06.30 WIB
Sekolahan masih sangat sepi. Tidak terlihat satupun siswa-siswi di sana. Ralat, hanya terlihat satu siswi di sana. Sedang duduk sendirian sembari membaca novel favoritennya yang sudah dia ulang berkali-kali. Sabintan Yeselin Henas. Gadis keturunan Indo-Belanda itu sengaja datang sepagi ini ke sekolah, karena berbagai alasan. Salah satunya menghindari pertengkaran antara dirinya dan juga ayahnya. Sendiri di sekolah jauh lebih baik, dari pada harus bertengkar sepagi ini.
Satu yang harus kalian tau tentang Bintan. Sejujurnya dia benci dengan sekolah. Bukan hanya sekolahnya, tapi semua mata pelajaran yang di wajibkan di sekolah ini. Jadi jangan heran kalau namanya selalu berada di urutan kedua dari bawah saat pembacaan ranking. Bintan membenci pelajaran matematika, fisika, kimia, biologi, dan semuanya yang berbau IPA. Tapi dia adalah murid kelas XI IPA-1. Kelas yang bisa di katakan kelasnya anak-anak kutu buku. Bukan dia yang memilih itu. Tapi ayah dan ibunya. Mereka menginginkan Bintan bisa menjadi seorang dokter, yang Bintan sendiri membenci profesi itu.
Tapi ada satu hal yang dia sukai di sekolah ini. Yaitu kelas seni. Dia suka semua jenis seni. Mulai dari menari, melukis, teater dan musik. Dia bisa semua yang berhubungan dengan seni. Maka dari itu dia lebih banyak mengambil kelas seni dalam satu minggu.
Bintan menutup novelnya ketika halaman terkahir novel itu telah selesai dia baca. Keningnya berkerut bingung saat dia menemukan sudah ada banyak siswa-siswi yang berkeliaran. Dia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul tujuh, "Pantas." ujar Bintan sembari bangkit berdiri.
Tetapi belum sampai di melangkah, teriakan seseorang menahannya. Dia berbalik dan mendapati salah satu teman sekelasnya sedang berlari menghampirinya, "Tan, gawat!" ujarnya panik sembari dia mencoba untuk mengatur nafasnya.
"Gawat? gawat apaan?" tanya Bintan penasaran.
"Itu, itu sih,-"
"Loe ngomong yang jelas dong. itu siapa? Apanya yang gawat?"
Perempuan itu menghembuskan nafsnya sejenak sebelum kembali berbicara kepada Bintan, "Pacar loe, sih El, berantam lagi di lapangan."
"WHAT?!"
Tanpa berlama-lama lagi, Bintan segera berlari sekuat tenanga menuju lapangan. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak mendengar kalau El berantam lagi. Ini memang bukan hal yang baru lagi baginya, yang setiap hari harus mendapat kabar bahwa El berantam. Tapi sebagai seorang pacar, Bintan wajar khuatir terhadap El.
Wanita itu menembus kerumunan orang-orang yang tengah memperhatikan pertengkaran antara El dan lawannya. Bintan sedikit kesal melihat orang-orang yang ada di sini. Mereka lebih mau menonton pertontonan kriminal seperti ini, daripada berusaha untuk melerainya.
Bintan mendekap mulutnya saat melihat El sudah babak belur di seluruh wajah dan tangannya. Dengan cepat gadis itu masuk ke tengah-tengah lapangan dan memberhentikan semuanya.
"STOP!!!" teriak Bintan, yang membuat aksi pukul memukul itu terhenti, "Loe berdua gila apa, Ya? Pagi-pagi gini udah berantam! Sok jagoan banget, Sih?" bentak Bintan, yang sebenarnya lebih tertuju pada El, "Dan loe semua juga ngapain betah nonton beginian? Kayak gak punya kerjaan aja. Mendingan loe semua bubar sekarang!" perintah Bintan.
Satu persatu kerumunan itu mulai berkurang hingga tidak terlihat satu orangpun kecuali Bintan dan El yang sekarang sedang diam tanpa berucap sepatah katapun. Bintan dengan kasar menarik tangan El yang langsung terdengar suara ringisan dari El tapi tidak di pedulikan sedikitpun oleh Bintan.
"Sakit tangan gue, Tan!" ringis El saat mereka sudah berada di ruang kesehatan.
Tanpa merespond apapun yang El katakan, Bintan dengan cepat membersihkan luka-luka yang ada di wajah dan tangan El dengan teliti. Bahkan membersihkan luka El sudah seperti makanan bagi Bintan.
Perempuan itu tidak sedikitpun menatap El. Masih jelas di ingatannya bagaimana cara El mencium dan menyentuh wanita lain semalam. Menatap El hanya akan membuatnya menangis, dan Bintan tidak mau itu terjadi.
Setelah dia selesai mengobati luka pacarnya itu, Bintan segera bersiap-siap untuk keluar ruangan. Namun di detik yang sama El menahan pergelangan tangannya. Dia melihat sosok Bintan yang berbeda hari ini, "Loe kenapa? Marah sama gue?" tanyanya to the point.
Bukannyannya menjawab, Bintan malah melepaskan cekalan tangan El dengan kasar. Di dalam hati sebenarnya Bintan takut kalau El akan marah. Mengingat kalau laki-laki di depannya ini adalah laki-laki tempramental. Dengan cepat Bintan berbalik berniat untuk keluar. Namun lagi dan lagi El menahannya.
"Gue gak suka kalau pertanyaan gue gak di jawab!" ucapnya penuh penekanan, "Dan gue tau loe tau itu."
Jantung Bintan berdetag cepat mendengar suara mematikan dari El. Dia memajamkan matanya saat dia merasakan sakit luar biasa dari daerah pergelangan tangannya yang kini sedang di cekal El sangat kuat. Sebenarnya detik ini juga dia ingin menangis. Namun itu tidak akan pernah terjadi, mengingat siapa orang yang sedang ada di haapannya saat ini. Sedetikpun Bintan tidak pernah memperlihatkan air matanya di depan El. Dia tidak suka El melihatnya menangis.
"Gue gak papa," dan itu terdengar seperti kebohongan yang memang sengaja Bintan lakukan, "Gue harus balik ke kelas. Gue banyak tugas." dan Bintan bersyukur karena akhirnya dia bisa melepaskan cekalan tangan El.
******
Setelah mengantarkan beberapa tugas keseniannya, Bintan segera menyusul Bella ke kantin. Tadi dia sudah berjanji kepada sahabatnya itu akan menyusulnya ke kantin, walau sebenarnya dia benar-benar malas ke tempat berjuta manusia itu. Dia lebih suka pergi ke aula untuk bermain alat musik atau apapun itu. Tapi karena ini berhubung janji, mau tidak mau dia harus menepatinya.
Setelah cukup lelah berolahraga mata mencari keberadaan Bella, akhirnya dia menemukan perempuan itu di salah satu meja yang berada di tengah-tengah kantin bersama dengan salah satu sahabatnya yang lain.
"Loe udah pesan?" tanya Bintan sembari duduk di hapan Bella di samping Karin.
"Itu lagi di pesanin sama pacar Karin. Ya sekali-kali Aldo jadi pelayan gak papalah." jawab Bella enteng. Sedangkan Karin yang di sebelah Bintan hanya bisa menggeleng. Sebenarnya Aldo paling tidak suka di suruh-suruh. Tapi karena Bella mengatakan kalau semua itu perintah dari Karin, jadi mau tidak mau Aldo menurutinya, "Tapi btw gue gak ada mesanin punya loe, Tan. Lupa gue."
"Ya udah gak papa. Gue bisa pesan sendiri nanti." ucap Bintan sembari mengechek handphoennya yang sedari tadi sudah penuh dengan notifikasi.
Tidak begitu lama, Aldo datang dengan nampan yang berisis berbagi pesanan yang tadi di pesankan kepadanya, "Ini untuk terakhirnya gue mesanin punya loe ya, Bel. Jerah gue sumpah. Udah ngantrinya panjang kayak rel kreta api, panas, bau. Gue mah ogah untuk kedua kalinya." protes Aldo sembari meletakkan nampun itu dengan kasar.
Ketiga wanita itu tertawa. Ralat, hanya Karin dan Bella. Bintan lebih kepada tersenyum tipis, "Ini pelajaran buat loe biar loe tau rasanya kalau di suruh-suruh orang itu kayak mana." sindir Bella.
"Udah ah, gue mau balik ke teman-teman gue lagi." Aldo segera kembali ke meja yang di sana sudah berisi teman-temannya, dan salah satunya adalah El.
Aldo adalah sahabat El. Laki-laki sejenis El, yang bad boy, suka clubbing, senang bertengkar, bulan-bulanan guru BP. Tapi setidaknya dia bukan El yang suka bermain-main dengan wanita lain. Dia menghargai Karin sebagai pacarnya.
