ISI BUKU

1010 Kata
Mulut Arka menganga lebar ketika sudah tiba di kamar Nina, hari ini dia memutuskan kabur dari rumah setelah dikirimi koper oleh Ayu. Masalahnya si nenek berkali-kali datang ke rumah membawa siapa tuh namanya. Arka serius membaca sekaligus mendalami isi buku. "Pantas saja dia tiba-tiba begitu, ternyata tokoh prianya seperti ini. Ck, yang benar aja kali kabur begitu saja demi wanita." Nina yang sedari tadi belajar di meja belajar, memutar kursi dan menatap kesal Arka. "Bisa nggak sih diem?" Arka melirik sekilas Nina lalu memunggungi istri dajjal itu, ceritanya hari ini dia mau ngambek. Nina mengangkat kedua bahu dengan santai lalu kembali fokus belajar. Kedua mata Arka mengerjap ketika sudah masuk adegan hot, dia membacanya sampai habis. "Nin," panggilnya setelah merenung. "Apa?" "Ini adegan kita semalam kan?" Nina berlari ke tempat tidur dan berusaha merampas buku di tangan Arka lalu gagal karena tangan sang suami lebih panjang. Arka tertawa geli. "Haduh istriku, sudah berani menyerang suami yaa?" "Yang benar saja!" teriak Nina frustasi. "Aku semakin merinding dengarnya!" "Aku beneran tersinggung sama ucapan kamu, kenapa merinding? Kita sudah menikah." "Hanya di bawah tangan, jadi tidak masalah. Toh kita tidak saling mencintai." Arka menatap dalam Nina lalu memukul kepala istri pelan dengan kepalan tangan. "Tetap saja kita sudah menikah, kamu beneran coba ini?" Nina mengaduh dan mengelus kepalanya yang sakit. "Hanya membayangkan saja, tidak berani mencoba." "He- aku pikir kamu sudah mencobanya dengan pria lain, semalam kamu berani banget dan-" Arka terdiam ketika melihat wajah dingin Nina. Nina menatap Arka. "Beritahu aku, apakah pria suka sekali melakukan hal itu?" "Ya, tentu saja. Kamu juga menikmatinya." "Tapi aku tidak." "Apa?" "Waktu itu kali pertama aku melakukan, selanjutnya mungkin aku bosan." Arka menatap tidak percaya Nina. "Aku hanya mencoba saja, jangan dikaitkan dengan hal romantis." "Kamu tidak menyukaiku?" "Aku tidak suka pria." "Kamu lesbian?" Nina membuka kaki Arka dan duduk di tengahnya, melihat tonjolan di sana. "Lihat, kamu sendiri bernafsu disana ketika membaca novel buatanku." Kedua mata Arka mengerjap tidak mengerti. "Usiaku memang masih belasan tahun tapi aku tidak seperti teman-temanku yang punya cinta menggebu." "Kenapa?" "Aku bicara jujur saja dari awal, mamaku korban pelecehan pria. Dia diperkosa dan dijanjikan pernikahan, setelah memiliki aku dan adik, orang itu kabur memilih wanita lain, dengan santai membuang kami begitu saja. Menurutmu, apakah aku akan puas dengan seks?" "Itu-" "Hubungan kita sangat dangkal, sedangkal yang kita lakukan semalam lalu dengan begitu, kamu ingin menyusup masuk di kehidupanku? Tidak, kamu hanya ingin memanfaatkan aku supaya tidak menjadi pewaris dan kakak kamulah yang harusnya menerima itu." Arka menjatuhkan kepalanya di atas bantal, menutup kedua mata dengan punggung tangan dan tertawa sinis. "Kamu hanya anak kecil, aku berjanji akan memberikan apa pun yang kamu mau, Nina." "Aku menolak, aku bisa mendapat apapun yang aku inginkan." Nina melepas sabuk Arka lalu menurunkan resleting celananya. "Jika aku mengubah cinta dengan seks di dalam pernikahan, maka apa yang akan kamu lakukan?" "Mengikat pernikahan dengan seks?" tanya Nina. "Astaga, aku bahkan belum berusia kepala dua dan sudah ditanyakan pertanyaan itu? Bukankah itu p*****l?" "Aku tidak peduli," gumam Arka lalu memejamkan mata dengan erat ketika Nina mengeluarkan kejantanannya. "Aku benci terikat, ngomong-ngomong aku tidak bisa menggunakan mulut." Arka bangkit dan menarik Nina supaya duduk di dekatnya lalu memeluk tubuh mungil sang istri. "Gunakan tanganmu." Nina mulai menggerakkan tangannya, Arka mencium bibir Nina dan melihat sorot mata dingin Nina. Anak broken home Anak dari korban pelecehan Sangat membenci pria Penulis novel erotis dan tidak merasakan romantisme. Tidak ada nafsu seks sama sekali dan semangat menggebu seperti anak-anak lain di usia sama. Arka mengerutkan kening dan menyentuh kedua pipi Nina supaya bisa semakin intens berciuman sementara kedua tangan mungil semakin bergerak cepat. Napas Arka mulai memburu dan menutup kedua mata Nina dengan tangan kirinya. Nina terkejut dan sontak menghentikan kedua tangannya dengan ketakutan. Arka yang merasakan kecewa karena tiba-tiba sensasi itu menghilang, melihat Nina yang diam tidak bergerak. Arka mengumpat di dalam hati ketika melihat kejantanannya masih berdiri tegak. "Nina?" Nina menjadi panik, kepalanya bergerak ke kanan lalu kiri. "Aku- aku-" Antara masih nafsu dan kesal, Arka mendorong Nina hingga punggung menyentuh tempat tidur. Kedua mata Nina masih ditutup Arka. Nina tidak berani bergerak. Arka duduk paha Nina. "Kamu ingin menyelesaikannya atau aku ke kamar mandi sekarang?" Kedua napas mereka sama-sama memburu. Bedanya Arka penuh dengan nafsu sementara Nina ketakutan. Arka jadi teringat dengan pemerkosaan, mungkin bisa dibilang saat ini dirinya memperkosa istri sendiri? Arka mengumpat dan segera bangkit dari tempat tidur, Nina yang menyadari itu dan matanya yang berusaha adaptasi dengan cahaya lampu kamar, menarik tangan Arka dan mencium telapaknya. Arka menoleh karena terkejut, lebih terkejut lagi ketika melihat mata basah Nina. "Nina?" Nina menatap Arka dengan tatapan penuh marah sekaligus benci. Arka terpana, dia menjadi salah fokus dengan wajah cantik yang marah. "Kamu marah padaku?" "Apakah pernikahan butuh seks?" Arka mulai mengerti sekarang. Ketika ayah kandung Nina memerkosa ibunya, Nina ada di sana. Arka tidak menjawab dan hanya mencium Nina dengan intens, tangan kiri memegang kepala sang istri sementara tangan kanan memegang punggungnya supaya bisa mendekat. Nina yang paham segera melanjutkan pekerjaan apa yang dilakukannya tadi sampai Arka menggeram puas. Hanya itu yang mereka lakukan malam ini. ---- Arka menyandarkan dahinya di atas meja kantor dan menghela napas panjang. Tok! Tok! Arka menegakkan tubuhnya dan terkejut ketika melihat seorang anak perempuan berdiri di depan pintu kantor yang terbuka, tersenyum malu-malu. "Arka." Salamnya. "Aiko, kenapa kamu disini?" "Ah, nenek kamu menyuruh aku datang kesini untuk mengajak makan siang." "Aku bawa bekal." Aiko menatap kecewa Arka. "Tapi, aku sudah datang jauh kesini dan kamu pasti belum makan buatan chef terkenal yang aku bawa ke Indonesia." Arka tidak suka. "Apakah kamu menganggap aku pria penyuka uang?" Aiko menggeleng dan berusaha meluruskan salah paham. "Tidak, aku hanya ingin mengajak kamu saja. Siapa tahu tertarik." "Sayangnya aku tidak tertarik." Tolak Arka. "Aku ada pekerjaan sekarang, jadi kamu bisa keluar sekarang." Aiko duduk di depan meja dan berhadapan dengan Arka. "Aku tidak bisa kembali, kedua orang tuaku pasti akan marah." "Apa?" "Kamu tahu, mereka akan menjodohkan kita berdua. Kenapa kita tidak menurutinya saja?" Arka menatap kesal anak perempuan tidak tahu malu ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN