Perjodohan

1264 Kata
Fenny POV Kami saling menatap untuk beberapa detik. Aku masih belum bisa percaya, bagaimana keluarga kami bisa saling mengenal? Takdir macam apa ini? “Kamu..”, ucapku memecah keheningan. “Loh..Fenny udah kenal ya sama Aldy?”. Tanya seorang wanita yang duduk di depan ibuku. Aku mengernyitkan keningku heran. “Aldy?” “Iya. Memang kamu kenalnya nama dia siapa?”, tanya ayah. “Pak Rey” “Pak Rey?? Kalian kerja di satu perusahaan?”, tanya teman ayah. “Nggak yah. Dia karyawannya temen aku”. Jelas Pak Dika yang sekarang sudah duduk manis di depanku. Dan semua orang yang ada di meja ini hanya ber “oh” ria. Aku masih menatap Pak Rey dengan tajam. Sedangkan dia justru menatapku dengan dingin. “Baiklah, karena semua sudah disini mari kita membahas tentang perjodohan mereka”. Ayahku berbicara serius. “Tunggu. Perjodohan apa? Siapa?”. Pertanyaanku tadi membuat semua orang yang ada di meja ini menatapku. “Begini sayang..ini tentang perjodohanmu dengan Aldy”. Ayah menjelaskan padaku dengan begitu lembut. “Tapi ayah, kenapa?” “Ini adalah janji yang kami buat dulu semasa kuliah. Jika kami memiliki anak dengan jenis kelamin yang berbeda, maka kami akan menjodohkannya. Semua agar hubungan persahabatan kami semakin erat dan tidak putus”. Jelas teman ayah. Oh iya aku belum tau nama teman ayah. Apa aku pernah melihatnya sebelumnya? Karena wajah itu terasa begitu kukenal. “Fenny?”. Ibu menyentuh lenganku, membuatku menatap ibu penuh tanya. “Ada apa?”, tanya ibu halus. “Ibu, apa aku mengenal paman itu?”. Sontak semua tertawa mendengar pertanyaanku barusan. Bahkan si Mr. Aneh itu juga, walaupun ia hanya tersenyum. Hey, memang ada yang salah dengan pertanyaanku? Ibu mengelus rambutku. “Sayang, itu Om Surya. Dulu kamu sering banget main sama om. Kamu juga seneng banget waktu om datang, tau nggak kenapa?” “Kenapa?” “Karena om selalu bawa Aldy kesini” WHATT!! Gara-gara orang aneh itu?? Masa’ sih? “Kamu lupa sama Aldy?”. Aku masih menatap ibu dengan bingung sampai ibu menggerakkan tangannya membentuk kotak dan seakan-akan membukanya. “Apa? Buku?”, tanyaku. “Album sayang..tadi sore kan ibu ke kamar kamu lihat album. Ibu ingin lihat wajah Aldy dulu. Maklum kan sudah 17 tahun kita nggak ketemu.” Oh..album tadi ya? Tunggu. Jangan-jangan dia... Aku menatap horor wajah menyeramkan di depanku. Tidak mungkin kan itu dia? “Kamu..kamu...Prince?” Aku melihatnya menyeringai. Berarti itu benar? Dia prince? Flashback Seorang gadis kecil sedang bermain pasir di halaman rumahnya. Rambutnya yang dikucir tengah membuatnya terlihat menggemaskan. “Ayah pulang..” Si gadis kecil tadi langsung menghentikan aktifitasnya dan berlari menyerbu seseorang yang berdiri di depan gerbang. “Ayah..”. si kecil memeluk ayahnya dengan penuh rindu. “Ehem..”. suara itu membuat si kecil menyadari bahwa ayahnya tidak sendiri. “Fenny, ini teman ayah namanya Om Surya dan ini....”, seseorang keluar dari balik badan paman yang tadi baru saja dikenalkan. “....namanya Aldy. Dia akan jadi teman kamu”. Anak laki-laki tadi terlihat ragu untuk bersalaman dengan Fenny. Perlahan ia mengangkat tangannya. “Namaku Aldy..” Tapi bukannya menyambut tangan Aldy, ia justru menariknya dan mengajaknya berlari, kembali ke tempatnya bermain. “Tadi kan udah dikenalin, ngapain kenalan lagi?”, ucap gadis itu. Setiap kali Om Surya datang, Fenny selalu mencari Aldy. Ia merasa sangat senang karena memiliki teman baru. “Oh iya, ambilin itu dong..”. Fenny meminta Aldy untuk mengambilkan sekop mainan yang ada di sampingnya. “Siapa yang kamu suruh?”, tanya Aldy. “Ya kamu!” “Aku? Panggil aku dengan namaku!”. Aldy terlihat kesal karena sejak kemarin Fenny selalu lupa untuk memanggilnya dengan namanya. “Oiya, nama kamu siapa ya?”