Mataku sembab pagi ini. Semalam aku menangis entah sampai jam berapa. Ingin rasanya membolos kerja tapi ada rapat penting hari ini. Kalau saja bukan aku sebagai penanggung jawabnya aku akan ijin hari ini. Toh ini hari jumat. Biar ku bablaskan liburku. Aku beringsut ke kamar mandi, tubuhku rasanya letih. Tapi segera ku luruhkan kemalasanku dengan dinginnya air. Aku sedikit menebalkan bedak diarea mataku agar kantung panda disekitarnya tidak terlalu kentara. Aku segera berpakaian dan memakai sepatu kerjaku.
Saat membuka pintu, aku melihat cowok menyebalkan yang semalam entah kemana menunggu didepan pagar sambil tersenyum. Aku pura-pura tidak melihatnya. Terus berjalan kearah luar.
"Pagi Cinta.. hei..." Aldrich mengejarku sambil terus berusaha menahan lenganku. Tapi aku menepisnya dan terus berjalan.
"Babe please, aku bisa jelasin soal kemarin"
"Gak butuh!" Aku mempercepat langkahku saat keluar dari gang tapi kemudian cowok itu menarik tanganku ke arah mobilnya.
"Aku mau berangkat sendiri!"
"Ta, jangan gitu donk Ta.. kita berangkat bareng seperti biasa ya.."
"Gak!" Jawabku setengah berteriak.
Orang-orang disekitarku mulai memperhatikan kami. Aldrich menatapku sambil memohon. "Please Ta.. aku disangka penjahat nih..".
Aku melirik sekitarku, adegan kami jadi tontonan. Aku menghembuskan napas kesal lalu masuk kedalam mobilnya. Aldrich tersenyum sambil manggut-manggut ke orang-orang lalu masuk dan melajukan mobilnya.
Aku diam, sambil melipat tangan dan terus menatap kesamping kaca. Sedetikpun aku belum menoleh ke cowok disebelahku.
"Ta, udah makan?"
Aku tetap diam. Rasa kecewa masih bersarang di hatiku. Aku tidak akan mudah luluh, batinku.
"Sory ya Ta, kemaren mendadak aku ada perlu jadi gak keburu pulang ngerayain ultah kamu."
Aku menahan airmataku yang sudah menggenang. Aku tetap terdiam walau Aldrich terus meminta maaf disepanjang perjalanan menuju kantor. Aku langsung keluar begitu kami tiba. Aldrich mengejarku tapi tertahan saat atasan kami memanggilnya.
Sepanjang hari itu aku terus menghindari, walau saat makan siang cowok itu sudah memesankan makanan kesukaanku tapi aku tidak tergoda. Tidak semudah itu, Ferguso...
"Ta, masih marah sama Aldrich? Dia pasti punya alesan Ta." Pingkan memperhatikan sikapku yang cenderung diam dan tidak fokus hari ini. Benar apa katanya, pasti Aldrich punya alasan.
Aku menghembuskan napas panjang. "Gak tau deh Ping, bingung gw.."
"Dengerin aja dulu apa penjelasannya. Biar sama-sama plong."
Aku cuma mengangguk. Saat jam pulang aku melonggarkan sikap kerasku. Aku tidak menolak saat dia mengantarku pulang.
"Kamu punya kesempatan untuk jelasin ke aku dari sekarang ampe nyampe ke gang kosku." Aku masih memasang wajah datar.
"Sorry ya Ta, kemarin aku tiba-tiba ngilang. Aku tau aku salah, harusnya aku ngabarin kamu. Tapi aku mau kasih suprise sama kamu. Tapi ternyata gak keburu. Pas aku sampe kata pak Roni kamu udah pulang setengah jam sebelumnya. Kamu pasti marah, dan aku gak enak kalau nyamperin kamu ke kosan malem-malem gitu."
"Kamu tuh gak bisa dihubungi tau gak? Aku terima alasan apapun tapi kenapa kamu susah ditelpnya? Kamu tuh kemana? Ama siapa?"
"Tapi kamu jangan marah ya..?"
Aku menatapnya penasaran. "Tergantung." Jawabku.
"Ya udah, kita ke apartemenku ya."
"Ngapain? Aku gak mau!!"
"Alasanku ada disana. Kalo kamu gak kesana kamu gak akan tau apa alesanku." Dia memohon dengan matanya. Aku memalingkan muka, berusaha tidak terbujuk tatapan memelasnya. Tapi aku penasaran.
"Sepuluh menit. Abis itu aku pulang!"Aldrich nyengir lalu memutar arah. Membelah jalanan menuju rumahnya.
Empat puluh menit kemudian kami sampai. Aku menduga-duga, apa jangan-jangan dia bawa cewek lain. Hatiku sedikit gelisah, kalau bener aku harus gimana? Aku meremas kedua tanganku. Menolak saat cowok itu ingin menggenggamnya.
Aldrich hanya memegang pinggangku saat menyuruhku masuk kedalam rumahnya. Aku celingak-celinguk mencari yang tidak biasa didalam sana. Tapi semuanya terlihat normal, tidak ada yang berubah. Cowok itu berjalan ke arah kulkas lalu mengeluarkan kotak besar dari sana dan meletakkannya dimeja.
Aku menatapanya penuh tanya. "Buka aja" sahutnya menjawab.
Aku duduk di sofa dan membuka kotak itu. Seketika aku menutup mulutku dengan tangan.
"Ini...."
Aldrich tersenyum sambil duduk disebelahku. "Chelsea yang buat."
Aku menahan napasku. "Chelsea? Tapi.. gimana..." Aku membuka mulutku lebar-lebar. "Jadi kemarin..."
Cowok itu mengangguk. Aku tidak lagi dapat menahan rasa haruku. Aku langsung berhambur ke dadanya dan menangis. Ternyata kemarin dia pergi ke Cikarang hanya untuk mengambil hadiah Chelsea untukku. Kemarin adikku itu telepon dan bilang akan kasih kejutan, tapi aku terlalu dilingkupi rasa kecewa pada Aldrich sehingga tidak menghiraukan kata-kata adik kecilku itu. Ya Tuhan, aku merasa bersalah.
Aldrich memelukku, sambil terus mengelus kepala dan pundakku, aku mulai sedikit tenang. Aku mengambil ponselku dan menelepon adikku.
"Kakak... gimana suka gak sama kue ulangtahun buatanku? Maaf ya jelek kak.."
Aku menahan tangis. "Suka Dek, enak donatnya. Makasih ya sayang. Kenapa gak bilang mau bikin, kan kakak bisa pulang..."
"Hehe. Aku cerita sama kak Aldrich, terus Kak Aldrich bilang kakak lagi sibuk jadi kak Aldrich mau ambilin deh kejutanku buat kakak. Aku seneng kalau kakak suka. Maaf ya kak aku gak bisa beliin, aku belum punya uang."
"Gapapa sayang. Kakak seneng banget. Nanti kalau kerjaan kakak santai kakak pulang ya. Makasih ya dek..."
Aku mengakhiri teleponku lalu kembali memeluk cowok itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Ternyata dia rela capek-capek pulang kerja pergi ke rumahku demi memenuhi permintaan adikku.
"Udah jangan nangis lagi ah. Jelek tuh.." cibirnya membuatku tertawa tersendat.
"Maaf ya Al, aku udah nuduh kamu. Aku pikir kamu pergi dengan temen club atau macem-macem."
"Macem-macem sama cewek lain gitu? Kamu aja belum aku apa-apain... aww!" Aku mencubit perutnya. Kami tertawa bersama. Kedua tangannya menghapus airmata di wajahku.
"Kita rayain sekarang ya ultahnya" aku mengangguk. Aldrich memasangkan lilin kecil di donut itu, aku berdoa kemudian meniup lilinnya. Aldrich tepuk tangan dan menyuapkan donut itu ke mulutku dan mulutnya sendiri.
"Hmm, enak.. bisaan nih Chelsea.." aku setuju dengan perkataannya, adikku itu sudah jago membuat kue.
"Nah sekarang..." Aldrich menarikku ke arah balkon dan membuka pintunya. Kami keluar merasakan sejuknya udara malam itu dan indahnya lampu-lampu kota Jakarta. "Wait here..." cowok itu beranjak masuk kedalam. Aku terdiam menatap kembali kedepan dan tersenyum, ternyata ulangtahunku tahun ini sangat berkesan. Aldrich jauh-jauh memenuhi permintaan adikku membuatku terharu. Membuat aku semakin sayang padanya.
Tidak lama ada gerakan samar tangannya melingkarkan sesuatu ke leherku. Aku terkesiap dan menoleh, mataku reflek memandang ke arah d**a.
Sebuah kalung dengan liontin simpel terlihat sangat cantik. Aku menganga saat menatap wajahnya yang tersenyum puas saat melihat leherku.
"Happy Birthday Cinta." Aldrich tersenyum tulus, senyum yang aku sukai. Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih ditelinganya. Cowok itu memelukku erat. Kemudian kami saling memandang, Aldrich menciumku. Ciuman sayang yang lembut. Aku menyambutnya, menelengkan kepalaku agar ciuman kami semakin dalam. Aku bahagia, sangat amat bahagia.
Aldrich mendorongku hingga menempel dengan tembok pembatas balkon. Ciumannya berubah intens dan b*******h. Aku membalas sama bernapsunya. Lidah kami berdua mulai bergabung. Tangannya mengelus punggung hingga bokongku, meremasnya sekilas. Aku terkesiap merasakan sesuatu yang keras menempel diperut bawahku.
Cowok itu melepaskan pagutannya. Kami menatap, napas kami beradu. Padahal kami ada diluar ruangan tapi seolah oksigen terbatas untuk kami hirup.
"Nginep disini ya Ta" suaranya berubah parau. Tubuhku meremang saat belaian tangannya beranjak ke pinggang ke bagian samping payudaraku lalu turun kembali ke pinggang.
Aku mengangguk. Dia kembali tersenyum senang. Aldrich menarikku masuk dan mengunci pintu balkon.
"Aku mandi dulu ya...". Aku langsung beranjak ke kamar mandi. Jantungku berdegup kencang.
Aku baru pertama kali menginap ditempat laki-laki. Oh my God.. apa yang akan terjadi malam ini? Aku gemetar saat melakukan kegiatan mandi yang biasa aku lakukan, tapi sekarang menjadi kikuk saat aku menyabuni tubuhku. Aku membasahi rambutku dan menuangkan sampo sambil melamun, sehingga aku kaget saat melihat banyaknya cairan yang aku tuang. Kamar mandi itu penuh dengan busa. Setengah jam kemudian baru aku menyelesaikan acara mandiku.
Aku memakai handuk yang sebelumnya sudah Aldrich serahkan sebelum aku masuk, tapi tidak dengan baju dan pakaian dalamku. Aku mengintip keluar, melihat Aldrich telah menyiapkan sepasang kaos dan celana pendeknya. Aku memakai bra tadi, sebenarnya tidak nyaman karena sudah kupakai seharian, tapi daripada tidak pakai. Tapi celana dalamku tidak kupakai, aku tidak nyaman jika harus menggunakannya kembali. Tadi sudah sempat kucuci sebelum selesai mandi.
Tidak lama Aldrich masuk dan tertegun melihatku, rambutku tergerai basah. Kaosnya yang sedikit kebesaran, sedikit, karena tubuh kami tidak terlalu berbeda ukurannya, dan celana jogingnya yang menggantung di atas lulutku, memperlihatkan setengah pahaku.
Cowok itu menatapku dan meneguk salivanya. Aku melihat jakunnya naik turun. Kami berdua menjadi canggung. Aku menunduk sambil meremas tanganku.
"Mm, aku mandi dulu" Aku hanya mengangguk sebagai balasan, lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Aku baru sadar bahwa celana dalamku tergantung di tempat handuk yang menempel ke tembok. Aku lupa membawanya keluar, aku mengetuk pintunya.
Aldrich membuka pintu, mataku membulat saat melihat dia sudah membuka baju dan celananya, hanya menggunakan boxernya saja. Aku membuang muka, panas wajahku mulai terasa sampai ke ubun-ubun.
"Kenapa?"
"Mm, itu... mmm.. digantungan..."
Aldrich menoleh ke arah gantungan, lalu terdiam. "Gapapa biarin aja..". Cowok iu menutup pintu.
Aku berbalik dan menjatuhkan tubuhku di pinggir ranjang. Aku menutup wajahku, pasti sudah seperti udang rebus sekarang. Aku diam menoleh ke ranjang kingsize dikamar ini. Aku menelan salivaku susah payah, apa yang akan kami lalui malam ini...
Aku diam, mendengarkan Aldrich mandi tapi tidak mendengar suara apa-apa. Baru lima menit kemudian terdengar suara air, entah apa yang ada dipikirannya saat melihat celana dalam hitam berenda itu. Oh astaga, aku malu.
Lebih baik aku beranjak keluar menyiapkan makan malam sebelum pikiranku melantur kemana-mana.
*_*_*_*_*_*_*_*_*CUT*_*_*_*_*_*_*_*_*