Semenjak malam itu, Glass seperti menghindari Bening. Tak ada lagi usapan di perut seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur. Hingga hari turnamen basket Glass tiba. Pemuda itu sudah bersiap sejak pagi, dia bangun dan meregangkan tubuh di teras yang menghadap langsung ke gedung-gedung di sekeliling apartemen Bening. Bening yang baru bangun tidur pun hanya bisa melihat punggung suaminya. Ia yang berniat mengambil air minum terpaku beberapa detik untuk melihat pemandangan yang menurutnya begitu menyejukkan mata. “Apa dia anak Bu Fitria? Kenapa bisa posturnya seperti blasteran? Apa mungkin suami Bu Fitria warga negara asing?” gumam Bening, dia masih memerhatikan Glass sampai pemuda itu menoleh. Bening pun berpaling lalu berjalan sambil menggaruk p****t, berpura-pura bahwa dia tidak me