. Fenny berfikir keras. Ia mengamati segala hal yang ada pada Aldy, sampai ia melihat mahkota kecil yang ia buat tadi dengan beberapa bunga di atas kepala Aldy. “Ah! Karena aku selalu lupa nama kamu. Gimana kalo aku manggil kamu Prince?”. Aldy tampak mengerutkan keningnya. “Prince? Ya sudahlah terserah” Sejak saat itu, Fenny selalu memanggil Aldy “Prince”. Flashback end “Nah Fenny gimana? Apa kamu menyetujui perjodohan ini?”, tanya ayah. Semua orang menatapku, menunggu jawaban dariku. Aku masih belum percaya ini. Bagaimana mungkin, ini terlalu kebetulan namanya. “Fen..” “Ehm..maaf boleh saya bicara empat mata dulu dengan Pak Rey? Eh, maksud saya Aldy”. Ayah tersenyum. “Baiklah, tapi jangan lama-lama ya”. “Iya ayah”. Aku memberi kode pada Pak Rey untuk mengikutiku yang sudah berdiri. Setelah sampai halaman belakang, aku langsung duduk di ayunan yang sering ku tempati. Pak Rey berjalan mendekatiku lalu duduk di ayunan sebelahku. Ia menungguku berbicara. “Maaf sebelumnya. Tapi, aku merasa ini terlalu kebetulan. Kita bertemu secara tidak sengaja, lalu kau membuat masalah denganku. Dan sekarang kita ternyata dijodohkan karena orang tua kita adalah sahabat. Dan satu kenyataan lagi, ternyata kau adalah Prince??” Pak Rey terlihat begitu tenang mendengarkan ocehanku dan itu justru membuatku kesal. “Dan anda! Anda sama sekali tidak tampak terkejut dengan kabar ini!”. Dia menatapku, hanya menatapku. “Kenapa anda menatap saya seperti itu? Saya butuh jawaban, bukan tatapan!”. Ucapku sengit. “Sepertinya baru kali ini kau berbicara seformal ini padakku. Dan ya, aku tidak terkejut karena aku sudah mengetahuinya sebelumnya”. Jelasnya dengan nada yang begitu santai. “Kalau bapak memang sudah mengetahuinya, kenapa bapak tidak memberitahu saya?” “Tadinya aku ingin memberitahumu, tapi bukankah kau sedang pacaran dengan Dika?” Pacaran? Dengan Pak Dika? “Oh, maksud anda makan siang tadi. Jadi itu alasannya kenapa anda mencari saya”. Aku mulai faham. Ah, seandainya tadi aku tidak keluar pasti aku tidak akan seterkejut ini. “Lalu sejak kapan bapak mengetahui bahwa saya adalah teman masa kecil bapak?” “Dari nama lengkapmu tentu saja, Fennyta Nanda. Aku tidak sepertimu yang melupakan namaku begitu mudah”. “Ck. Ish. Iya maaf, itu kan masa lalu. Terus gimana dong tentang perjodohannya?”, tanyaku. Kulihat ia malah tersenyum. “Perasaan tadi kamu ngomongnya formal, tiba-tiba berubah. Oh iya, manggil aku Aldy aja. Nggak enak dengernya kamu manggil aku bapak terus dari tadi..” “Iya deh Aldy. Terus ini gimana?”. Lama-lama aku geregetan sendiri sama orang ini. “Ya gitu aja. Aku sih nggak mau nyakitin hati mereka. Dan aku yakin ini adalah keputusan terbaik untuk mereka menjodohkan kita.” “Jadi maksudnya, kamu nerima?” Ia hanya mengangkat bahunya. “Kamu sendiri gimana?” “Aku nggak tau, ini terlalu tiba-tiba”. “Hey, ayo masuk! Dingin lho diluar!”. Ayah berteriak dari pintu. “Iya ayah!”. Aku langsung berdiri, begitu pula dengan Aldy Begitu kami masuk, semua orang melihat ke arah kami. Aku dan Aldy berjalan menuju meja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Aldy, kamu bagaimana? Kamu setuju kan?”, tanya Om Surya”. “Iya”. Astaga! Dia tenang banget sih jawabnya! “Fenny..” Deg Deg Aku membeku. Apa yang harus kukatakan? “Fenny, kamu bagaimana sayang?”. Kali ini ibu yang bertanya padaku. Deg Apa yang harus ku jawab? Semua orang tampak sangat menanti jawabanku. Haahhh..aku tidak bisa mengatakannya! Akhirnya aku menggerakkan kepalaku pelan, hanya memberi isyarat. Semua orang terdengar seperti sedang menahan nafas. “Fenny, yang jelas. Kamu setuju?”, tanya ibu lagi. Aku menarik nafas panjang sebelum mengucapkan. “Iya”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN