“Aline, dia tewas,” ucap Alex di depan Bening yang sedang duduk di kursi selasar depan ruang operasi. Mata gadis itu nampak sembab dan hanya memandang ke arah lantai rumah sakit. “Kalau dia tidak mati, aku pasti akan membunuhnya sendiri,” ucap Bening dengan raut kebencian yang kentara. “Semoga dia masuk neraka j*****m,” geramnya. Namun, setelah berucap Bening menutup muka dengan kedua telapak tangan, pundaknya bergetar hebat, sampai Rea yang sejak tadi sudah datang menemaninya ikut menangis. “Aku tidak bisa hidup lagi tanpa Glass Ma, aku tidak bisa!” Ratapan Bening terdengar memilukan, bersamaan dengan itu Fitria pun datang. Fitria juga ikut sedih, dia sampai bingung saat dikabari oleh Rea tadi hingga datang dengan alas kaki yang berbeda satu sama lain. “Glass, bagaimana keada

