Glass mengangguk, dengan langkah berat dia berjalan di belakang Bening menuju kamar gadis itu. Melihat tidak ada koper di sana Glass pun iseng bertanya. “Apa kamu sudah biasa ke sini sampai tidak membawa baju?” “Apa?” Bening yang sibuk menurunkan suhu pendingin ruangan pun tahu maksud Glass, dia dengan santai menjawab pertanyaan pria itu. “Aku meninggalkannya di hotel, sebenarnya aku ke sini bersama teman mama, besok pagi aku akan mengantarmu sekaligus menjemput teman mama untuk membawanya ke sini, dia ingin melihat yayasan.” Mendengar Bening menyebut kata ‘mama’ Glass pun bertanya bagaimana kabar Rea dan Arkan. Jujur, dia sangat takut bertemu dengan mantan mertuanya. “Mereka pasti membenciku,” lirih Glass. Bening merasa tak enak hati mendengar ucapan itu. Ia menggeleng untuk m

