, punya keponakan gue ada berapa stel baju juga yang lain sengaja di tinggal maknya di sini." Vanka menoleh melihat Hara yang menghampiri mereka di dapur.
"Gue makasih banget sama lo, nggak tau harus ngelakuin apa kalau nggak ada lo," ujar Vanka merasa beruntung masih bisa dapat solusi meski dalam keadaan seperti ini.
"Ok kalau gitu, gue banguni Cia dulu ya, gue harus bersiap ke sekolah, gue ada janji juga dengan seseorang."
"Iya kak," jawab Hara, memberi senyum tipis.
Setelah Cia bangun, Vanka juga Cia pun pamit denga Hara juga Bik Ana. Hara sempat memaksa mereka sarapan lebih dahulu baru pulang namun waktu kedua gadis itu semakin menipis untuk bersiap ke sekolah.
•
•
•
"Gue baru ngerasain sekarang sulitnya jadi seorang ibu, kurang tidur karena mencoba menenangkan bayinya kalau lagi rewel. Gue jadi kangen Mihu, Ci." Vanka mulai berkaca-kaca sembari menyisir rambutnya.
Cia yang masih merapikan seragamnya, menghampiri sahabatnya yang duduk di depan meja hias.
"Nanti, kalau sudah menemukan siapa orang tua bayi itu. Kita pulang ke rumah ya kakak, jangan nangis Cia juga ikutan nangis nanti." Gadis manja itu mengusap air mata yang menggenang di mata inda sahabatnya itu.
"Ayuk kak! Kita sudah terlambat ini, malas banget kalau di hukum sama, pak ciplek (cilik, pendek, tuwek elek) hidup lagi."
"Ih lo, kalau ngatain orang suka benar, yuk berangkat,"
Mobil Vanka mulai membelah jalan yang cukup padat di pagi hari ini. Setelah hampir setengah jam berkendara di pagi hari yang cerah ini. Mobil Vanka sudah sampai di parkiran sekolah.
Kedatangan kedua gadis itu, sudah ditunggu oleh Aeere juga Zea yang memberikan tatapan mengejek kepada mereka.
"Gue kira lo nggak akan datang ke sekolah pagi ini, karena takut jadi babu," cibir Aeere menghadang jalan Vanka juga Cia.
"Gue bukan pengecut, yang suka ingkar janji, minggir gue mau ke kelas." Vanka mengibaskan-ngibaskan tangannya.
"Gue akan ngelakuin yang lo, suruh setelah pulang sekolah nanti. Jadi mending lo minggir, gue lagi males ribut pagi ini."
"Nggak bisa! Kok jadi lo yang ngatur sih! Pokoknya lo harus ikutin apa mau gue satu hari ini!"
"Eh! Mak limper, titisan Mak lampir, lo dengarkan tadi apa kata Kak Vanka, kalau gue sama dia nanti akan nurutin lo setelah pulang sekolah. Dia lagi kurang tidur hari ini, lo seharusnya tau kan apa yang akan terjadi kalau mengganggu macan yang kurang tidur."
"Berani-beraninya lo ngatain gue!" Aeere ingin menjambak rambut Cia, namun tangannya dicengkram sangat erat oleh Vanka.
"Kalau tangan lo nggak mau remuk, mending menjauh dari kami, sekali lagi gue bilang gue akan ngelakuin yang lo mau tapi nanti, setelah pulang sekolah." Vanka menghempaskan tangan Aeere lalu meninggalkan gadis yang meringis ke sakitan itu.
"Sial! Lihat saja apa yang akan lo terima nanti," gerutu Aeere menatap kepergian Vanka dan Cia.
Saat kelas tengah berlangsung. Vanka benar-benar tidak fokus mempelajari materi yang diberikan gurunya. Sampai membuat gadis itu mendapat hukuman, karena tidak memperhatikan guru saat menerangkan, malah membenamkan wajahnya di kedua lipatan tangan nya yang berada di atas meja.
Melihat Vanka yang dihukum, Cia pun meminta kepada guru yang mengajar untuk menghukumnya juga, dengan alasan dia juga tidak memperhatikan guru saat mengajar.
Ke dua gadis itu, di berikan hukuman untuk membersihkan taman sekolah, Cia memaksa Vanka beristirahat di uks, sementara dirinya yang menjalankan hukuman.
Cia tidak benar-benar sendiri, menjalankan hukuman itu. Ternyata Hara yang kebetulan mendapat jam kosong menawarkan diri untuk membantunya.
•
•
•
Pagi yang buruk juga dialami Galent, setelah mencari hampir semalam suntuk. Tapi masih belum berhasil menemukan bayinya.
Sampai di kantor, dengan langkah panjang juga tatapan bak elang yang ingin mencabik-cabik mangsanya. Tanpa menghiraukan pegawai yang menyapa nya dia terus berjalan memasuki ruangannya.
Tidak lama setelah itu. Max pun meminta izin masuk ke ruangannya.
"Maaf Tuan, saya ingin memberi detail laporang yang kemarin malam. Pencucian uang yang dilakukan Tuan X, Menyebabkan pembangunan proyek kita terkendala."
"Jumlah, juga jenis barang yang disuplai tidak sesuai dengan yang tercatat di proposal ini Tuan, pekerja konstruksi tidak mau melanjutkan pekerjaannya. Karena kelak akan membahayakan konsumen yang menghuni apartemen yang akan kita bangun," Papar Max sudah siap menerima amukan dari Tuannya itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi! Apa yang kaul kerjakan bisa sampai kecolongan seperti ini!"
Max pun menjelaskan jika ada beberapa pihak yang memanipulasi data utuk melakukan kecurangan ini.
Saat Galent tengah gusar, mengenai masalah perusahaannya. Mama Nuri datang ke kantor, setelah mendengar cucunya hilang.
"Apa yang terjadi Ga, sampai cucu Mama bisa hilang, kan sudah Mama bilang kemarin menginap di rumah saja tapi kamu ngeyel."
"Sekarang Meira hilang, cari dia sampai ketemu Ga." Mama Nuri mulai menangis memikirkan apakah cucunya dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.
Tangis Mamanya itu semakin membuat kacau pikiran Galent. Dia mencoba menenangkan wanita paruh baya itu, berjanji akan segera menemukan bayinya.
Setelah Mama Nuri merasa lebih baik, Galent meminta Max mengantar wanita paruh baya itu pulang. Sementara dia kembali mencoba mencari solusi untuk memperbaiki masalah yang terjadi dengan proyeknya.
Mengumpulkan para pimpinan divisi, mengadakan meeting darurat.