Bersamaan dengan baliknya Aldo, Bintan melirik El yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Tiba-tiba saja hati Bintan seperti tertusuk saat melihat seorang cewek datang menghampiri El dan langsung bermanja-manja di lengan El. Bahkan sebagai pacarnya sendiri, Bintan sama sekali tidak pernah berbuat seperti yang cewek itu perbuat. Cewek yang sama dengan cewek semalam bersama dengan El. Daniella Putri Wisky. Perempuan kelas XII-IPA 3 yang juga sekelas dengan El.
Bintan memejamkan matanya sejenak. Dia tidak mau kecemburuannya ini mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkannya terjadi. Lagi-lagi dia selalu berfikir ini hanyalah hal yang biasa. Yang dia lakukan hanya menutup matanya dari semua yang di lihatnya antara El dan Daniella.
Tapi sikap sok kuat Bintan tidak bisa di tutupinya dari kedua sahabatnya itu. Karin dan Bella saling tatap saat mereka mengetahui apa yang tiba-tiba saja membuat wajah Bintan berubah drastis. Sebagai sahabat, Karin sudah sering menyuruh pacarnya-- Aldo, untuk menasehati El agar tidak menyakiti perasaan Bintan. Tapi balik lagi ke sikap El yang keras kepala dan tidak suka di atur.
"Tan--"
"Gue balik ke kelas dulu, Ya? Gue lupa kalau tugas matematika gue belum siap." alibinya. Tapi Karin dan Bella tetap tahu kalau Bintan hanya mengindar dari El dan Daniella.
Bintan bangkit berdiri. Kedua matanya kembali melirik El yang masih bersenang-senang dengan teman-temannya dan juga Daniella. Saat dia berjalan tatapannya dan El bertemu. Bintan berusaha untuk bersikap biasa aja dan kembali berjalan keluar dari kantin. Dadanya sudah sangat sesak. Mungkin sebentar lagi air matanya akan keluar.
"BINTAN!"
Bersamaan dengan panggilan itu air mata Bintan menetes. Dia kenal suara itu. Suara laki-laki yang baru saja membuat dadanya sesak dan hatinya sakit. Sangat sakit. Dengan cepat Bintan menghapus air matanya. Dia segera berhenti tanpa berniat untuk berbalik sedikitpun.
"Apa?" tanya Bintan dengan suaranya yang biasa. Tidak terdengar seperti suara kekecewaan.
El berjalan menghadap Bintan. Laki-laki itu menatap Bintan lama. Tidak ada ekspresi marah atapun kecewa. Hanya datar seperti tidak ada yang terjadi.
"Gue sama Daniella--"
"Gue tau kok loe gak ada apa-apa sama dia." percayalah, mengatakan kalimat pendek itu berhasil membuat Bintan sesak nafas.
"Loe gak marah?"
Bintan tersenyum. Senyum palsu yang selalu dia tunjukkan ketika hatinya sedang menangis, "Ngapain gue marah? Bukannya itu udah biasa gue lihat? Bukan cuma Daniella tapi wanita-wanita lain," Bintan berharap agar air matanya tidak keluar, "Loe lakuin aja apa yang membuat loe senang. Selagi gue bukan pacar yang suka ngelarang-ngelarang loe ngelakui apapun."
El terdiam. Dia tahu Bintan berbohong. Dia tahu wanita yang ada di hadapannya ini hanya bersikap sok kuat. Terkadang dia menyesal selalu menyakiti Bintan. Tapi inilah dia. Ini yang dia suka, dan tak seorangpun bisa melarangnya.
Bintan mengangkat tangannya mengelus pipi El lembut, "Gue ke kelas dulu, Ya. Dan good luck buat ujian praktek basket loe hari ini."
Baru berjalan beberapa langkah, pertahanan Bintan runtuh. Air matanya menetes membasahi pipinya. Dia benar-benar kecewa dengan laki-laki yang dia sayang. wanita itu berlari dengan cepat. Tujuannya bukanlah kelas, tapi aula. Ruangan sepi dan tenang yang bisa menyembuhkan perasaannya, mungkin.
Loe nyakiti gue, El. Tapi kenapa gue masih bisa sabar dan bertahan sama loe? Kenapa semakin sering loe nyakiti gue, justru gue semakin takut kehilangan loe.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH. I HOPE YOU LIKE IT!