Perubahan Jacky

1106 Kata
Sesuai permintaan mama Suci, kini Syana dan Gibran tengah di perjalanan menuju rumah Gibran. Sebenarnya Syana enggan pergi karena dia tidak bisa tidur selain dirumahnya., makanya setiap orang tuanya pergi keluar kota ataupun keluar negri Syana tidak pernah ikut. Dia memilih dirumah dengan bibi. “Udah kali ngambeknya. Nggak ingat kata bunda tadi? Rumah gue kan rumah loe juga.” Ucap Gibran karena Syana masih manyun. “Aku beneran nggak bisa kalau nginep, Bran. Please! Ntar pulang kerumah bunda ya?” pinta Syana memelas dengan tak sadar memegang tangan Gibran, namun segera dia tarik saat Gibran melirik tangan dan dirinya bergantian. “Kan ada gue” “Tetep nggak bisa, aku nggak bisa tidur selain dikamar aku.” “Ntar gue kelonin deh, di jamin tidur loe bakal nyenyak” goda Gibran dengan menaik turunkan alisnya. Membuat Syana tambah manyun. “Iiihh....” memilih memandang keluar jendela dengan wajah di tekuk, membuat Gibran menghela nafas panjang. Tak ingin membuat Syana tambah marah, Gibran memilih diam dan fokus nyetir. Hingga tak terasa kini mereka sudah sampai di depan rumah Gibran. Menoleh ke arah Syana yang ternyata tertidur. “Lah.. tadi katanya nggak bisa tidur kalo nggak di kamarnya sendiri.” gumam Gibran geleng-geleng kepala dengan sikap Syana. “Na, bangun. Udah nyampe nih.” Ucap Gibran menepuk pelan bahu Syana. Tapi sama sekali tak ada pergerakan dari Syana. Karena tak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya, Gibran memilih untuk menggendongnya. Di depan rumah mama Suci sudah menunggu dengan senyum merekah melihat anak dan menantunya datang. Matanya menyipit saat melihat Gibran menggendong Syana. “Assalamualaikum” salam Gibran “Waalaikumsalam, ini Syana kenapa ?” tanya mama Suci khawatir. “Nggak papa ma, dia kecapekan mungkin. Terus ketiduran di mobil, udah coba Gibran bangunin tapi nggak mau bangun.” Jawab Gibran. “Yaudah bawa ke kamar kamu aja. Biar istirahat dulu, nanti kita makan malam bersama.” Ucap mama Suci. Mengangguk kemudian berlalu meninggalkan mama Suci yang tengah tersenyum menatap anaknya yang sudah berstatus menjadi suami dari seorang gadis yang dari dulu dia idam-idamkan jadi menantunya. Sejak kecil mereka memang sudah dekat, dan kedua orang tuanya juga sudah mengenal satu sama lain. Jadi sudah tidak diragukan lagi bibit, bebet, bobotnya. Di dalam kamar, Gibran merebahkan tubuh Syana perlahan di atas ranjang king sizenya. Menatap wajah damai yang sangat menyejukkan mata jika dipandang. Mengelus pipi putih mulus itu penuh sayang, perlahan mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Syana dengan mesra. “Aku akan selalu berusaha buat bikin kamu bahagia.” Gumam Gibran kemudian ikut merebahkan tubuhnya disamping Syana, Menyelimuti tubuh mereka dan menyusul Syana ke alam mimpi. **** Ditempat lain, Perubahan perilaku Jacky yang kembali seperti dulu membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk pulang, setelah urusan pekerjaan di Singapura selesai. Ya, mereka sempat kecewa saat diberi kabar oleh ARTnya yang menemani Jacky di Jakarta, jika Jacky kembali seperti dulu, mabuk, balapan bahkan membawa teman perempuannya menginap dirumah. Padahal, semenjak dia menjalin hubungan dengan Syana, Jacky berubah menjadi sosok yang baik, menjauh dari alkohol, dan tak lagi balapan, membuat kedua orang tuanya senang dan bisa lebih tenang dsaat harus meninggalkan Jacky untuk mengurus perusahaan yang ada di Singapura. “Jacky mana bik.” Tanya Sonya. “Den Jacky ada di kamar, Bu. Beberapa hari ini dia tampak tak peduli dengan sekitar. Setiap hari mabuk dan pulang selalu bersama teman perempuannya.” Jelas Bi Rumi menunduk takut. Membuat Sonya menghela nafas panjang sambil memijit kepalanya. “Apa bibi tau kenapa Jacky kembali seperti ini?” tanya Sonya menjatuhkan patatnya ke sofa depan teve. “Maaf, bu. Kalau bibi nggak salah dengar. Den Jacky putus dengan non Syana karena memergoki non Syana jalan dengan sepupunya di mall, padahal sebelumnya den Jacky sudah mengajaknya jalan dan ditolak sama non Syana karena ada acara dengan keluarga.” Jelas bi Rumi. “Apa mungkin Syana selingkuh.?” Tanya Tino. “Mama yakin, Syana nggak mungkin seperti itu pa, kita kenal Syana sudah lama, Dia Gadis yang baik.” Ucap Sonya mengutarakan pendapatnya. “Lalu, teman perempuan yang sering kesini siapa bi ? bukan perempuan malam kan ?” tanya Tino, khawatir jika anaknya semakin jauh ke dunia malam dan alkohol. “Bukan, pak. Yang sering mengantar den Jacky itu non Sarah.” Jawab bi Rumi. “Sarah?” gumam Sonya. “Apa mungkin Sarah anaknya tuan Robi yang pernah tinggal di sekitar kompleks sini beberapa tahun lalu pa?” Tanya Sonya pada suaminya. “Maaf, bu. Iya benar, non Sarah temannya den Jacky dan non Syana yang dulu sering main kesini.” Sahut bi Rumi. Membuat kening Sonya dan Tino berkerut. Setahu mereka Sarah pindah ke luar negri beberapa tahun yang lalu karena ingin tinggal dengan neneknya dan Sarah juga termasuk anak yang baik meskipun dia korban perceraian kedua orang tuanya. “Ya sudah. Bibi lanjutkan pekerjaan bibi, terima kasih atas infonya.” Ucap Tino ramah. “Baik tuan. Saya permisi.” Pamit bi Rumi dan berlalu dari hadapan kedua majikannya. Hening. Pasangan paruh baya itu pun hanyut dalam pikiran masing-masing. Dulu sebelum Jacky berpacaran dengan Syana, dia menjadi anak yang susah di atur, tiap hari mabuk, dan merokok. Bahkan sudah beberapa kali dia keluar masuk kantor polisi karena terjaring razia balap liar. Tiap hari bertengkar dengan kedua orang tuanya. Hingga suatu hari Jacky mengajak Syana ke rumah dan memberi tahu keluarganya kalau mereka berdua sudah berpacaran. Dan sejak itu Jacky berubah jadi anak yang nurut, jauh dari alkohol, bahkan selalu menolak saat ada teman yang mengajaknya balapan. Tapi, kini kebiasaan buruk itu kembali melekat pada diri Jacky setelah dia putus dengan Syana. Tap..tap..tap.. Lamunan mereka buyar saat mendengar langkah kaki menuruni tangga. Menoleh, disana Jacky dengan pakaian serba hitam menyerupai anak p**k menuruni tangga tanpa peduli jika kedua orang tuanya pulang. “Mau kemana kamu, Ky?” tanya Sonya berdiri mendekati anaknya. Jacky yang hampir mencapai pintu pun berhenti. “Main” jawab Jacky tanpa menatap orang tuanya dan kembali melangkahkan kakinya. “Tunggu.” Cegah Tino ikut mendekat. Menghela nafas panjang menatap penampilan Jacky kali ini. Sungguh beda jauh dengan sebelum dia berangkat ke Singapur 3 bulan yang lalu. “Bisa kita bicara sebentar?” tanya Tino penepuk pelan pundak Jacky. “Aku sibuk. Lain kali aja.” Jawab Jacky dan pergi dari hadapan kedua orang tuanya tanpa peduli teriakan sang mama. “Gue tahu mama sama papa pasti akan bahas soal Syana. Dan Gue nggak mau ingat perempuan itu lagi.” Gumam Jacky kemudian menyalakan motor sportnya dan meninggalkan halaman rumahnya, menaiki motornya dengan kecepatan diatas rata-rata tanpa peduli makian pengendara yang lain, karena hampir tabrakan. dan malam itu Jacky menghabiskan malam di area balap tanpa peduli kedua orang tuanya yang terus mengkhawatirkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN