Aku lebih banyak diam saat Rangga mengantarku pulang kerumah. Aku menghindari bertatap mata dengannya dan kepalaku terasa pusing. Semua kenyataan yang baru saja aku terima membuatku tidak bisa berpikir. "Ta.. aku balik minggu depan. Boleh aku ajak Ganta nginep di tempatku?" Aku hanya mengangguk tanpa ingin bicara lagi. Aku menyuruh bu Mina menyiapkan baju Ganta. Saat mereka pergi aku kembali menangis. Merebahkan tubuhku di ranjang entah berapa lama saat aku mendengar ketukan bu Mina disetiap jam makan yang tidak aku hiraukan. Hatiku hancur, aku harusnya siap menghadapi ini tapi tetap rasanya sulit. Hari senin saat aku bekerja aku tidak fokus, tubuhku meriang dan aku merasa pusing. Liam mengajakku makan siang di ruangannya. Aku tahu dia merasakan perubahanku. "Ta, what's wrong?" "Gap

