Fenny memandangi pintu itu, pintu yang tadinya digunakan pengawal untuk masuk. Ia lupa tadi tak sempat menanyakannya tentang siapa pengirim surat itu. Setidaknya ia sempat mengamati wajah pengawal itu, seorang yang bertubuh biasa, tidak besar layaknya pengawal pada umumnya. Dan juga ia cukup tampan daripada dibilang sangar. Ia lebih cocok jadi pegawai kantoran atau model daripada pengawal, tampilannya sangat rapi. Tak lama seseorang memutar kenop pintu. Ken yang masuk cukup terkejut melihat Fenny yang memandanginya tajam. “Kamu kenapa?”, tanya Ken heran. Ia masih belum beranjak dari pintu. “Hm? Aku hanya sedang mengingat sesuatu”, Fenny mengalihkan pandangannya dan kembali menghadap Joshua yang berada di sampingnya. Ken menutup pintu kemudian berjalan mendekati Fenny. “Ini minum unt

