Udara di sekitar kami semakin dingin, ntah karena AC atau karena ekspresi Wikra. Dia melihat kertas itu dan sedikit meremasnya. Pikirannya seperti berada di tempat lain. Mungkin aku mengganggu waktunya, dia adalah orang sibuk yang tidak mau diganggu barang sedetikpun. Pernah dulu dia marah-marah karena aku ke kantor, di depan para sekretaris dan karyawan aku dipermalukan lewat makian. Sebagai istri Wikra, aku seperti tidak punya harga diri. Pernikahan tidak setara memang sulit. Banyak ketidak cocokan di antara kami. Dari mulai pendidikan hingga harta. "Cepat tanda tangani kalau kamu setuju," kataku. Tidak ingin membuang waktunya lebih lama. Takut dia mengamuk. "Atau ada yang ingin kamu tambahin?" Isi perjanjian itu sepenuhnya menguntungkannya, malah terlihat ganjil karena aku seperti

