Glass menunduk tapi tidak dengan Bening yang merasa tidak salah sama sekali di depan kedua orangtuanya. Bersandar pada kursi meja makan, Rea memijat kening, untung dia tidak memiliki penyakit darah tinggi atau jantung, begitu juga dengan Arkan yang sejak tadi hanya bisa diam memandangi wajah berdosa menantu dan wajah tak berdosa putrinya. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Arkan dengan suara lembut. “Kalau kamu memang mencintai pria lain, tidak perlu sampai berbohong, katakan pada mamamu kamu tidak menyukai Rain, selesai Be!” “Masalahnya aku sudah bilang ke mama tapi mama seperti tidak peduli,” jawab Bening. Kini Rea menjadi pusat perhatian Arkan dan Glass. Mereka menatap ke arah wanita itu dengan tanda tanya besar di kepala, menunggu respon Rea atas pernyataan Bening barusan. “Ma

