Nenek dan Aiko sudah pulang sementara Arka duduk berhadapan dengan Arya dan istrinya.
"Kakak."
Arya mengangkat tangan dan menggeleng. "Aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan. Tapi, maaf. Aku tidak tertarik menggantikan posisi ayah."
"Tapi, kak."
"Aku pilot, bukan ahli keuangan seperti kamu- selain itu, aku juga bukan putra sah ayah. Aku hanya anak dari selingkuhan ayah."
Ayu mengeratkan genggamannya di Arka dan menatap sedih Arya. "Tapi kamu tetap anak ibu."
Arya tersenyum sedih. "Aku tahu, terima kasih sudah merawat aku, bu. Tapi memang aku tidak pantas menjadi pengganti ayah, yang dicari nenek juga adalah kamu satu-satunya anak sah ayah. Kita semua tahu bagaimana sifat nenek, bahkan sempat ada isu, beliau rela membuang anak hasil diperkosa. Padahal anak itu juga tidak bersalah."
Arka mengacak rambut dengan kesal. "Tapi pengadilan negara sudah memutuskan kakak adalah anak ibu, kenapa kakak tidak menerimanya saja?"
Arya menatap heran Arka. "Kamu sendiri kenapa tidak mau menerimanya? Bukankah bagus menangani perusahaan besar?"
Arka menatap horor kakaknya. "Kak, kakak sudah gila ya? Mau buat mati adik sendiri? Ayah saja matinya seperti itu, aku tidak mau dibutakan harta."
Arya mendecak. "Kamu itu kalau mau kasih alasan yang masuk akal, tidak ada hubungannya sama ayah."
"Pokoknya aku tidak mau masuk ke sana, mengerikan!" Tegas Arka.
"Jauh lebih mengerikan mana dengan nenek yang suka datang ke rumah dan membuat ibu berlutut di lantai?" tanya Arya. "Arka, apa kamu tidak bisa berkorban sedikit?"
Arka menatap tidak percaya Arya lalu melirik ibunya yang sudah memasang wajah sedih. "Apakah hanya itu solusi yang terbaik bagi kalian?"
"Arya, kamu lebih pan-"
"Kakak, selama ini aku banyak mengalah. Kakak sekolah pilot di saat ibu hanya bisa membayar satu orang saja, aku rela menyerah demi kakak. Aku juga rela dengan mening-" Arka terdiam ketika melihat wajah sedih wanita yang sudah menjadi kakak iparnya.
Arka menghela napas panjang. "Lagipula kakak bisa hidup mewah selamanya jika masuk keluarga sana, aku hanya ingin mengurus dan menemani ibu saat ini."
Wajah Arya memucat. "Ka, tidak bisa begitu. Aku hanya anak haram di keluarga."
"JANGAN MEMANGGIL DIRIMU ANAK HARAM!" bentak Arka. "Apa ibu pernah mengatakan kamu anak haram? Apakah aku pernah mengejek kamu anak haram? Kamu kakakku, anak ibuku!"
Arya terdiam lalu memeluk erat istrinya. "Ma- maaf."
"Tidak ada yang namanya anak haram, hubungan haram memang ada. Yang salah itu ayah kita dan wanita lain, di luar itu- kakak bukan anak haram."
Mika yang sedari tadi diam, angkat bicara. "Arka, jangan begitu. Arya jauh-jauh kesini karena mengkhawatirkan ibu dan kamu."
Mika fasih berbahasa Indonesia karena pernah kuliah dan satu jurusan dengan Arka.
"Kakak ipar." Arka menatap tegas Mika. "Terima kasih sudah bicara mewakilkan kakak, tapi aku jauh lebih menghargai jika kakak yang bicara langsung."
"Arka." Ayu berusaha menenangkan Arka. "Jangan menekan Arya."
Raut wajah Arya berubah sedih.
Arka menjadi kesal. Kakaknya dari dulu adalah pria lemah yang tidak berani mengutarakan pendapatnya, demi sang kakak bisa berubah, dia banyak mengalah tapi tidak disangka sifat itu terbawa sampai sekarang.
Apakah Arka menderita kerugian banyak? Tentu saja! Dia sangat rugi jika menghitungnya.
Ibu mereka berdua pun lebih banyak membela Arya, karena takut posisi yang membuatnya tidak nyaman.
Ternyata yang mereka lakukan selama ini menjadi boomerang, Arya terlalu penakut memutuskan sendiri dan juga terlalu manja. Setelah menikah pun, manja dia sudah berkurang ke ibu dan beralih ke istrinya. Terlihat dari tautan tangan mereka yang tidak lepas meskipun wajah Mika terlihat tidak nyaman.
"Aku tidak mau menjadi pewaris, aku sudah menikah," kata Arka.
Arya dan Mika terkejut lalu menatap Arka tidak percaya.
"Kapan kamu menikah?" tanya Arya.
Arka bisa melihat tatapan getir Mika. "Beberapa hari lalu."
Arya mengucapkan selamat lalu berkata. "Nah, karena kamu sudah menikah- nenek pasti-"
"Arya, aku tidak akan melepas istriku. Masuk ke keluarga itu berarti aku harus menikah dengan salah satu kerabat Fumoshi, sepertinya nenek membutuhkan dana dari mereka lalu mendekatinya secara kekeluargaan."
Arya menggigil ngeri. "Aku- tidak akan pernah melepaskan istriku."
Arka menjadi kesal. Saat ini permasalahan mereka menjadi buntu, tadinya dia menikah supaya bisa lepas dari genggaman nenek, sekarang malah-
Arka mengacak rambutnya dengan kesal lalu bicara ke Arya. "Pokoknya kakak yang menjadi pewaris, titik. Tidak bisa diganggu gugat!" lalu bangkit dan hendak keluar rumah.
Tak disangka ketika membuka pintu, dia melihat Nina berdiri di depan pintu dengan ditemani dua kucing gembul yang menatap dirinya dengan tatapan penasaran.
Arka melotot ngeri melihat sosok Nina di malam hari bersama dua kucing gemuk. "Kamu pasti gendong mereka berdua sampai ke sini, kan?"
Nina tidak membantah. "Ya."
"Ngapain kamu ke sini malam-malam?" tanya Arka.
Setelah melihat cctv diam-diam, entah kenapa Nina memutuskan ingin bertemu dengan nenek tua itu. Dia segera lari dan membawa kedua kucing gembul untuk berjaga-jaga melindunginya.
Rumah Arka dan Nina masih dalam satu kompleks tapi sedikit berbeda. Kompleks A sampai K diisi rumah-rumah besar sementara selanjutnya diisi rumah-rumah satu lantai atau dua lantai type 45 yang sudah dibangun sendiri.
Arka tinggal di blok A sementara Nina tinggal di blok O. Butuh sedikit perjuangan untuk sampai ke rumah keluarga suami apalagi membawa dua kucing yang super duper pemalasnya, alhasil sepanjang jalan terpaksa menggendong mereka.
Ketika diturunkan pun, mereka memilih rebahan di tengah jalan. Nina jadi kesal sendiri, niat hati buat dijadikan penjaga malah dirinya menjadi b***k untuk dua tuan yang manja.
"Kamu sudah bilang mama?" Arka segera membawa masuk Nina ke dalam rumah. "Di jalan kamu lihat mobil mewah beriringan nggak?"
"Sayangnya tidak, tanteee-" Nina segera berlari menghampiri ibu mertua dan memeluknya.
Si dua gembul lari melesat ke dalam rumah, entah kemana.
Ayu terkejut dan tersenyum bahagia. "Nina, kenapa kamu bisa kesini malam-malam? Haduh- Arka ini gimana sih?"
Arya melambaikan tangan dan menyapa Nina. "Hallo, Nin."
Nina terkejut. "Kak Arya kapan pulang?"
Arka mengerutkan kening. "Kamu kenal Arya?"
"Ah, pas kamu kuliah di Jakarta. Aku sering ketemu kak Arya di rumah pas mama ada proyek sama tante Ayu. Ah, apakah ini istri kak Arya? Cantik sekali." Nina menyapa Mika dengan ramah.
Arka memeluk bahu Nina.
Mika menganggukan kepala dan melihat tangan Arka di bahu Nina. "Jadi, kamu istri Arka?"
Nina mengangguk santai. "Ya."
Giliran Arka yang terkejut, dikiranya Nina tidak mau mengakui status baru. Ternyata-
Wajah Arka berbinar geli.
Mika menjadi gelisah.