"Eh, Mas. K-kapan sampai?" Mei langsung tergagap, menghampiri Zaka yang tengah memandang kaget keduanya. Didu juga tak kalah kaget, segera pura-pura merapikan mangkuk bekas makan Mei barusan. Zaka bergeming, tak menyahuti Mei. Namun matanya tertuju pada Didu. "Permisi, Pak. Saya mau kembali ke pantry," ucap Didu pelan, sambil menunduk. Satu tangan memegang alat pel, satunya lagi membawa mangkuk Mei tadi. "Tunggu, saya belum selesai denganmu!" telunjuk Zaka menahan d**a Didu, saat akan melewatinya. Wajah Didu menengang takut. "Sssstt...aahh." Mei mendesis. Kedua lelaki itu menoleh. "Kenapa, Ma?" tanya Zaka dengan wajah khawatir. "Perut Mama sakit, Pa," rengek Mei, berakting sangat meyakinkan. Didu pun khawatir, namun Mei segera mengedipkan matanya, memberi kode pada Didu, agar segera

