Rumah sakit

1510 Kata
*** Ponsel di nakas samping ranjang berbunyi nyaring membuat Jacky terusik dan dengan terpaksa membuka matanya, meraba-raba mencari letak ponsel itu. Matanya menyipit karena terkena cahaya dari ponsel, Tertera nama ‘SARAH’ di layar tipis itu. Dengan kening berkerut dia menerima panggilan telepon dengan sedikit beringsut. “Iya.. Hallo.” Ucap Jacky. “Hallo, Ky. Bisa jemput aku nggak ?” ucap Sarah di sebrang telepon. “Sekarang.? Tanya Jacky. “Iya. Bisa kan.?” Ucap Sarah. “Emang, kamu dimana ?” tanya Jacky berusaha bangun dari tidurannya dan bersandar di papan ranjangnya. “Dirumah sakit R, mama masuk rumah sakit.” Jawab Sarah menahan tangis. “Ok, 20 menit lagi aku nyampe.” Tuutt.. Mematikan sambungan telepon dan berlalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan bersiap ke rumah sakit. Ya, setelah kejadian malam itu, Sarah mengungkapkan niatnya untuk membantu Jacky melupakan Syana. Sarah juga mengatakan jika selama ini dia suka dengan Jacky. Dan dia juga menceritakan alasan dia tiba-tiba pindah ke London beberapa bulan yang lalu. Meskipun sempat kaget dengan pernyataan Sarah, Namun Jacky tak bisa menolak bantuan Sarah untuk bisa melupakan Syana. Jacky memutuskan untuk membuka hati untuk Sarah, meskipun dia ragu jika hal tersebut hanya akan membuat sakit hati Sarah. Mencoba bersikap layaknya sepasang kekasih untuk menunjukkan jika dia sudah benar-benar melupakan Syana. Meskipun hatinya masih enggan menghapus jejak Syana, tapi mendengar cerita Sarah tentang hubungan Syana dan Gibran yang seperti bukan hubungan sepupu membuat Jacky bersikeras agar bisa membenci keduanya. “Mau kemana, Ky.?” Tanya Sonya yang melihat Jacky turun tangga dengan pakaian rapi. “Jemput Sarah di rumah sakit.” Jawab Jacky dingin. “Loh, Sarah kenapa?” tanya Sonya sedikit khawatir. Sebab selama ini Sarah yang selalu menemani Jacky disaat Jacky tengah terpuruk karena putus dengan Syana. Membuat hubungan keduanya semakin terjalin baik. Sonya dan Tino sendiri lebih sering dirumah, karena tak mau anaknya semakin jauh dari dekapan mereka karena pengaruh dunia luar. “Mamanya masuk rumah sakit. Jacky berangkat dulu.” Ucap Jacky dan berlalu meninggalkan Sonya yang hanya bisa menghela nafas panjang. Sangat sulit untuk mengembalikan kepercayaan Jacky, kekecewaan dan patah hati membuat hati Jacky dingin ke siapa pun. Hanya dengan Sarah dia sedikit hangat. 20 menit kemudian Jacky sampai di parkiran rumah sakit yang di maksud Sarah. Bergegas dia masuk dan mencari kamar mamanya Sarah. Matanya menyipit saat menangkap sosok Sarah yang duduk termenung di kursi tunggu depan ICU. Perlahan dia mendekat dan duduk di samping Sarah. Sarah yang melamun sama sekali tidak menyadari kedatangan Jacky, membuat kening Jacky berkerut dan menepuk pelan bahu Sarah. “Ehh..” ucap Sarah kaget. “Kamu kenapa.? Habis nangis ?” tanya Jacky melihat mata sembab Sarah. Membuat tangis Sarah pecah seketika. Jecky yang bingung hanya bisa memeluk Sarah dan mengusap pelan punggung gadis yang selama ini selalu ada buat dia. “Hiks... mama, Ky. Hiks.. hiks.. hiks..” ucap Sarah di sela tanginya. “Tenangin diri kamu, dan cerita pelan-pelan.” Ucap Jacky lembut. Menit berlalu tangis Sarah mulai reda meskipun sesekali masih terdengar isakan. Melepaskan pelukannya dan mengelap air mata serta ingus dengan sapu tangan yang disodorkan oleh Jacky. “Sudah tenang.?” Tanya Jacky mengusap bahu Sarah. Sarah mendongak dan menganggukkan kepalanya. “Mama di vonis sakit kanker rahim stadium lanjut. Umur mama nggak akan lama lagi, Ky. Aku takut. Aku nggak mau kehilangan mama. Aku sudah kehilangan keutuhan keluarga dan nggak mau kehilangan lagi.” Ucap Sarah menahan tangisnya agar tak pecah kembali. Hati Jacky terasa tercubit melihat keadaan Sarah saat ini, gadis yang selama ini terlihat tegar dan selalu ceria ternyata banyak beban yang dia pikul. Tak tega melihat kesedihan Sarah, Jacky kembali membawa gadis itu ke dalam pelukannya memberi kekuatan dan rasa nyaman. “Sudah, jangan sedih.. ada aku yang akan jagain kamu.” Ucap Jacky tulus. Sarah yang memang mengharapkan perhatian dari Jacky pun tersenyum bahagia dengan air mata yang terus menetes. Mengangguk dan membalas pelukan Jacky dengan erat. Berharap rasa cintanya ke Jacky benar-benar bisa terbalas. “Kamu sudah makan?” tanya Jacky lembut di jawab gelengan kepala Sarah. “Kita cari makan dulu ya.” Ajak Jacky mengendurkan pelukannya. “Tapi mama ? aku nggak tega ninggalin mama.” Ucap Sarah lirih. “Kita cari makan di kantin rumah sakit aja.” Usul Jacku di angguki Sarah. “Yuk.” Jacky pun menggenggam tangan Sarah dan berjalan beriringan menuju kantin. Senyum bahagia terukir manis di bibir Sarah saat ini. Sungguh dia sangat bahagia, karena disaat dia berada di titik terlemahnya ada yang masih perhatian kepadanya. Bahkan orang itu orang yang sangat dia harapkan selama ini. Dia yakin apapun itu jika kita terus mau berusaha, suatu saat akan tercapai juga. Sesampainya di kantin, Jacky langsung memesan makan untuk mereka berdua yang kebetulan Jacky juga belum makan sejak tadi pagi. Dua porsi nasi goreng dan 2 gelas jus alpukat menjadi menu makan siang mereka. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan makanan tersebut, karena pikiran Sarah terus tertuju ke mamanya yang terbaring lemah di ICU. “Sudah.?” Tanya Jacky. “Sudah.” Jawab Sarah tersenyum. “Yuk.” mereka pun kembali ke kamar dimana mama Sarah di rawat. Saat sampai di lorong tak jauh dari ruangan mamanya, mata Sarah memanas saat pandangannya menangkap keberadaan papanya yang selama ini dia rindukan. Sebab, meskipun kedua orang tuanya berpisah tapi rasa sayang Sarah masih sama, masih berharap agar kedua orang tuanya kembali bersatu. “Papa..” lirih Sarah dan melangkah pelan mendekati sang papa yang sedang duduk termenung di kursi sendirian. “Pa..” ucap Sarah saat sampai di depan papanya. Membuat Robi mendongak dan tersenyum melihat anak gadisnya yang dia rindukan kini tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Bukan karena dia tak mau menemui Sarah, namun Rita yang tak pernah mengizinkannya menemui Sarah. Sebab semenjak mereka berpisah Rita benar-benar melarang Robi ketemu Sarah. Berdiri merentangkan kedua tangannya dengan senyum menahan air mata. Sarah dengan tangis harunya langsung berhambur memeluk pria paruh baya itu dengan air mata yang tertahankan. “Hiks.. Sarah kangen pa. Hiks.. “ ucap Sarah di tengah tangisnya. “Maafin papa nak. Papa baru bisa temui kamu sekarang.” Ucap Robi menyesal. “Hiks.. hiks.. hiks..” Sungguh perih rasanya mendengar tangis anak semata wayangnya itu. Seandainya dulu dia terus terang tentang hubungannya dengan sekretarisnya itu. Mungkin semua tidak akan seperti ini. Beberapa menit kemudian Sarah melepas pelukannya dan mendongak menatap wajah tampan papanya yang sama dihiasi oleh air mata. “Mama pa.” ucap Sarah menahan tangisnya. “Iya sayang. Papa sudah menemui mamamu.” jawab Robi. “Apa papa mau kembali sama mama. Tiap hari mama menangis pa, mama masih sangat mencintai papa.” Jelas Sarah semakin membuat rasa bersalah dihati Robi membesar. “Apa papa benar-benar sudah tidak mencintai mama.?” Tanya Sarah. Memilih untuk duduk di kursi yang tersedia disitu dan menyandarkan tubuhnya dengan kasar lalu menghela nafas panjang. Sarah pun ikut duduk disamping papanya dan Jacky duduk di samping Sarah. “Papa sayang sama mama, tapi tidak mungkin bisa bersatu lagi nak. Mama kecewa dengan papa. Mama benci dengan papa. Semua salah papa, seharusnya papa jujur sejak awal. Mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini.” Ucap Robi menyesali perbuatan dimasa lalunya. “Maksud papa .?” tanya Sarah penasaran. “huuuffftt.... dulu sebenarnya papa tidak pernah berselingkuh dengan sekretaris papa yang bernama Hana itu. Waktu itu dia sedang bertengkar hebat dengan suaminya yang tempramental, tidak jarang dia berangkat ke kantor dengan luka lebam di bagian wajahnya. Awalnya papa bersikap nggak peduli namun semakin hari semakin banyak lukanya. Sampai akhirnya papa memintanya untuk bercerita. Dia bilang kalau suaminya selingkuh karena dia tidak bisa memberinya keturunan sebab dia punya sakit kanker rahim stadium akhir.” Ucap Robi. “Papa yang memang tau jika dia wanita baik-baik berniat menyemangatinya, namun mama kamu salah faham saat tak sengaja melihat papa membantu Hana yang hampir pingsan karena rasa sakit akibat penyakitnya. Mama kamu marah besar dan meminta pisah. Papa sudah mencoba untuk menjelaskan namun tak pernah di dengarkan. Dan dengan terpaksa papa mengabulkan permintaan mama kamu, sebab jika papa tidak menurutinya, mamamu mengancam akan bunuh diri dari pada di duakan.” Jelas Robi membongkar semuanya. “Lalu sekarang dimana sekretaris papa itu.?” Tanya Sarah membuat Robi menghela nafas berat. “Dia sudah meninggal 2 bulan setelah papa sama mama bercerai.” Jawab Robi. Mendengar jawaban Robi membuat Sarah menutup mulutnya karena syok. Sungguh tak pernah menyangka jika kejadian sebenarnya seperti itu. Dan tanpa mereka sadari ada hati yang menahan sakit mendengar penjelasan Robi tentang masalalunya. Dengan mulut bergetar menahan tangis penyesalan dan hati yang benar-benar hancur setelah tahu kebenarannya, membuat dia limbung dan terjatuh. Bruukk... Mendengar kegaduhan membuat Sarah, Robi dan Jacky langsung menoleh ke sumber suara. Mata mereka melotot saat melihat Rita pingsan di depan pintu. “Mama.!” Pekik Sarah. “Rita.” Ucap Robi. Segera Robi mendekat dan membawanya kembali masuk. Merebahkan tubuh ringkih itu perlahan. Menatap wajah pucat itu dengan mata mengembun menahan air mata yang mendesak keluar. Rindu, ingin sekali memeluknya. Dan menceritakan semuanya. Namun dia sadar, dia bukan siapa-siapa nya lagi. Tok..tok..tok.. “Permisi...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN