Hari pertama

1663 Kata
Penyesalan dan dendam yang terus membesar membuat hari-hari Jacky semakin kacau. Sudah beberapa hari dia tidak masuk sekolah, memilih menyalurkan emosinya ke botol-botol di depannya. Mabuk itulah jalan akhir yang selalu Jacky pilih saat pikirannya kacau seperti ini. “Ky, sampai kapan kamu kaya gini. Percuma kamu menyesali yang udah terjadi, buang-buang waktu.” Ucap Sarah yang selalu ada buat Jacky. “Gue nggak tau, Sar. Gue masih sayang sama Syana. Gue nyesel udah nyakitin dia.” Jawab Jacky lesu. “Emang dengan kamu kaya gini, semua bakalan kembali seperti semula. Toh, belum tentu dia mikirin kamu. Kenapa kamu nggak coba lupain dia aja sih.” Ucap Sarah tak tahan dengan sikap Jacky yang keras kepala. Diam, membenarkan kata-kata Sarah. Ya, dia harus bangkit, dia harus bisa melupakan Syana dan menjalani hidupnya dengan orang yang sesuai dengan keinginannya. Menit kemudian Jacky menatap Sarah yang selalu ada buatnya. “Bantu gue buat lupain Syana.” Ucap Jacky dan perlahan mereka menyatukan bibir. Perasaan yang kian menggebu membuat kedua insan yang tengah sama-sama mengalami patah hati tersebut melupakan setatus mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Melewati batas-batas normal dalam pergaulan. Sama-sama mencari jalan untuk meluapkan emosi yang membara dalam hati. ***** Kring... Alarm menunjukkan pukul 04:20 berbunyi nyaring membuat sepasang mengantin baru menggeliat pelan mencari posisi ternyaman hingga tak sadar saling memeluk tanpa merasa terganggu sedikitpun. Menit kemudian Syana yang merasa ada yang aneh. Membuka mata dan terkejut saat yang dia peluk bukan guling tapi manusia, perlahan dia mendongak dan.. “Aaaa...” teriak Syana membuat Gibran kaget, menatap Syana yang menutup wajah dengan kedua tangannya. “Loe kenapa sih teriak-teriak.?” Tanya Gibran. “Kamu ngapain di kamar ku.?” Tanya Syana tanpa membuka tangannya. “Makanya buka dulu tangannya, biar ingat.” Ucap Gibran sambil meraih tangan Syana dan membukanya. “Nih.” Tunjuk Gibran pada kedua cincin yang terpasang dijari Syana dan Gibran. Membuat Syana ingat jika mereka sudah menikah. “Sudah ingat.?” Tanya Gibran di angguki Syana. “Yaudah, buruan siap-siap kita sholat subuh berjamaah.” Ucap Gibran lalu berlalu ke kemar mandi. Meninggalkan Syana yang masih mengontrol degup jantungnya. ‘Astagaa.. jantungku..’ batin Syana sambil memegangi dadanya. Tanpa dia sadari Gibran pun melakukan hal yang sama. Gibran memilih segera pergi dari hadapan Syana karena tak tahan dengan jantungnya yang mau copot. ‘huuuuhh... bisa mati muda gue kalau gini terus. Ini baru hari pertama gimana hari-hari berikutnya’ batin Gibran mengelus dadanya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam, malam pertamanya setelah resmi menjadi suami Syana dan tinggal dalam satu rumah bahkan satu kamar. Sungguh hal yang tak pernah terbayangkan oleh Gibran. Apalagi tiap hari disuguhi pemandangan yang ..... aaahhh sudahlah... Tok.. tok.. tok.. Ketukan dari luar dan teriakkan Syana membuyarkan lamunan Gibran dan menyelamatkannya dari pikiran m***mnya. “Gibran kamu ngapain sih, lama banget.?” Ucap Syana dibalik pintu. Gibran gelagapan, segera ambil air wudlu dan keluar dari kamar mandi. “Lama banget sih, kaya cewek aja.” Sungut Syana saat Gibran keluar. “Bawel.” Jawab Gibran sambil mengacak rambut Syana dengan senyum manisnya. Membuat pipi Syana merona. “Ciiee..pipinya melah melah.” Goda Gibran mencolek pipi merah jambu Syana. “Ìiiihhh... ngeselin.” Ucap Syana menepis tangan Gibran dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Beberapa menit kemudian Syana keluar, matanya menangkap sosok cowok tampan yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya, memakai baju koko dan sarung tak lupa peci hitam yang menutupi rambut hitam lebatnya. Tersenyum, bahagia banget akhirnya dia benar-benar merasakan bahagia setelah berpisah lama. Mereka menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah dengan khusyuk. Selesai salam Syana meminta tangan Gibran dan menciumnya kemudian dibalas Gibran dengan mencium kening Syana. Karena masih ada waktu untuk belajar, sepasang suami istri muda itu memilih untuk belajar sejenak sebelum berangkat sekolah. Hari ini adalah hari pertama ujian dan semalam mereka tak sempat belajar karena terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing yang masih belum nyambung tapi disambung-sambungkan. Flashback On, Syana yang lupa dengan setatus nya yang sudah menikah. Dan tidak lagi sendirian di dalam kamar pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan tangtop dan hotpants setengah paha dengan handuk kecil membungkus rambut basahnya membuat leher jenjang putih mulus itu terekspos. Berjalan santai ke depan cermin tanpa menyadari ada yang panas dingin di atas ranjang. Beberapa menit kemudian Syana baru menyadari kalau dia tak sendirian di kamar itu saat pandangannya tak sengaja menatap bayangan yang berjalan mendekatinya. Bayangan itu terus mendekatinya dan tiba-tiba... “Aaaaaaaa...” teriak Syana dengan memejamkan kedua matanya kaget saat ada sesuatu yang menyentuh kedua bahunya. “Sengaja pakek gituan ? mentang-mentang udah sah.?” Bisik Gibran di samping telinga Syana membuat bulu kuduk Syana meremang dan pipi merona. “Tunggu ya, gue mandi dulu.” Sambung Gibran dan mencuri ciuman di pipi kanan Syana kemudian berlari ke kamar mandi. “Gibraaann.!” Pekik Syana setelah sadar tengah di kerjain Gibran. Di susul suara tawa lepas Gibran dari dalam kamar mandi. Detik kemudian Syana melihat ada sebuah jas yang menutupi kedua bahunya. Ya, Gibran memang menutupi tubuh Syana yang terbuka dengan jas yang tadi dia pakai saat acara ijab qobul. Aroma maskulin menguar ke indra penciuman membuat Syana tersenyum bahagia. Ternyata meskipun Gibran sudah menjadi suaminya tapi dia tetap menjaga dan menghormatinya sebagai wanita. ‘Kamu nggak pernah berubah.’ Batin Syana. 20 menit kemudian Gibran baru keluar dari kamar mandi. Baru kali ini dia menghabiskan waktu yang lumayan lama, apa lagi kalo bukan gara -gara Syana yang berpakaian seperti tadi membuat Gibran harus berendam lebih lama. Gibran keluar sudah memakai celana pendek dan kaos singlet menampakkan tubuh atletisnya. Matanya memicing saat pandangannya menangkap Syana yang tengah menyelimuti tubuhnya sampai kepala. Senyum jahil Gibral muncul seketika, perlahan dia mendekat dan naik ke ranjang. Ikut masuk ke slimut dan.. “Aaaa...” pekik Syana saat tiba-tiba Gibran memeluknya dari belakang. “Ssssttt.... udah malem jangan teriak-teriak. Atau gue bikin loe nggak tidur sampai pagi.” Ucap Gibran tanpa melepas pelukannya, membuat Syana membeku. Dan itu disadari oleh Gibran. ‘Ini baru permulaan sayang. Salah siapa bangunin anaconda yang hibernasi.’ Batin Gibran tersenyum dan mempererat pelukaannya. Akhirnya dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan mereka tertidur dengan posisi Gibran memeluk Syana dan Syana memeluk Guling kesayangannya. Menit kemudian terdengar dengkuran halus dari arah belakang membuat Syana bisa menghela nafas lega. Mencoba memejamkan mata dan menyusul Gibran ke alam mimpi dengan senyum yang tak pernah pudar. Flashback Off. Pukul 06.30 Syana dan Gibran telah rapi dengan seragamnya siap untuk berangkat kesekolah. Beriringan menuruni tangga menuju ruang makan yang sudah ramai dengan gelak tawa anggota keluarga yang lain. “Ini dia pengantin barunya.” Ucap Suci saat melihat kedatangan anak dan menantunya. “Loh, mama kok udah disini.” Tanya Gibran sambil mencium tangan mamanya diikuti Syana. “Lah, dari semalam mama disini kali. Kamunya aja yang terlalu asik sendiri sampai nggak tahu kalo mama sama papa nginep disini.” Ucap Suci menaik turunkan alisnya membuat sepasang pengantin baru itu salah tingkah. Membuat semua yang ada di sana terkikik geli. “Udah ma, jangan digodain mulu. Kasian mereka.” Lerai Riko menyelamatkan kedua bintang utama itu. Kini mereka menikmati sarapan yang telah dimasak oleh mama Suci dan bunda Rahma. Sengaja turun tangan untuk memasak menu sarapan pagi ini, sebagai tanda saling menerima satu sama lain dan mengakrabkan hubungan mereka. Mama Suci yang spesial memasak untuk Syana. Dan bunda Rahma yang juga memasak untuk Gibran. Dua keluarga yang saling mendukung dan saling menyayangi menjadi landasan keharmonisan sebuah hubungan. Karena pernikahan itu bukan sekedar saling cinta dan saling menerima antar dua kepala tapi menyatukan dua keluarga yang beda prinsip dan beda pandangan. Selesai sarapan Gibran dan Syana pamit berangkat sekolah, disusul papa Riko dan ayah Heri yang memilih mengendarai satu mobil sebab tujuan mereka sama. Sedangkan Raffa dan Rizal memilih untuk naik sepeda motor. “Astaga..” pekik Syana saat membuka ponsel nya, mengagetkan Gibran. “Kenapa, Na ?.” tanya Gibran. “I-inii... dari kemaren Esti sama Vino hubungi aku. Gimana dong ? ntar kalo mereka tanya aku harus jawab apa?” tanya Syana bingung. “Gue udah bilang ke mereka.” Ucap Gibran santai. “Bilang apa ?!” tanya Syana. “Bilang kalau kemaren kita nikah.” Jawab Gibran acuh tanpa menatap Syana. “APAAA.!!” Pekik Syana membuat Gibran reflek menutup telinganya yang berdengung. “Ssstt... loe bisa nggak sih nggak usah pakek teriak-teriak. Bisa pecah telinga gue.” Ucap Gibran sambil mengusap telinganya. “Kamu beneran bilang ke mereka kalo kita nikah.?” Tanya Syana memastikan, sungguh takut jika hal itu sampai terjadi. Apalagi kedua temannya itu super crewet dan kepo tingkat provinsi. “Hn..” Ucap Gibran sambil mematikan mesin mobilnya. Dan bersiap untuk turun tapi di cegah Syana. Mendongak menatap Syana yang matanya mulai berkaca-kaca. Detik kemudian tawa Gibran pecah.. “Hahahah... gua bercanda kali, Na. Ya kali gue bilang kalo udah merried sama aja bunuh diri dong.” Ucap Gibran di tengah tawanya. Membuat kedua mata Syana melotot. “Jadi kamu bohong ?” “Yaaaa.. “ “Iiihhh... ngeseliinn..” ucap Syana sambil memukul Gibran dengan gulungan kertas yang di pegangnya, tapi tangannya langsung dipegang oleh Gibran. “Tapi sayang kan ?.” Goda Gibran menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil. “Nggaakk..!” elak Syana. “Tapi kok pipinya merah .?” sahut Gibran menunjuk pipi Syana membuat semburat pink itu semakin jelas. “Iihh..Gib---.” Cup .. Ucap Syana terpotong saat tiba-tiba Gibran mengecup pipi kanannya dan keluar meninggalkan Syana yang masih terkejut. “GIBRAAN..!” “Hahahaha....” tawa Gibran pecah mendengar pekikan Syana dari dalam mobil. Detik kemudian dia merasakan cubitan di lengan kirinya. “Aww..” “Sukurin.!” Sinis Syana dan berlalu meninggalkan Gibran yang masih menahan tawanya. ‘setidaknya loe sudah bisa melupakan kedua sahabat b******k loe.’ Batin Gibran tersenyum menatap Syana yang semakin jauh. Tanpa mereka sadari kejadian itu terekam jelas oleh sepasang mata yang menatap mereka tajam dengan kedua tangan mengepal kuat. “Tunggu pembalasan gue.” Gumamnya dan pergi dari tempat tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN